Jumat 17 Januari 2020, 06:10 WIB

OJK Optimistis Stabilitas Stabilitas Sektor Perbankan Terjaga

M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
OJK Optimistis Stabilitas Stabilitas Sektor Perbankan Terjaga

MI/PIUS ERLANGGA
Presiden Joko Widodo (tengah), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso (ketiga kiri), Menkeu Sri Mulyani (ketiga kanan)

 

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat stabilitas industri sektor jasa keuangan pada 2019 terjaga dengan baik disertai dengan pemodalan dan likuiditas memadai dan profil risiko yang terjaga.

Fungsi intermediasi lembaga jasa keuangan juga mengalami moderasi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik. Tercatat kredit perbankan 2019 tumbuh 6,08% di tengah lemahnya permintaan komoditas global.

Pertumbuhan kredit perbankan itu didominasi oleh bank BUKU IV yang tumbuh 7,8% secara tahunan; BUKU III tumbuh 2,4% secara tahunan; BUKU II tumbuh 8,4% secara tahunan dan BUKU I tumbuh 6,4% secara tahunan.

Pertumbuhan kredit tersebut didorong oleh sektor konstruksi yang tumbuh tahunan 14,6% dan rumah tangga yang juga tumbuh 14,6% secara tahunan. Beriringan dengan itu, kredit investasi juga meningkat 13,2% yang mengartikan potensi pertumbuhan sektor riil ke depan.

Sementara profil risiko kredit terjaga dilihat dari Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan yang tercatat 2,5% atau net 1,2%. Capital Adequacy Ratio perbankan mencapai 23,3%, likuiditas LDR 93,6%, Net interest margin tercatat turun menjadi 4,9% dari 5,1% di 2018, dan rerata suku bunga kredit turun dari 10,8% di 2018 menjadi 10,5% di 2019.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, dari data tersebut pihaknya optimistis stabilitas sektor perbankan akan tetap terjaga. "Meski pertumbuhan kredit masih berhati-hati dengan ruang likuiditas yang menyempit namun risiko kredit terjaga dengan baik,” kata Wimboh saat memberikan pidato di acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 yang bertemakan Ekosistem Keuangan Berdaya Saing untuk Pertumbuhan Berkualitas.

Wimboh melanjutkan, industri asuransi mencatat penghimpunan dana yang positif di 2019. Terlihat dari premi asuransi komersial yang mencapai Rp261,6 triliun atau tumbuh 6,1% secara tahunan.

Meski kini industri asuransi tengah menjadi perbincangan karena ada beberapa kasus yang terjadi, Wimboh mengatakan, industri asuransi memang memerlukan perhatian lebih untuk memperbaiki governance.

"OJK telah mencanangkan reformasi industri keuangan nonbank pada 2018. Itu mencakup perbaikan penerapan manajemen risiko, governance yang lebih baik, dan laporan kinerja investasi kepada otoritas dan publik," terangnya.

Selain itu, imbuh Wimboh, OJK telah meminta seluruh direksi lembaga keuangan nonbank untuk segera melihat kembali lebih rinci kinerja perusahaan dan melakukan aksi koreksi yang diperlukan.

Selama 2019, OJK telah melakukan pembatasan penjualan reksa dana tertentu kepada 37 manajer investasi serta memberikan sanksi kepada tiga akuntan publik. Sementara aktivitas penghimpunan dana melalui penawaran umum di pasar modal pada 2019 mencapai Rp166,8 triliun dan 60 emiten baru.

Menyoal kondisi industri jasa keuangan di 2020, Wimboh mengatakan, pelambatan ekonomi dan gejolak geopolitik di sejumlah kawasan masih akan tetap terjadi.

Meski begitu, tuntasnya beberapa proyek infrastruktur strategis yang diikuti dengan konsistensi pemerintah menjalankan reformasi struktural, menurut Wimboh, dapat menjadi sandaran optimisme Indonesia.

Belum lagi terobosan yang dilakukan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui rancangan undang-undang yang menggunakan skema omnibus law.

"OJK optimistis perbaikan pertumbuhan ekonomi dan kinerja sektor jasa keuangan yang positif akan berlanjut di 2020 ini," tutur Wimboh.

Ia menambahkan, kinerja intermediasi perbankan diperkirakan akan tumbuh dikisaran 11% plus 1 dengan tingkat risiko yang tetap terjaga rendah. "Optimisme itu tercermin dalam rencana binis bank 2020 yang menargetkan ekspansi kredit sebesar 10%," jelas Wimboh.

Sementara industri keuangan non bank diperkirakan akan tumbuh moderat sejalan dengan upaya konsolidasi industrinya. Seiring dengan itu, tren dovish bank sentral dunia akan terus berlanjut diikuti dengan likuiditas yang mengalir ke pasar domestik.

Dari perkiraan itu, OJK memprediksi total nilai emisi akan mencapai Rp170 hingga Rp200 triliun dengan tambahan 70 emiten baru. (X-15)

Baca juga: Presiden Minta Lembaga Keuangan Non-Bank Direformasi

Baca juga: Penjamin Polis Disiapkan

Baca juga: Suahasil Nazara Dilantik Jadi Anggota Komisioner OJK Ex-Officio

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More