Senin 13 Januari 2020, 19:00 WIB

Tiap 40 Detik, Satu Orang Tewas Akibat Bunuh Diri

Iis Zatnika | Humaniora
Tiap 40 Detik, Satu Orang Tewas Akibat Bunuh Diri

ANTARA
Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling, Universitas Veteran Bantara Sukoharjo melakukan aksi kampanye pentingnya kesehatan jiwa.

 

"Lu yang jalan-jalan, gue yang iri sampe depresi." "Malam minggu gue sebagai jomblo, terasa sepi sampai bikin depresi! "

Kalimat-kalimat dengan istilah depresi bahkan skizofrenia, kini wara-wiri di media sosial kita. Sebagian netizen menggunakannya buat main-main semata, namun fenomena ini buat Benny Prawira Siauw, Ketua Koordinator Komunitas Into the Light, kumpulan anak-anak muda yang berfokus melakukan rangkaian upaya pencegahan kasus-kasus bunuh diri menjadi penanda positif, masyarakat mulai terbiasa dengan istilah-istilah terkait kesehatan mental.

Agenda berikutnya, memanfaatkan momentum tersebut buat mengedukasi tentang pentingnya upaya mencegah, mengenali juga mengobati gangguan jiwa. Kepada Media Indonesia, di Jakarta, Kamis (9/1), Benny mengurai tentang korelasi media sosial, kesehatan jiwa hingga bunuh diri.

Kendati tak semua kasus bunuh diri, dipicu gangguan jiwa, Benny mengingatkan, orang dengan penyakit mental, baik yang sudah terdeteksi atau belum, memiliki risiko lebih besar melakukan bunuh diri.  "Walaupun tidak selalu orang bunuh diri dipicu oleh gangguan jiwa, bisa jadi pikiran untuk mengakhiri hidup itu muncul karena rasa sakit emosional yang begitu besar serta putus asa. Namun, gangguan mental adalah faktor risiko bunuh diri yang paling harus diwaspadai," ujar Benny.

Benny mengingatkan, di awal tahun, mari mengantisipasi peringatan WHO yang memprediksi pada 2020, depresi akan menjadi masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah permasalahan kardiovaskuler. Bahkan pada sepuluh tahun ke depan, depresi akan menduduki peringkat satu!  

Benny menegaskan, korelasi antara gangguan jiwa dengan aksi bunuh diri sangat kompleks. "Sehingga yang terpenting adalah kondisi jiwa seseorang. Bukan cuma terkait dengan risiko melakukan aksi bunuh diri, namun dampaknya yang bisa berkelanjutan. Sehingga, kondisi kesehatan jiwa juga tak kalah pentingnya dengan upaya kita menjaga kesehatan fisik."

Isu bunuh diri yang terbengkalai
Bergelut dengan upaya pencegahan bunuh diri sejak 2013, Benny mengaku hingga kini perhatian pada isu ini belum optimal. "Salah satu bukti bahwa isu bunuh diri ini belum menjadi perhatian serius adalah belum ada data nasional yang resmi dan terintegrasi antar pemangku kepentingan yang terkait, misalnya kepolisian, Kementerian Sosial serta instansi-instansi lainnya."

Kabar baiknya, lanjut Benny, kesadaran di tingkat akar rumput justru mneingkat. Perbincangan tentang kasus bunuh diri, juga kesehatan mental makin intens dilakukan di ruang-ruang publik, termasuk media sosial.

Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) yang merilis kondisi kesehatan jiwa nasional pada 2010, menunjukkan rata-rata terdapat 4,3 dari 100 ribu penduduk meninggal akibat bunuh diri. Angka itu turun menjadi 4 pada 2015. Terakhir hingga 2018 angka bunuh diri di Indonesia stagnan di angka 3,7. Angka itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-159 dari 183 negara dalam hal jumlah kematian akibat bunuh diri di dunia.

Namun, data itu diperkirakan serupa fenomena gunung es. Kenyataan yang terjadi jauh lebih banyak dari data yang terekam. Salah satunya karena sebagian masyarakat masih menutupi kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan keluarganya karena dianggap aib.

"Sehingga tentunya kita membutuhkan intervensi yang lebih sistemik, perbaiki sistem pencegahan promotif rehabilitatif, layanan, termasuk UU Kesehatan Jiwa yang hingga kini belum terlaksana karena aturan pelaksananya belum ada,"

Masalahnya pada diri kita, bukan media sosial
Sementara, terkait media sosial, yang kini banyak diperbincangkan menjadi pemicu gangguan kesehatan mental, Benny mengklarifikasi. "Kalau dibilang dengan media sosial orang tertekan karena ada tren pamer, perundungan serta fenomena-fenomena lainnya, saya bilang, betul bahwa media sosial membawa perubahan sosial yang masif. Namun, yang perlu kita tekankan, bukan cuma waktu serta konten, semua kembali lagi pada bagaimana kita menggunakannya secara positif, jadi yang salah bukan media sosialnya."

Sehinga, kata Benny, fenomena menggunakan media sosial secara berlebihan serta perasaan tertekan akibat isi media sosial, sesungguhnya berpangkal pada diri kita pribadi. "Catatan kami, hal yang paling harus kita waspadai adalah kecenderungan untuk membanding-bandingkan diri, yang paling rentan muncul ketika melihat media sosial orang lain. Karena, kita melihatnya seakan-akan yang dimunculkan adalah kehidupan sesuangguhnya, padahal di balik itu kita tidak pernah tahu yang sesungguhnya," ujar Benny.

Benny mengingatkan, di balik kemilau penampilan atau pencapaian orang lain di media sosial, sesungguhnya ada kegagalan serta proses yang terjadi di baliknya. "Sayangnya, kebiasaan membanding-bandingkan, itu telah menjadi bagian dari budaya kita, diterapkan orangtua, masyarakat, yang sebenarnya sangat tidak baik bagi proses membangun jiwa yang sehat."  

Yuk cari tahu tentang bunuh diri lebih lanjut!
-
Kesehatan jiwa merupakan kunci penting dalam isu bunuh diri.
- 804.000 orang per tahun meninggal akibat bunuh diri (WHO, 2014). Ini artinya sama dengan satu orang yang meninggal setiap 40 detik.
- Angka percobaan bunuh diri diprediksi sejumlah 20-25 kali lipat dari jumlah kematian akibat bunuh diri.
- Angka bunuh diri yang lebih tinggi ditemukan di negara berkembang dan dunia ketiga. Namun, bunuh diri ditemukan secara hampir merata dalam semua rentang status ekonomi.
- Setiap kematian bunuh diri dapat berdampak kepada orang lain, di antaranya keluarga dan kerabatteman di sekolah/kuliah, kenalan di tempat kerja atau komunitas, hingga saksi mata, hingga mencapai 135 orang. Kisah dalam novel dan film Norwegian Wood karya sastrawan Haruki Murakami mengisahkan tentang besarnya dampak ini pada seorang pemuda.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More