Selasa 14 Januari 2020, 11:05 WIB

Social Emotional Learning Tingkatkan Prestasi Siswa di Sekolah

Deri Dahuri | Humaniora
Social Emotional Learning Tingkatkan Prestasi Siswa di Sekolah

Istimewa
SD Muhammadiyah Sidoarum di Yogyakarta menerapkan Gerakan Sekolah Menyenangkan dengan metode Social Emotional Learning.

 

PEMBATASAN  interaksi sosial yang terjadi di sekolah yang menganut paradigma lama membuat interaksi sosial siswa melemah. Siswa menjadi kurang mempunyai kompetensi secara sosial-emosional yang berakibat pada kinerja akademik mereka.

Padahal, penguasaan kompetensi sosial-emosional sangat erat hubungannya dengan kesejahteraan dan kinerja sekolah yang lebih baik sedangkan kegagalan untuk mencapai kompetensi di bidang ini dapat menyebabkan berbagai kesulitan pribadi, sosial, dan akademik di sekolah.

“Sekolah itu seharusnya membangun kemandirian berpikir dan kemerdekaan moral. Pendidikan umumnya cenderung mematikan kreativitas anak. Seharusnya, sekolah justru membangun nalar dan mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sekitarnya,” ujar Muhammad Nur Rizal, penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan yang juga menjadi dosen Universitas Gadjah Mada itu.

“Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mewujudkan pendidikan ideal ini adalah dengan membangun ekosistem yang menghargai keberagaman dan empatik dalam keseharian,” tutur Nur Rizal di Yogyakarta, Selasa (14/1).

“Dari sekolah yang fokus mengejar nilai, baiknya dialihkan menjadi pendidikan yang berorientasi pada pembiasaan berpikir reflektif untuk menguji pikiran kritis. Penyediaan ruang semacam ini akan memungkinkan anak untuk tidak hanya cerdas secara pikiran, namun cerdas dalam emosi dan sosial. Inilah yang dibutuhkan oleh pendidikan kita,” paparnya.

Social Emotional Learning merupakan sebuah pendekatan untuk meningkatkan keberhasilan siswa-siswa di sekolah dan kehidupannya.

Gerakan Sekolah Menyenangkan menerapkan metode Social Emotional Learning dalam tahap kegiatan pembelajarannya untuk mendorong pemahaman siswa akan kemampuan dirinya dan mengenali emosinya. 

Keterampilan sosial emosional ini tidak dapat begitu saja terwujud tanpa proses panjang.  Untuk mewujudkannya, maka seluruh elemen sekolah termasuk guru, murid, dan wali murid, mesti ikut berkontribusi membentuk sosial emosional di lingkungan sekolah.

“Dalam proses belajar mengajar, baik guru maupun siswa perlu melihat diri sendiri secara utuh dan jujur untuk meningkatkan diri menjadi pribadi pembelajar yang lebih baik,” ujar Galuh Ajeng Oka Bimala, Guru SD Muhammadiyah Sidoarum.

“ Semua komponen sekolah yang meliputi guru, murid, wali murid, juga perlu bercermin dan bebenah diri agar dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan,” ujar Galuh Ajeng.

Menurut Galuh Ajeng, guru sebagai fasilitator mengemban kewajiban besar untuk memfasilitasi siswa menjadi pembelajar yang mampu membangun relasi dengan dirinya sendiri.

“Begitu pula siswa, sebelum bebenah diri, siswa harus terlebih dulu mengenali kekurangan di masa lalu agar dapat memperbaikinya di masa depan. Berikut pengalaman anak-anak GSM di SD Muhammadiyah Sidoarum dalam rangka merefleksikan diri dengan menerapkan metode Self Emotional Learning,” paparnya. (OL-09)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More