Selasa 14 Januari 2020, 15:06 WIB

Ribuan Orang Hadapi Ketidakpastian Pascaletusan Gunung Taal

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Ribuan Orang Hadapi Ketidakpastian Pascaletusan Gunung Taal

AFP
Semburan abu vulkanik dari erupsi Gunung Taal, Filipina.

 

PIHAK berwenang Filipina mengingatkan Selasa (14/1), Gunung berapi Taal dapat memuntahkan lava dan abu selama berminggu-minggu. Akibatnya, ribuan orang terjebak dalam ketidakpastian setelah mereka meninggalkan rumah khawatir terjadi letusan besar-besaran.

Kawah gunung berapi itu meletus dengan awan abu yang menjulang tinggi dan semburan lava merah pada Minggu (12/1), memaksa mereka yang tinggal di sekitar gunung di selatan Manila melarikan diri ke tempat yang aman.

Banyak warga meninggalkan ternak dan hewan peliharaan serta rumah-rumah yang penuh barang-barang setelah pihak berwenang membunyikan peringatan letusan eksplosif akan segera terjadi.

Sekitar 30 ribu pengungsi saat ini berada di tempat penampungan.

Gerald Aseoche, 30, salah seorang warga yang melarikan diri bersama empat anaknya yang masih kecil dan beberapa barang miliknya.

"Saya berharap ini tidak akan berlangsung terlalu lama karena saya akan kehilangan pekerjaan saya jika saya tidak dapat segera melaporkan untuk bekerja," ujar Aseoche, seorang pelukis, di pusat evakuasi.

"Saya tidak bisa meninggalkan mereka, urusan keluarga nomor satu," terangnya sambil memeluk salah satu anaknya.

Taal adalah salah satu gunung berapi paling aktif di suatu negara yang dilanda secara berkala oleh letusan dan gempa bumi karena lokasinya di ‘cincin api Pasifik--zona aktivitas seismik yang intens.

Renato Solidum, Kepala Badan Seismologis Filipina, mengatakan letusan Taal sebelumnya telah berlangsung selama berbulan-bulan sehingga tidak mungkin untuk memprediksi akhir dari aktivitas saat ini.

Namun, ia mengatakan peringatan waspada ‘letusan eksplosif’ yang berpotensi bencana mungkin akan tetap berlaku selama berminggu-minggu, tergantung pada perkembangannya.

"Kami memiliki protokol menunggu selama beberapa hari, kadang-kadang dua minggu, untuk memastikan memang aktivitas gunung berapi pada dasarnya telah terhenti," ungkapnya.

Gunung berapi ini secara dramatis meledak, Minggu (12/1), melontarkan gumpalan besar abu beberapa kilometer ke langit yang kemudian menghujani wilayah tersebut.

Hujan abu mendorong para pejabat penerbangan untuk sementara waktu menutup bandara internasional utama Manila, memaksa pembatalan ratusan penerbangan dan membuat puluhan ribu pelancong terlantar.

Bandara Internasional Ninoy Aquino kembali mengurangi operasi, Senin (13/1), dan secara bertahap pulih pada Selasa, tetapi tumpukan penerbangan yang dibatalkan mengakibatkan kesengsaraan yang berkelanjutan bagi para pelancong. (AFP/OL-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More