Selasa 14 Januari 2020, 08:40 WIB

Realisasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan Naik 10 Kali Lipat

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Realisasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan Naik 10 Kali Lipat

MI/MOHAMAD IRFAN
Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar.

 

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah melakukan rehabilitasi hutan dan lahan sebanyak 207.000 hektare di seluruh wilayah Indonesia pada 2019. Jumlah luasan itu meningkat sepuluh kali lipat dari realisasi program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di tahun sebelumnya yang hanya mencapai 23.000 hektare.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan dirinya mendapat arahan khusus dari Presiden Joko Widodo pada 2020. Jokowi bahkan meminta dirinya intensif mengerahkan upaya pemulihan lingkungan secara menyeluruh.

"Saya ingin tegaskan di 2020 ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kenapa? Karena Bapak Presiden menegaskan secara khusus bahwa RHL harus berlipat-lipat untuk pemulihan lingkungan," kata Menteri Siti dalam Rapat Kerja Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai 2020 di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Selatan, kemarin.

Siti menyebut RHL sebelumnya hanya sekitar 23.000 ha atau 25.000 ha per tahun, baik di dalam maupun luar kawasan hutan, melalui restorasi ekosistem gambut, pemulihan up land bencana tanah longsor dan banjir, serta pemulihan kebakaran hutan dan lahan.

"Dengan situasi yang sekarang dan kita harus antisipasi pada Januari ini, maka segala daya upaya dan energi termasuk PP 78 Tahun 2010 tentang reklamasi pascatambang itu harus diintensifkan," sebutnya.

Dalam rapat kerja teknisi RHL DAS se-Indonesia itu, Siti meminta seluruh kepala UPT DAS memberi penjelasan tentang masalah yang ada di kawasan masing-masing sehingga upaya pemulihan lingkungan bisa dilakukan secara sinergi dan maksimal.

Pada bagan lain, Sekretaris Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Yulianto Joko Putranto menyatakan Kementerian LHK sudah memetakan daerah-daerah mana yang akan ditanami vetiver, terutama di daerah yang mengalami tanah longsor di Banten dan Jawa Barat.

"Kita memetakan, lahan di Banten akan banyak ditanam vetiver karena memang setelah longsor tanahnya terkupas. Banyak tebing-tebing yang muncul setelah terjadi longsor dan itulah yang akan kita tanami vetiver," papar Yulianto.

Wilayah Lebak di Banten dan Sukajaya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami banjir bandang dan tanah longsor setelah hujan tidak berhenti mengguyur Jabodetabek di awal 2020. Bencana itu menelan 62 korban jiwa, dengan perincian 20 di Banten, 26 di Jabar, dan 16 di DKI Jakarta. (Fer/Ant/X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More