Selasa 14 Januari 2020, 07:20 WIB

Indonesia Berkontribusi di Energi Terbarukan

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Indonesia Berkontribusi di Energi Terbarukan

Dok .Biro Pers Setpres/Laily Rachev
Presiden Joko Widodo menyampaikan pemaparan saat menjadi pembicara utama dalam Abu Dhabi Sustainability Week yang dihelat di Abu Dhabi.

 

INDONESIA memiliki peran signifikan dalam penggunaan energi terbarukan di masa depan.

Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidato di forum Abu Dhabi Sustainability Week di Abu Dhabi National Exhibition Center, Uni Emirat Arab (UEA), kemarin.

"Sebagai produsen nikel terbesar, Indonesia berkontribusi khususnya di bidang penyimpanan energi. Jadi, dalam 10 tahun mendatang, setiap kali melihat ponsel pintar, Anda sedang membawa bagian kecil dari Indonesia. Itu mengingatkan Anda pada bagian kecil mineral Indonesia," kata Jokowi.

Selain ponsel, lanjut Presiden, baterai ion litium juga diperlukan sebagai salah satu komponen kelistrikan dalam industri mobil listrik. "Kami mengundang Anda membangun industri di dalam negeri, memproduksi komponen baterai sebagai perpan-jangan dari produksi nikel kami."

Jokowi melanjutkan Indonesia juga berperan penting dalam pembentuk-an energi terbarukan masa depan lewat pengembangan B20 dan B30. Apalagi Indonesia merupakan negara produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

"Tahun lalu kami mengimplementasikan program B20. Seluruh produk bahan bakar diesel kita harus mengandung minimal 20% minyak kelapa sawit biodiesel. Kebijakan ini menghemat anggaran impor bahan bakar sebesar US$3,4 miliar dan mengurangi 8,9 miliar ton emisi karbon dioksida," ujar Jokowi.

Dalam kunjungan kenegaraan ke UEA, Jokowi dan Putra Mahkota Mohamed bin Zayed turut menyaksikan pertukaran 16 perjanjian kerja sama Indonesia-UEA.

Sumber: BKPM

 

Perjanjian kerja sama tersebut terdiri atas lima perjanjian di bidang keagamaan, pendidikan, pertanian, kesehatan, dan penanggulangan terorisme. Selain itu, 11 perjanjian bisnis, antara lain di bidang energi, migas, petrokimia, pelabuhan, telekomunikasi, dan riset, dengan estimasi total nilai investasi US$22,89 miliar atau sekitar Rp314,9 triliun.

"Islam di Indonesia menjadi contoh Islam yang damai. Islam tidak pernah mengajarkan teror dan selalu mengedepankan kedamaian," ungkap Mohamed.

Direktur Deregulasi Badan Koordinasi Penanaman Modal, Yuliot, menilai realisasi investasi UEA terus meningkat. Sejak 2015 hingga kuartal III 2019, jumlahnya mencapai US$239,03 juta atau sekitar Rp3,2 triliun. (Pra/Van/X-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More