Selasa 14 Januari 2020, 06:10 WIB

Koridor Timur Jakarta Berpotensi Dongkrak Pasar Properti

(Ria/S-5) | Ekonomi
Koridor Timur Jakarta Berpotensi Dongkrak Pasar Properti

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda

 

PENGEMBANG diimbau tidak konsentrasi dalam pengembangan hunian kelas atas untuk mendongkrak industri properti yang tengah lesu. Sebaliknya, mereka perlu segera menggarap pembangunan rumah (landed house) kelas menengah bawah dengan harga di kisaran Rp500 juta.

Hal itu dikemukakan CEO Indonesia Property Watch sekaligus pengamat properti, Ali Tranghanda, dalam paparannya tentang Jakarta Eastern Corridor Market Highlight 2020 di Jakarta, kemarin.

Bahkan, hasil analisisnya menyebutkan properti di timur Jakarta (Jakarta eastern corridor) memiliki potensi pasar sangat besar, terutama karena memiliki keunggulan infrastruktur, basis ekonomi industri yang kuat, serta harga tanah relatif lebih murah ketimbang di koridor barat Jakarta.

"Potensi unggulan dalam segi infrastruktur karena perkembangan pesat dari setidaknya 10 potensi infrastruktur, seperti Jakarta-Cikampek Elevated Toll, Double-Double Track Manggarai-Cikarang, LRT, Tol Jakarta-Cikampek II Selatan, JORR II Cimanggis-Cibitung, Kereta CepatJakarta-Bandung, Pelabuhan Patimban, Bandara Karawang, Kawasan Ekonomi Khusus Bekasi-Karawang-Purwakarta (Bekapur), dan rencana MRT Tahap III Balaraja-Cikarang," katanya.

Koridor timur Jakarta pun memiliki basis ekonomi industri kuat melalui keberadaan berbagai kawasan industri, seperti MM 2100, Delta Silicom, EJIP, BIIE, Jababeka, dan Delta Mas. Bahkan, Cikarang menyumbangkan 34,45% penanaman modal asing nasional serta volume ekspor nasional hingga 45%.

Harga tanah di koridor timur juga lebih murah, yaitu antara Rp5 juta-Rp12 juta/m. Berbeda dengan koridor barat, berkisar Rp9 juta-Rp17 juta/m. "Harga tanah murah, potensi infrastruktur dan basis ekonomi industri bahkan tak ada di wilayah lain, termasuk koridor barat," ucap Ali.

Ia juga menjelaskan saat ini koridor timur Jakarta memiliki kondisi pasar properti yang masih missmatch. "Kondisi ini karena banyak pengembang yang cenderung menjual hunian untuk segmen kelas atas, sementara pasar menengah ke bawahlah yang potensial."

Ia menjelaskan siklus properti yang potensial di pasar menengah bawah, yakni dengan harga hunian berkisar Rp300 juta-Rp1 miliar. "Kini (pengembang) harus bisa membidik end-user menengah ke bawah." (Ria/S-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More