Selasa 14 Januari 2020, 02:05 WIB

Bayar Kekalahan di Malaysia Masters

Akmal Fauzi | Olahraga
Bayar Kekalahan di Malaysia Masters

ANTARA
Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Susy Susanti

KEPALA Bidang Pembinaan Prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Susy Susanti meminta pemain yang akan berlaga di Indonesia Masters 2020 tampil maksimal. Turnamen yang mulai berlangsung hari ini diharapkan jadi ajang ‘membayar’ kegagalan di Malaysia Masters 2020 yang digelar pada pekan lalu.

Indonesia di negeri jiran harus pulang dengan tangan kosong. Para pemain ganda putra yang digadang-gadang bisa jadi andalan, justru gagal melangkah jauh. Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang menjadi juara bertahan juga tidak berhasil masuk perempat final.

“Di Indonesia Masters ini atlet-atlet diharapkan bisa fokus, apalagi kekalahan kemarin di Malaysia tuh nyesek semua. Poin-poin kritis kalah konsisten dan fokus, tapi secara permainan tidak,” kata Susy di Istora Senayan, Jakarta, kemarin.

Apalagi, kata dia, Indonesia Masters merupakan salah satu kejuaraan yang digunakan untuk mengumpulkan poin Olimpiade 2020. Untuk itu, Jonatan Christie dkk diharapkan menjaga fokus dan konsitensi permainan.

“Saya menilai (kekurangan) di fokus saja, jaga fokus dan konsentrasi saja. Ini yang jadi perhatian. Mudah-mudahan permainan di sini lebih baik dan belajar dari kekalahan mereka (di Malaysia Masters),” kata Susy.

PBSI pun tak muluk-muluk pasang target. Susy mengatakan, PBSI hanya memasang target satu gelar juara di turnamen level Super 500 itu. Pada tahun lalu, Indonesia hanya merebut satu gelar juara di Indonesia Masters. Gelar tersebut diraih Marcus/Kevin.

“Ya minimal satu dulu lah gelar. Sama seperti tahun lalu, Mudah-mudahan ada kenaikan target untuk semua sektor. Misalnya, tunggal putri, (Malaysia Masters) babak pertama enggak lewat, ya sekarang babak kedua atau delapan besar, syukur-syukur ke semifinal,” kata peraih medali emas Olimpiade 1992 itu.


Tanpa Momota

Absennya Kento Momota di Indonesia Masters tidak lantas membuat persaingan di sektor tunggal putra berkurang. Hal tersebut diyakini pemain tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting.

Momota, pemain tunggal putra asal Jepang yang jadi unggulan utama di Indonesia Masters tidak bisa berpartisipasi lantaran mengalami patah tulang hidung dan pipi akibat mengalami kecelakaan mobil di Malaysia, kemarin.

“Kalau tidak ada Momota bukan berarti persaingan berkurang. Semua pasti ingin buktikan penampilan terbaik, karena dari babak awal sudah berat. Absennya Momota tidak menurunkan kualitas pertandingan,” kata Anthony.

Hal senada dikatakan ­wakil Taiwan, Chou Tien Chen. Menurutnya, persaingan di Indonesia Masters tetap ­ketat walau tidak ada Momota. Apalagi, turnamen itu jadi kesempatan untuk mengumpulkan poin untuk berlaga di Olimpiade 2020.

“Tekanan di Indonesia Masters pasti ada meskipun tidak ada Momota. Masih ada banyak pemain lain yang juga pasti berat untuk dihadapi,” kata Chou Tien.

Pada babak pertama nanti, Anthony yang berstatus unggulan ketujuh akan ber-hadapan dengan wakil India, Kashyap Parupalli. Adapun Chou Tien Chen yang menjadi unggulan kedua akan ber-hadapan dengan wakil Hong Kong, Lee Cheuk Yiu. (R-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More