Senin 13 Januari 2020, 12:10 WIB

Terima Gelar Doktor, Orasi Ilmiah JK Soal Kesejahteraan Bangsa

Bayu Anggoro | Politik dan Hukum
Terima Gelar Doktor, Orasi Ilmiah JK Soal Kesejahteraan Bangsa

MI/Bayu Anggoro
Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla saat menyampaikan orasi ilmiah dan mendapat gelar Doktor Kehormatan dari ITB

 

MANTAN Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menyampaikan orasi ilmiah berjudul 'Mendorong Produktivitas, Meningkatkan Kesejahteraan Bangsa' saat menerima gelar doktor kehormatan dari Institut Teknologi Bandung.

Dalam pidatonya itu, politikus dan pengusaha asal Makassar ini  menceritakan pengalamannya selama lebih dari 50 tahun di dunia bisnis, politik dan pemerintahan.

Dia menjelaskan berbagai studi menunjukkan semangat dan produktivitas merupakan kunci dari kemakmuran suatu bangsa. Kekayaan alam yang berlimpah dan banyaknya populasi sering tidak berkorelasi dengan kesejahteraan penduduknya.

"Negara dengan produktivitas tinggi, akan mampu memproduksi barang dan jasa yang melebihi kebutuhannya," kata Jusuf Kalla di kampus ITB Bandung, Senin (13/1).

Jika ingin masuk sebagai negara maju, perekonomian Indonesia harus tumbuh di atas 6% per tahun dalam 20 tahun mendatang.

Jika gagal mewujudkan pertumbuhan itu, menurutnya, kita akan kehilangan momentum bonus demografi sehingga gagal menjadi negara maju. Sejalan dengan pengalaman-pengalaman bangsa lain, JK menyebut pertumbuhan  ekonomi yang tinggi hanya akan terwujud jika mampu meningkatkan  produktivitas SDM dan pemanfaatan kapital, baik bagi perusahaan maupun instansi pemerintahan.

"Peningkatan SDM dan modal adalah penting. Tetapi kualitas SDM dan investasi jauh lebih penting," katanya seraya menyebut kerja cerdas seringkali menentukan daripada sekadar kerja keras.

Baca juga: Jusuf Kalla Dapat Doktor Kehormatan dari ITB

JK menambahkan, untuk Indonesia, peningkatan produktivitas akan berdampak besar. Apalagi saat ini, selisih produktivitas lebar antara berbagai jenis usaha.

"Selisih besar antara produktivitas usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar," ungkapnya.

Berdasarkan teori yang diaplikasikan itu, JK mengaku berhasil dalam menentukan kebijakan baik pada tataran perusahaan maupun pemerintahan, seperti saat membesarkan PT Bukaka Teknik Utama yang mengerjakan 
pembangunan tahap II Bandara Soekarno-Hatta.

"Bukaka melakukan observasi tentang apa saja yang bisa dikontribusikan," imbuhnya.

Saat terlibat dalam proyek itu, Bukaka mengirim tim insinyur ke berbagai bandara terbaik di dunia untuk melihat garbarata. Selain mengamati dan memotret, tim berdiskusi informal dengan para teknisi dan operator.

"Paling tidak memahami komponen utama garbarata berikut mereknya," tutur JK seraya menyebut proyek garbarata Bandara Soekarno-Hatta menjadi pembelajaran dan batu pijakan bagi Bukaka untuk merambah dunia 
internasional.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More