Senin 13 Januari 2020, 13:15 WIB

Simplifikasi Layanan Hemodialisa Jadi Prioritas BPJS Kesehatan

Atalya Puspa | Humaniora
Simplifikasi Layanan Hemodialisa Jadi Prioritas BPJS Kesehatan

ANTARA/Destyan Sujarwoko
Petugas kesehatan melayani pasien pada fasilitas hemodialisa di RSI Orpeha, Tulungagung, Jawa Timur.

 

SIMPLIFIKASI pelayanan pasien hemodialisa menjadi salah satu prioritas BPJS Kesehatan pascakenaikan iuran.

Untuk memberikan pelayanan maksimal bagi peserta, BPJS Kesehatan menghadirkan fasilitas finger print untuk pasien hemodialisa. Dengan demikian, peserta tidak perlu lagi mengulang membuat surat rujukan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Hal itu diharapkan mempermudah pasien JKN-KIS mengakses layanan cuci darah tanpa repot lagi mengurus surat rujukan dari FKTP.

“Masyarakat selalu tanya, kalau penyesuian iuran itu apa yang masyarakat dapat? Fasilitas finger print ini salah satu bukti komitmen kami bahwa kami tingkatkan kualitas pelayanan. Satu tidak perlu bawa surat, selanjutnya cukup finger print saja,” kata Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, saat spotcheck di Klinik Hemodialisa Tidore, Jakarta Pusat, Senin (13/01).

Baca juga: Asupan Nutrisi Penting Cegah Dampak Alergi Pada Anak

Berdasarkan data yang dihimpun BPJS Kesehatan, sejak 2014 hingga 2018, jumlah pasien dan biaya yang dikeluarkan untuk pasien hemodialisa pada program JKN-KIS selalu bertambah.

Pada 2014, BPJS Kesehatan menggelontorkan dana sebesar Rp1,91 triliun untuk 1,79 juta pasien hemodialisa. Sementara, pada 2018, dana yang dikeluarkan yakni sebesar Rp4,81 triliun untuk 4,90 juta pasien.

Ke depan, dengan adanya kenaikan iuran JKN-KIS, Fahmi berharap pembiayaan untuk pasien hemodialisa dapat terus tercukupi.

"'Dengan adanya penyesuaian iuran ini, kita berterima kasih. Kita mohon dukungan karena bagaimana pun juga program ini kan dibangun dengan sistem dan tolong menolong satu sama lain," tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Pelayanan Kesehatan Rujukan BPJS Kesehatan Budi Mohamad Arief mengungkapkan, hingga saat ini, terdapat 772 fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan hemodialisa bagi peserta JKN-KIS.

"Sebanyak 772 faskes yang melayani hemodialisa, yang di antaranya 715 RA dan 47 klinik, dan setiap pelayanan hemodialisa harus disertai dengan fingerprint dan di dalamnya sudah bisa mengadopsi cara perpanjangan rujukan," tandasnya.

Penerapan penggunaan finger print dilakukan dalam rangka simplifikasi administrasi. Implementasi ini juga akan memberikan manfaat bagi rumah sakit dalam kecepatan pemberian layanan bagi peserta karena meminimalkan jenis inputan pada penerbitan Surat Eligibilitas Peserta (SEP).

Diharapkan, hal itu dapat mengurangi antrean serta memberikan kepastian klaim yang akan dibayarkan karena terhindar dari penggunaan kartu oleh peserta yang tidak berhak. Fasilitas kesehatan juga mempunyai kewajiban meneliti kebenaran identitas peserta dan penggunaannya. (OL-2)

Baca Juga

Dok. Kemendikbud

Jadilah Guru dengan Pribadi yang Inspiratif

👤Syarief Oebaidillah 🕔Rabu 25 November 2020, 12:05 WIB
Suka dan duka membaur dan hanya dengan dedikasi yang tinggilah para guru Indonesia menggerakan pembelajaran sebagai upaya mencerdaskan anak...
Ist

RI-Belanda Tingkatkan Kerja Sama Sains dan Pendidikan

👤Eni Kartinah 🕔Rabu 25 November 2020, 12:04 WIB
Mendikbud dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Ingrid van Engelshoven, mengatakan Indonesia dan Belanda  saling mendukung dalam...
MI/ AHMAD SAFUAN

Pengabdian yang Luar Biasa di Tengah Pandemi

👤Ahmad Safuan 🕔Rabu 25 November 2020, 12:00 WIB
Ketiadaan kedua kaki bukan halangan. Mohamad Hikmat tak lelah menyambangi siswanya penyandang tuna grahita, tuna rungu, tuna wicara dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya