Senin 13 Januari 2020, 09:15 WIB

Iran Sepakat Kurangi Ketegangan dengan AS

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Iran Sepakat Kurangi Ketegangan dengan AS

AFP/IRANIAN SUPREME LEADER'S WEBSITE
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (kanan) bertemu Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani

 

IRAN, Minggu (12/1), memberi isyarat, bahwa mereka mendukung pengurangan eskalasi setelah 10 hari meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS).

Kedua pihak baku tembak rudal dan Teheran secara tidak sengaja menembak jatuh sebuah pesawat penumpang Ukraina.

Keamanan ditingkatkan di ibu kota Iran menyusul aksi protes masayarakat yang marah terhadap penembakan pesawat komersial Ukraina dan polisi sementara menangkap duta besar Inggris karena berada di tengah unjuk rasa.

Dalam pertemuan antara Presiden Iran Hassan Rouhani dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, kedua belah pihak sepakat pengurangan eskalasi adalah satu-satunya solusi untuk krisis regional.

Baca juga: Trump Ancam Iran soal Demonstran

Qatar menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di kawasan itu tetapi juga menikmati hubungan kuat dengan Iran. Kedua negara berbagi ladang gas terbesar di dunia.

"Kunjungan ini terjadi pada saat yang kritis di kawasan ini," kata Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani tentang apa yang diyakini sebagai kunjungan resmi pertamanya ke ‘Negeri Para Mullah’.

"Kami sepakat satu-satunya solusi untuk krisis ini adalah pengurangan ketegangan dari semua pihak dan dialog," ujarnya.

Sementara itu, Rouhani mengatakan, "Kami telah memutuskan untuk mengedepankan lebih banyak konsultasi dan kerja sama untuk keamanan seluruh wilayah."

Presiden Iran juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan yang berkunjung, Shah Mehmood Qureshi, yang negaranya telah menawarkan untuk menengahi antara Teheran dan sekutu AS, Arab Saudi.

Sementara di seberang perbatasan di Irak, Minggu (12/1), militer mengatakan roket menghantam Al-Balad, sebuah pangkalan udara Irak tempat pasukan AS ditempatkan, melukai dua perwira Irak dan dua penerbang.

Pangkalan itu menjadi rumah bagi satu kesatuan kecil Angkatan Udara AS dan juga kontraktor Washington, tetapi mayoritas personel mereka telah dievakuasi karena ketegangan antara AS dan Iran.

Tidak ada klaim pihak yang bertanggung jawab langsung atas serangan roket pada Minggu (12/1). AS sebelumnya menyalahkan serangan semacam itu terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak melukai demonstran dan terhadap pengulangan tindakan keras mematikan terhadap unjuk rasa pada November yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar.

"Kepada para pemimpin Iran jangan membunuh pemrotes Anda," ujar Trump dalam sebuah cuitan di Twitter pribadinya.

Sementara Menteri Pertahanan AS Mark Esper, mengatakan Trump bagaimanapun masih bersedia untuk duduk dan berdiskusi tanpa prasyarat dengan Iran, meskipun Teheran telah dengan tegas menolak mengadakan pembicaraan dengan Washington kecuali jika sanksi dicabut terlebih dahulu.

Teheran mengatakan pihaknya mendukung pelonggaran ketegangan setelah musuh bebuyutannya Washington pada 3 Januari membunuh seorang jenderal Iran yang dihormati, kepala Pasukan Quds Qasem Soleimani, dalam serangan pesawat nirawak di luar bandara internasional Baghdad.

Dalam briefing ke parlemen, Hossein Salami, komandan Pengawal Revolusi Iran, mengatakan rudal yang ditembakkannya Rabu lalu di pangkalan Irak yang menampung pasukan AS tidak ditujukan untuk membunuh personel AS.

"Tujuan kami bukan untuk membunuh tentara musuh. Itu tidak penting," kata Salami kepada parlemen.

AS mengatakan tidak ada personel AS yang terluka dalam serangan itu. (AFP/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More