Senin 13 Januari 2020, 05:20 WIB

Layanan OTT Jangan Dulu Layu

Tesa Oktiana Surbakti | Ekonomi
Layanan OTT Jangan Dulu Layu

MI/GALIH AGUS SAPUTRA
Sutradara film Richard Oh

 

Pada 2019, penghasilan pembuat film yang diperoleh dari platform digital lebih besar dari penayangan free to air di televisi.

PLATFORM digital berupa layanan over the top (OTT) membuka peluang bisnis baru bagi kalangan pembuat film. Layanan itu menjadi salah satu alternatif saluran distribusi karya dunia perfilman selain bioskop.

Layanan OTT menawarkan konten berupa data, informasi, atau multimedia yang berjalan melalui jaringan internet. Sejumlah perusahaan serius menggarap OTT di pasar domestik, seperti Hooq, Viu, Iflix, Catchplay, dan Netflix.

Apalagi jumlah pengguna internet di Indonesia lebih dari 150 juta. Sayangnya, fenomena pembajakan film yang tersebar di situs menonton ilegal menghambat perkembangan layanan OTT di Indonesia.

Sutradara film Richard Oh memandang perkembangan layanan OTT di banyak negara sangat mendukung dan membebaskan kreativitas pembuat film. "Ini bisa dilihat begitu banyak karya film dari berbagai sutradara visioner yang terealisasi dengan dukungan Netflix dan Amazon Prime," ujar Richard saat dihubungi, Sabtu (11/1).

Hanya, dia menilai mayoritas film seri yang ditayangkan lewat platform itu cenderung sama atau sedikit lebih berkualitas jika dibandingkan dengan film seri di televisi. Di lain sisi, dia tidak melihat adanya persaingan antara bioskop dan layanan OTT. Ia beralasan masih banyak pembuat film yang menargetkan penonton bioskop.

Menyoroti pembajakan film, dia meyakini layanan OTT yang menawarkan subskripsi berbiaya ringan dapat menekan praktik ilegal tersebut. "Banyak pembajakan terjadi karena kelangkaan atau ketiadaan pemutaran atau penayangan sejumlah film tertentu di dalam negeri," pungkasnya.

Penghasilan tambahan

Produser film Sheila Timothy menambahkan, OTT menjadi sumber penghasilan tambahan untuk perusahaan produksi film. Saat film sudah tidak tayang di bioskop, keuntungan dapat terus mengalir karena konten tersebut bisa dinikmati lewat platform streaming legal yang bisa ditonton sewaktu-waktu.

Meskipun begitu, Sheila mengungkapkan pengembalian modal film masih

bergantung besar dari bioskop. "Bisa dikatakan mungkin 60%-70% masih tergantung dari pengembalian modal bioskop," tutur dia.

Namun, OTT punya masa depan cerah karena terus berkembang dalam

5 tahun belakangan. Menurut Sheila, pada 2019 penghasilan yang diperoleh dari platform digital lebih besar dari penayangan free to air di televisi. "Padahal, kalau kita lihat pada 2016, TV swasta atau TV tak berbayar menjadi penghasilan kedua setelah bioskop," ungkapnya.

Pemerintah turut mendukung para pembuat film. Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir lebih dari 1.700 situs dan aplikasi streaming ilegal.

Menteri Kominfo Johnny Plate menegaskan, pemblokiran film harus dilakukan karena merugikan banyak pihak di industri kreatif. Pihaknya mengapresiasi langkah bisnis yang dilakukan sejumlah platform OTT dengan merambah pada penyediaan layanan streaming film nasional.

"Segala usaha untuk mendukung karya anak bangsa, termasuk karya film, harus kita apresiasi," ujar Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo, Ferdinandus Setu, saat dikonfirmasi.

Menurut Managing Director Netflix Asia Pasific Kuek Yu-Chuang, Netflix bisa disaksikan di televisi, komputer jinjing, dan gawai. Tapi, penonton Indonesia lebih suka menonton lewat smartphone, bahkan jumlahnya dua kali lebih besar dari rata-rata pengguna global. (Ant/S-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More