Senin 13 Januari 2020, 01:15 WIB

Trump Ancam Iran soal Demonstran

Trump Ancam Iran soal Demonstran

AFP
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

 

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak menindak demonstran yang turun ke jalan setelah Iran mengakui menembak pesawat milik Ukraina secara tidak sengaja. Insiden itu mengakibatkan tewasnya 176 orang di dalam pesawat.

“Pemerintah Iran harus mengizinkan kelompok-kelompok hak asasi manusia untuk memantau dan melaporkan fakta-fakta dari lapangan atas protes yang sedang berlangsung oleh rakyat Iran,“ cuit Donald Trump pada akun sosial media Twitternya, kemarin.

Pesan ini dicuitkan oleh Trump setelah polisi Iran membubarkan para demonstran yang meneriakan slogan radikal,
Sebelumnya Iran akhirnya mengakui telah menembak jatuh pesawat Ukraine International Airlines menggunakan rudal.
Kebanyakan penumpangnya adalah mahasiswa Iran dan Kanada.

Iran menyatakan penyesalan mendalam dan permintaan maaf kepada pihak yang terdampak peristiwa tersebut.

“Internal investigasi angkatan bersenjata menyimpulkan bahwa kesalahan manusia berdampak pada jatuhnya pesawat Ukraina dan kematian 176 orang tak bersalah. Investigasi dilanjut untuk mengidentifikasi dan menuntut atas tragedi besar ini dan kesalahan tak termaafkan,” cuit Presiden Iran Hassan Rouchani lewat akun Twitter-nya, Sabtu (11/1).
Komandan Dirgantara Pe­ngawal Revolusi Iran, Brigjen Amirali Hajizadeh mengaku bertanggung jawab penuh atas penembakan jet penumpang Ukraina.

Angkatan Bersenjata Iran menyebutkan pesawat itu ditembak lantaran dikira sebagai pesawat musuh. Pasalnya, dalam waktu yang sama, militer Iran berada pada ke­siapan level tertinggi di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS.

Sementara itu, panglima Garda Revolusi, Mayjen Hossein Salami kemarin memberi keterangan tertutup kepada parlemen Iran tentang pembunuhan petinggi militer Qasem Soleimani, pembalasan dari Iran dan jatuhnya pesawat Ukraina.


Unjuk rasa mahasiswa

Dilansir dari AFP, ratusan demonstran yang merupakan mahasiswa telah berkumpul pada sore hari di Universitas Amir Kabir, Teheran. Awalnya, mereka hanya datang untuk mengenang korban tewas dalam insiden pesawat Ukraina. Namun mereka kemudian menyalurkan kemarahan saat malam hari tiba.
Mereka meminta orang-orang yang bertanggung jawab untuk dipecat dan diadili. Tuntutan pemecatan dan pemeriksaan tersebut juga disuarakan oleh media massa di Iran.

Menurut laporan media, akses internet secara efektif terputus di beberapa provinsi di Iran menjelang peringatan protes yang direncanakan.

Unjuk rasa kali ini terjadi tidak lama setelah warga turun ke jalan memprotes kenaikan harga BBM pada November 2019. Amnesty International  menyebut sedikitnya 300 warga Iran tewas dalam unjuk rasa BBM tersebut. (Rif/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More