Minggu 12 Januari 2020, 08:40 WIB

Prita Hapsari Ghozie, Tiap Rumah Tangga Harus Punya Dana Darurat

Suryani Wandari | WAWANCARA
Prita Hapsari Ghozie, Tiap Rumah Tangga Harus Punya Dana Darurat

Dok. Prita Ghozie

HINGGA dua minggu pascabanjir besar Jabodetabek, cerita pilu belum usai. Di Kabupaten Lebak, Banten, evakuasi dan penyaluran bantuan masih berlangsung. Sementara itu, di beberapa permukiman di Jakarta dan Bekasi yang mengalami banjir tinggi, upaya bangkit juga tidak mudah karena mengalami kerugian yang besar.

Berkaca dari bencana tersebut, perencana keuangan yang sedang populer, Prita Hapsari Ghozie, mengingatkan akan pentingnya dana darurat bagi setiap rumah tangga. Sejauh mana peran dana darurat itu dan juga berbagai isu lain seputar perencaan keuangan, dijelaskan perempuan yang juga merupakan dosen akuntasi dan pendiri Zap Finance itu dalam surel kepada Media Indonesia, Senin (6/1/2020).

 

Anda selalu menyarankan untuk menyisihkan uang setiap bulannya untuk dana pensiun atau dana darurat. Berapa persen dari pendapatan kita untuk dana tersebut?

Dana darurat merupakan dana terpenting yang harus dimiliki setiap orang dan setiap rumah tangga. Bayangkan, semua perencanaan bisa berantakan jika tidak ada dana darurat saat menghadapi hal tak terduga. Awal tahun 2020 menjadi bukti pentingnya dana darurat. Saat ada musibah, rumah tangga yang tetap kukuh secara keuangan ialah yang punya dana darurat. Iya kan?

Dana pensiun juga menjadi penting karena kita harus memahami siklus hidup manusia yang pada akhirnya akan memasuki masa tidak produktif. Saat tua nanti, akan ada 2 kaki yang bisa goyah yaitu financial dan power. Jika power berkurang hingga tidak ada, yang tersisa ialah financial. Bila kita berhasil memiliki keuangan yang mampu menyokong hidup, masa pensiun dapat dijalankan dengan baik.

(Penjelasan lebih lanjut mengenai porsi dana darurat terdapat dalam media sosial @zapfinance. Di situ ditampilkan jika alokasi gaji dibagi dalam tiga pos besar yakni living (pengeluaran pokok sehari-hari), saving (tabungan), dan playing (hiburan, hingga belanja baju). Dana darurat masuk ke dalam pos saving bersama dengan cicilan rumah, premi asuransi, investasi, dan liburan). Besaran pos saving ini 30% dari pendapatan Anda.  Dana darurat itu dapat digunakan saat mengalami musibah bencana, kehilangan pekerjaan, transportasi atau perabot rusak, biaya kesehatan yang tidak ditanggung BPJS, hingga jika ART berhenti tiba-tiba).

 

Dari buku yang Anda keluarkan dan beberapa pengajaran, sepertinya Anda lebih menyasar pada perempuan. Seberapa penting bagi perempuan mengelola keuangannya?

Sebenarnya tidak juga. Tetapi, saya seorang perempuan yang memiliki kemampuan lebih untuk bicara kepada para perempuan. Pada akhirnya, perempuan kebanyakan bekerja lebih pendek durasinya dibanding laki-laki, karena mungkin mengurus keluarga dan lainnya. Jadi, apabila perempuan tidak dibekali dengan kemampuan mengelola yang baik, bisa dibayangkan akan berantakan keuangan rumah tangganya. Meskipun, yang bertugas jadi manajer ialah laki-laki, tetapi jika perempuan paham ilmunya, mereka akan bisa support keputusan finansial yang diambil pasangannya.

 

Bagaimana Anda sendiri mengatur keuangan keluarga? Apakah ada campur tangan tangan suami atau bahkan anak? Seperti apa?

Anak-anak kami masih berusia di bawah 15 tahun, sehingga belum ikut dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Namun, anak-anak sudah paham konsep belanja cerdas, menabung, bahkan anak pertama kami mulai belajar investasi. Suami saya memercayakan pengelolaan keuangan kepada saya, sehingga seluruh penghasilannya diberikan kepada keluarga. Adapun penghasilan saya pribadi saya investasikan untuk kebutuhan keluarga.

 

Dari usia berapa idealnya kita harus mulai kelola keuangan?

Masa anak-anak dan remaja sudah bisa mulai dikenalkan mengenai konsep pengelolaan secara sederhana. Namun, penerapan secara lebih ideal mulai dijalankan di tahapan usia 20 tahun.

 

Beberapa tahun ini banyak mencuat permasalahan keuangan pada sandwich generation (generasi yang sudah berkeluarga, namun juga masih harus menyokong kebutuhan orangtua atau anggota keluarga lainnya). Bagaimana cara pintar mengatasinya?

Sandwich generation sudah terjadi selama bertahun-tahun di setiap generasi. Hal ini terjadi karena generasi senior gagal dalam mempersiapkan masa pensiun mereka. Sehingga, ada beban kehidupan yang harus dialihkan/ditanggung generasi yang produktif. Tips pengelolaan untuk Sandwich Generation ada beberapa hal, yakni:

- Komunikasi aktif dengan keluarga mengenai kemampuan finansial. Semua harus fokus untuk memenuhi biaya hidup, bukan menyokong gaya hidup yang diinginkan.

- Menyesuaikan bujet rumah tangga dengan memasukkan biaya hidup tanggungan.

- Dana darurat harus ideal sesuai banyaknya tanggungan.

- Memastikan senior memiliki asuransi atau jaminan kesehatan yang memadai.

- Tetap berinvestasi untuk dana pensiun agar tidak menciptakan sandwich generation yang baru.

 

Bicara soal karier Anda sendiri, bagaimana dan mengapa Anda memulai karier di dunia keuangan?

Dimulai dari kuliah akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, saya mulai ketertarikan di dunia keuangan, tapi secara umum. Lalu, karena melanjutkan kuliah lagi di bidang personal finance di Australia, saya mulai paham bahwa ada yang namanya ilmu pengelolaan keuangan pribadi. Hal ini lah yang dikenalkan ayah saya.

Jika bicara pengelolaan keuangan di keluarga, saya lebih melihat keseharian ibu yang kerap membuat amplop-amplop dalam mengelola keuangan rumah tangga. Berikutnya, saya pribadi mulai mendapatkan penghasilan dari bekerja sebagai model majalah, penari balet, dan pengajar balet mulai SMP hingga kuliah. Dari modal tersebut, saya mulai pengelolaan sederhana yaitu dibelanjakan untuk keinginan, ditabung, dan dibelikan reksa dana, dan juga untuk beramal.

 

Mendirikan ZAP Finance, apa motivasi Anda saat itu? Lalu apa tugas Anda di sana?

Motivasi karena didorong keluarga. Saat itu kebetulan saya mengalami masalah di pekerjaan sebelumnya. Lalu, saya kembali mengingat ilmu personal finance yang saya miliki. Pada momen itu, keluarga mendorong untuk memulai usaha keluarga yang diamanahkan kepada saya untuk pengelolaannya. Maka, ZAP Finance terbentuk di November 2009. Meski pun, baru mulai beroperasi secara sederhana pada 2011. (M-1)

 

Baca Juga

Kemendikbud/Tim Riset MI-NRC

Membangun Motivasi Murid maupun Guru

👤MI 🕔Minggu 31 Mei 2020, 00:35 WIB
SAAT menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sejak 2016, Prof Unifah Rosyidi...
Dok. Pribadi

Pentingnya Standar Pembelajaran saat Pandemi

👤Fathurrozak 🕔Minggu 31 Mei 2020, 00:10 WIB
MESKI Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah menampik rumor pembukaan kembali sekolah pada...
Dok. MI

Memilih untuk Berdaya

👤Fetry Wuryasti 🕔Minggu 03 Mei 2020, 08:50 WIB
Inisiatifnya untuk menciptakan suatu alat yang bisa membantu, dia harapkan bisa mengurangi rasa khawatirnya karena penyebaran virus yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya