Minggu 12 Januari 2020, 06:00 WIB

Arif Satria: Gelar Profesor Adalah Awal

Ihfa Firdausya | Hiburan
Arif Satria: Gelar Profesor Adalah Awal

ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Prof Dr Arif Satria, SP, Msi

 

KECINTAANNYA terhadap buku dan kegiatan belajar-mengajar membawa Arif Satria, yang sekarang menjabat Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) periode 2017-2022, menjadi Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia IPB di usia 48 tahun. Meski banyak orang mengatakan gelar guru besar ialah puncak karier di bidang akademis, Prof Dr Arif Satria, SP, Msi, mengaku terus mengingat pesan kedua orangtuanya, bahwa mencari ilmu itu tak ada habisnya.

Bersama dia, kemarin, Prof Dr dr Sri Budiarti juga resmi menjadi guru besar tetap di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB, dan Prof Dr Ir R Nunung Nuryartono, MS, di Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.

Arif Satria lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 17 September 1971 dari pasangan Faruk Hasan dan Sri Utami. Sejak remaja, Arif telah menunjukkan potensinya di bidang pendidikan. Dia pernah meraih predikat Siswa Teladan 1 se-Pekalongan baik saat SMP (1986) maupun SMA (1989).

Pada 1990, Arif diterima di IPB pada Program Studi Penyuluhan Pertanian Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian dan lulus tahun 1995. Dia aktif di berbagai organisasi kampus seperti menjadi Wakil Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian (1992) dan Sekretaris Umum Organisasi Mahasiswa Angkatan-27 TPB, IPB.

Pada 1999, Arif menyelesaikan S-2 pada Program Sosiologi Pedesaan IPB di ‘Negeri Sakura’, yang kemudian menjadi destinasi pencarian ilmu selanjutnya ketika dia mengambil studi Bidang Marine Policy di Kagoshima University, Jepang, pada 2006.

“Ya, memang saya dari dulu suka (belajar). Jadi memang belajar itu adalah sebuah tuntutan, sebuah kewajiban yang harus saya lakukan. Orang tua saya terus mengamanatkan agar mencari ilmu itu enggak ada habisnya. Saya juga akan terapkan ke yang lain-lain, bagaimana membangun semangat belajar sampai kapan pun,” tutur Arif usai pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.

Bagi Arif, raihan gelar profesor adalah awal perjalanan baru di bidang ­keilmuannya. Gelar ini akan mendo­rongnya lebih produktif dan mengembangkan ilmu yang dia geluti. “Dengan demikian, semakin banyak saya baca, semakin saya tahu wilayah-wilayah yang saya enggak tahu. Mestinya saya semakin harus rendah hati karena ilmu itu ada di mana-mana yang harus terus dikejar dan dikejar,” tuturnya.

Segala pencapaian itu tak terlepas dari dukungan keluarga, istri, dan kedua anaknya. Keluarga itulah yang menjadi inspirasi Arif yang juga pendorong semangatnya.

“Tentu karena keluargalah saya punya tekad yang lebih kuat lagi untuk bisa membangun sebuah konsep dan juga memberikan kontribusi pada perubahan yang ada. Khususnya perubahan tata kelola sumber daya alam,” imbuh Arif yang juga tercatat sebagai Dekan Termuda di IPB, 39 tahun.

Pencipta lagu

Peraih penghargaan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Bidang Ilmu Pengetahuan dari Mendiknas pada 2009 ini mengaku concern pada tata kelola sumber daya alam.

Pada orasi pengukuhan sebagai Guru Besar, kemarin, dia menyampaikan orasi ilmiah berjudul Modernisasi Ekologi dan Ekologi Politik: Perspektif Baru Analisis Tata Kelola Sumber Daya Alam. Menurut Arif, kerusakan sumber daya alam dan lingkungan diakibatkan kesalahan tata kelola.

“Perubahan tata kelola sumber daya alam sudah menjadi keniscayaan dan harus segera saya sumbangkan kepada pemerintah bagaimana cara menyikapi masalah-masalah lingkungan yang ada sekarang ini,” ujarnya.

Di balik segala pencapaian akademis­nya, Arif Satria yang juga dikenal sebagai pribadi terbuka, motivator di kalangan mahasiswa dan akademisi IPB ini ­ternyata juga gemar berolahraga dan produktif menciptakan lagu. Arif ­menyebut telah menciptakan sekitar 40 lagu.

“Ya memang dari dulu saya suka bulu tangkis, saya kan mantan calon atlet. Kalau bulu tangkis hobi, kalau musik ya karena saya bisa main gitar. Saya harus bikin lagu dan itu adalah hiburan yang paling nyaman,” tutupnya. (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More