Sabtu 11 Januari 2020, 12:20 WIB

Sigit Hani Hadiyanto: Upaya Bangkit Instruktur Nahas

M-1 | Weekend
Sigit Hani Hadiyanto: Upaya Bangkit Instruktur Nahas

MI/SUMARYANTO BRONTO
Sigit Hani Hadiyanto

DALAM tayangan Kick Andy ini sang instruktur, Sigit Hani Hadiyanto, mengungkapkan jika kecelakaan itu disebut control flight into terrain (CFIT). Kondisi terjadi saat pesawat berada dalam kontrol pilot dan tidak mengalami masalah teknik, tapi secara tidak disengaja mengarah ke bawah, baik ke pegunungan, air, maupun hambatan lainnya.

“Memang pada saat impact atau crash itu kemungkinan kita berdua memang kehilangan kesadaran dan seperti tadi yang saya sampaikan, sayangnya mungkin pesawatnya terbakar dan memang saat kita di dalam hingga akhirnya kita menderita luka bakar seperti ini,” tutur Sigit yang pada saat peristiwa berusia 23 tahun.

Sigit mengaku tidak mengetahui berapa lama mengalami hilang kesadaran. Namun, begitu sadar, ia lantas menoleh ke bangku sebelah kiri untuk memastikan keberadaan siswanya. Setelah beberapa kali memanggil nama siswanya, yaitu Dwi Krismawan, Sigit lantas berupaya keluar dari reruntuhan pesawat dalam kondisi luka bakar yang sangat serius.

Rangkaian kejadian sebelum tragedi itu juga masih diingatnya jelas. Kala itu Sigit mendapat giliran terbang (take off) kedua dan mendapat area latihan terbang di bagian selatan yang dekat dengan Gunung Gede, Jawa Barat.

Cuaca saat itu sedikit gerimis dan berawan. Namun, karena sejumlah instruktur lain yang menjalankan pelatihan tidak mengalami masalah, ia memutuskan untuk tetap terbang.

Adapun ketinggian yang dicapai saat itu ialah 2.000 kaki atau berada di antara batas (margin) yang ditentukan untuk latihan penerbangan, yaitu 1.000 hingga 3.000 kaki. Setelah memerintahkan dua kali full panel 360 atau gerakan memutar dengan panduan instrumen yang ada di pesawat, Sigit lantas mengambil alih kemudi dari siswanya untuk mencari area latihan yang lebih baik.

Sayangnya, di menit-menit akhir saat berbalik arah, pepohonan di sekitarnya sudah langsung terlihat, yang artinya pesawat mereka berjarak dekat dengan daratan. Sidik bertutur jika reaksi awal dirinya ialah mencoba memperketat radius putar dengan menambah sudut putaran dengan harapan tetap bisa melewati pepohonan.

“Tetapi instantly pada saat itu juga saya sudah merasakan bahwa ini tidak dapat. Sudah terlalu dekat. Artinya, yang kemudian, ya mungkin sekilas dan petunjuk dari Tuhan, kalaupun harus crash, maka saya harus upayakan efeknya seminimal mungkin. Saya level kembali, paling tidak itu sejajar dengan lereng gunung. Tarik habis, full power, kalau lolos alhamdullilah, kalaupun tidak, tidak frontal,” tutur Sigit.

Meski teknik yang diupayakan Sigit membuahkan hasil dalam menghindari tabrakan fatal, pesawat terbakar ketika menabrak gunung. Beberapa saat setelah kejadian itu, di antaranya kesadarannya yang mulai pulih, Sigit sayup-sayup mendengar penduduk datang.

Sigit sempat mendengar mereka bertanya mengenai musabab peristiwa. Penduduk kemudian juga membawa mereka ke danau, yang letaknya tidak jauh dari lokasi kecelakaan.

Bangkit setelah puluhan operasi

Sigit menderita luka bakar 27% pada bagian lengan kanan dan kiri, termasuk pada bagian wajah atau kepala dengan grade 3. Dokter spesialis bedah plastik Imam ­Susanto ialah orang yang menangani kasusnya. Menurut Imam, luka tersebut sangat berat terlebih ada suatu trauma inhalasi yang dialami Sigit berikut siswanya. Hal itu terjadi karena pada saat terbakar, mereka dalam ruang tertutup. Akibat hal itu, mereka tidak hanya mengalami luka bakar, tetapi juga menghirup udara hasil kebakaran.

“Jadi, pertama saya pikir ialah membebaskan jalan napasnya. Setelah aman, adalah cairan yang paling penting, supaya tidak kekurangan. Luka bakar grade 3 itu memang luar biasa, kita harus cepat menanga­ninya,” tutur Imam.

Akibat luka itu, Sigit lantas mendapat operasi sebanyak 21 kali. Meskipun kondisinya saat ini tidak dapat pulih sebagaimana sebelum mengalami kecelakaan, ia selalu ingat dengan pesan Imam bahwa ciptaan (operasi) yang dilakukan manusia tidak dapat sama dengan yang diciptakan Tuhan.

Kata-kata itu membuatnya tetap bersyukur sekaligus ikhlas dengan kondisi saat ini. Oleh karena itu pula, Sigit lebih mengutamakan fungsi dari bagian-bagian tubuh yang terdampak luka bakar untuk dapat mendukung aktivitas sehari-hari.

Dari sisi batin, ia mensyukuri setiap hal kecil yang masih dapat ia lakukan. Bahkan, menemani sang istri membeli persediaan di pusat perbelanjaan pun sudah memberikan kebahagiaan kepadanya. Rasa syukurnya juga berlipat karena sudah bekerja kembali. Ia bekerja di Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan RI. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More