Sabtu 11 Januari 2020, 10:05 WIB

Adeline Windy: Pindah ke Bali

Try/M-2 | Weekend
 Adeline Windy: Pindah ke Bali

MI/ADAM DWI
Adeline Windy instruktur pernafasan Buteyko

MEMILIKI kediaman di lingkungan yang asri dan alami lengkap dengan pepohonan dan hewan-hewannya, sempat sebatas angan-angan Adeline Windy. Impiannya itu kini terwujud setelah ia memutuskan menetap di Ubud sejak pertengahan tahun lalu, seiring kehamilannya.

“Dahulu saya bermimpi bisa tinggal di rumah yang dikelilingi hutan, pohon, binatang, kerja dari rumah dan gendong si bayi. Ada juga keinginan bisa berbagi, mengajar, berdua dengan anak saya. Dengan caranya di luar akal dan kendali saya, alam semesta berkonspirasi untuk mewujudkan mimpi tersebut,” cerita Adeline.

Bukan hal mudah baginya untuk memutuskan pindah ke Pulau Dewata.  Banyak momen pertimbangan, maju-mundur, dari nanti kerja apa, kegiatan yang bisa dilakukan, sampai soal makanan. Namun, akhirnya, demi buah hati yang tengah dikandungnya, pada Juni 2019 Adeline hijrah ke Bali. Bersama kucing kesayangannya, ia berangkat ke Bali dengan mengendarai mobil.

Bagi dia, dalam perjalanan hidupnya, ini fase yang luar biasa. Waktu hamil, dia telah memutuskan untuk melahirkan di Bali. Alasannya dia akan lebih dekat dengan Bumi Sehat, klinik gentle birth milik Robin Lim seorang bidan asal AS, dengan bidan-bidan yang dipercaya Adeline.

Kedua, lingkungan Bali masih sangat baik. Rumah dia berada di desa, masih sangat hijau, terdapat hutan, air sungai yang mengalir, dan masih banyak binatang yang tinggal di alam.

Di Bali, aktivitas perempuan kelahiran 1982 ini berubah total. Gaya hidup, finansial, hanya sebagian kecil dari luasnya kehidupan dia di Bali.

“Sudah 6 bulan di Bali. Untuk kelahiran Sora. Untuk memberikan dia kualitas hidup yang lebih okay. Rencananya memang untuk tinggal di Bali, karena semua barangku di Bali. Jadi pindah rumah, bukan pindah sebagian,” jelas Adeline.

Baginya selalu ada bab baru dalam kehidupan. Selama hidup, dia hampir tidak pernah menetap di satu tempat dalam waktu lebih dari 3 tahun, minimal pindah rumah. “Banyak waktu dihabiskan di luar domisili KTP saya. Gaya hidup seperti ini saya lihat sebagai peluang untuk mengasah kemampuan beradaptasi dalam banyak hal,” kata dia.

Menurut Adeline, sering kali manusia tidak mau keluar dari zona nyamannya. Lalu dari dalam zona itu kita iri melihat orang lain yang mampu melakukan banyak hal yang tidak biasa.

Sebagai penyuka olahraga, Adeline pun sempat berpindah-pindah melalukan kegiatan yang diminati. Dahulu dirinya menggandrungi lari, renang, dan lainnya, kemudian ia menekuni yoga dan buteyko. Namun, setiap aktivitas, imbuh Adeline, memiliki keseruan masing-masing. Apa pun aktivitas yang dipilih, ia me­nyarankan agar seseorang memahami betul apa yang terjadi pada tubuhnya saat melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Jika tidak, tujuan olahraga yang dilakukan tidak akan tercapai optimal.

“Misalnya, lari. Pada akhirnya, orang hanya tahu berlari yang penting kencang dan sampai finis. Itu yang membuat banyak orang sakit setelah berlari, ototnya, badan menjadi burn out, dan lainnya. Jadi berhati-hatilah,” jelas Adeline. (Try/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More