Jumat 10 Januari 2020, 19:42 WIB

Megawati Minta Perempuan Indonesia Ikut Torehkan Sejarah Bangsa

Cahya Mulyana | Politik dan Hukum
Megawati Minta Perempuan Indonesia Ikut Torehkan Sejarah Bangsa

Antara/Aditya Pradana Putra
Ketua umum PDIp Megawati Soekarnoputri di arena Rakernas I PDIP

 

KETUA Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, meminta agar perempuan Indonesia percaya diri dan yakin bahwa usaha keras akan menghasilkan prestasi besar. Hilangkan pemikiran bahwa kaum hawa hanya cukup berada di belakang layar.

"Jadi anak-anakku, saya tegaskan sebagai perempuan jangan merasa terpinggirkan, jangan merasa perempuan itu konco wingking, selalu berada di belakang. Tidak. Pada kenyataannya saya bisa membuktikan jadi nomor satu. Presiden perempuan jadi nomor satu. Wakil Presiden perempuan nomor satu," katanya saat memberikan pidato politik di perayaan HUT ke-47 sekaligus Rakernas I PDIP di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Jumat (10/1).

Megawati menyampaikan hal itu di hadapan ribuan kadernya. Bukan hanya mereka, Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin dan sejumlah wakil presiden terdahulu yaitu Try Sutrisno, Budiono dan Jusuf Kalla juga hadir.

Hadir juga sejumlah menteri dari Kabinet Indonesia Kerja Jilid II, seperti Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Refomasi Birokrasi Tjahjo Kumolo.

Menurut Megawati, perempuan tidak ditakdirkan sebagai konco wingking, ungkapan dalam bahasa Jawa yang bermakna berada di belakang. Arti lain, perempuan sekedar menjadi ibu yang melahirkan anak, serta tugasnya hanya memasak makanan, tanpa hak untuk bicara serta berperan.

Baca jugaMegawati: Jangan Jadi Politisi Populis yang Mengaduk Emosi Rakyat

Ia menjelaskan dirinya sebagai perempuan cukup membuktikan bisa menggapai posisi atau jabatan yang tinggi. Bahkan mendapatkan beberapa gelar doktor kehormatan dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Di sisi lain, Megawati menyampaikan bahwa ideologi Pancasila harus dibumikan dalam kegiatan sehari-hari, dalam aktivitas politik, serta di ruang publik. Kemudian cinta terhadap bangsa dan tanah air dengan memperjuangkan kehidupan negara yang mandiri.

"Bapak mengatakan, saya memohon kepada Allah SWT, tetapkanlah kecintaannya pada tanah air dan bangsa, selalu menyala-menyala di dalam saya punya keadaan sampai terbawa masuk ke dalam kubur saat Allah memanggil," tuturnya.

Megawati pernah dalam posisi terendah saat memimpin Partai Demokrasi Indonesia. Saat itu, Megawati menyadari berada di posisi berseberangan dengan pemerintahan Soeharto. Namun, perbedaan itu membuat kantor PDIP diserang pada 27 Juli 1996.

"Saya sangat merasa prihatin. Karena saya merasa bukan diri saya yang terobek. Tetapi hukum di Indonesia terobek. Karena bagaimana mungkin sebuah partai yang telah sah ditandatangani oleh republik ini lalu tiba-tiba diserang dan dengan korban yang sampai sekarang ini belum diketahui berapa jumlah yang sebenarnya," kata dia.

Baca juga : Mega: Kader yang Cari Keuntungan di PDIP, Silakan Keluar!

Meski kerap merasa terjatuh, Megawati selalu berpegangan kepada pesan sang bapak, Presiden pertama RI Soekarno. Lalu, Megawati juga berpegangan pada keyakinan ideologi Pancasila yang memiliki gagasan membumi.

Menurut dia, keyakinan itu menjadi penyulut semangat bahwa Pancasila harus diperjuangkan. Agar terwujud kemerdekaan yang penuh, makmur, adil, sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Itulah doa bapak saya, yang dipanggil oleh rakyat Indonesia dengan sebutan Bung Karno. Doa bapak selalu menuntun saya disaat merasa gamang atau hampir kehilangan asa dalam pertarungan politik," pungkasnya. (Cah)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More