Rabu 08 Januari 2020, 23:15 WIB

Peruri Siapkan Rp200 Miliar untuk Bisnis Digital Security

MI | Ekonomi
Peruri Siapkan Rp200 Miliar untuk Bisnis Digital Security

Ilustrasi
Digital Security

 

PERUSAHAAN  Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) menyiapkan dana pembelanjaan atau capital expenditure (Capex) sebesar Rp200 miliar untuk mengembangkan produk baru, digital security, yang mulai dikembangkan sejak 2017.

Direktur Pengembangan Usaha Peruri Fajar Rizki mengatakan perkembangan bisnis baru ke bisnis digital security dilakukan guna mempersiapkan perusahaan dalam menghadapi disrupsi. Perkembangan teknologi, kata dia menuntut perusahaan harus cepat melakukan transformasi digital.

“Saat ini Peruri punya tiga produk digital security yakni Peruri Code, Peruri Sign, dan Peruri Trust. Kita masuk ke digital sebagai layanan keamanan digital yang memberi perlindungan bagi perusahaan digital dan kustomernya,” kata dia dalam acara Ngopi BUMN, di Jakarta, Rabu (8/1).

Untuk tahun ini, Fajar mengungkapkan bahwa target omzet yang diperoleh dari bisnis digital security mencapai Rp370 miliar.

Saat ini perusahaan sedang menggarap smartcard dengan teknologi terbaru yang memiliki permintaan cukup tinggi dari sektor perbankan dan telekomunikasi. Pendapatan dari smartcard sendiri ditargetkan sebesar Rp300 miliar.

“Permintaan dari telekomunikasi masih tinggi, karena penduduk kita sekitar 260 juta dan pengguna smartphone sekitar separuhnya. Belum lagi para milenial kita itu kalau memiliki nomor (telpon) lebih dari satu. Jadi permintaanya cukup tinggi,” imbuhnya.

Selain itu, kata dia, permintaan terhadap smartcard juga cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan adanya pergeseran yang terjadi di kartu debit perbankan yang semula menggunakan magnet diganti menggunakan chip.

Fajar menjelaskan Peruri juga telah memperoleh sertifikasi sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) dari Kementerian Komunikasi dan Informasi. Hingga saat ini Peruri menjadi satu dari enam perusahaan yang mengatongi Certificate Authority (CA) resmi dari Kemkominfo dan satu-satunya BUMN yang menyandang status tersebut.

Namun begitu, Fajar mengakui bahwa fokus terhadap core business perusahaan dalam sektor percetakan uang kertas dan uang logam untuk bank sentral (Bank Indonesia) masih menjadi kontribusi utama bagi perusahaan. Pada 2019, order percetakan uang rupiah dari BI berkontribusi sekitar 60% dari total pendapatan usaha sebesar Rp3,9 triliun.(Van/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More