Rabu 08 Januari 2020, 13:35 WIB

Say No to Plastic! Petani Muba Olah Pelepah Pinang Jadi Piring

Dwi Apriani | Nusantara
Say No to Plastic! Petani Muba Olah Pelepah Pinang Jadi Piring

MI/Dwi Apriani
Kelompok petani di Koperasi Mendis Maju Bersama mengolah pelepah pinang menjadi peralatan makan

 

PELEPAH pinang seringkali dianggap sampah. Namun, sekelompok petani di Desa Mendis, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), menyulap sampah menjadi peralatan yang berguna. Di antaranya menjadi piring, kotak nasi, sendok, hingga beragam wadah penyimpanan makanan.

Ketua Koperasi Mendis Maju Bersama, Supriyanto, menuturkan, masyarakat yang bermukim di kawasan hidrologis gambut sungai merang ini mulai memanfaatkan pelepah pinang untuk pembuatan piring, kotak nasi dan sebagainya.

Bukan hanya digunakan sendiri, produk hasil olahan kelompok masyarakat sudah dipasarkan secara luas di Tanah Air guna mendukung kampanye bebas plastik.

"Banyak wisatawan yang datang ke desa kami ini dan membeli hasil produk olahan pelepah pinang untuk buah tangan," kata dia.

Bukan hanya wisatawan, pemerintah daerah setempat pun kini menggunakan produk olahan tersebut untuk pengganti wadah plastik dan styrofoam dalam acara kedinasan.

"Banyak pesanan yang datang dari luar kota seperti Jakarta dan kota besar lainnya. Alhamdulillah, masyarakat di desa kami sekarang banjir pesanan, karena permintaan ini datang dari restoran-restoran besar di luar kota," jelasnya.

Untuk memproduksi peralatan makan dari pelepah pinang tidak terlalu sulit. Sebelum dicetak menggunakan mesin pres, pelepah dicuci bersih menggunakan air. Selanjutnya dikeringkan baik menggunakan pemanas elektrik maupun manual di bawah terik matahari.

Selanjutnya dilakukan pemotongan sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pelepah ditaruh ditempat penyimpanan bahan baku atau bisa langsung di cetak.

"Sebelum cetak, pelepah harus dibasahi agar lebih lentur dan tidak gampang sobek. Untuk corak dan warna, tidak perlu dipelitur karena hasil produksi ini mengilat secara alami," ungkapnya.

Baca juga: Yuki Kato Dukung Larangan Kantong Plastik di Jakarta

Soal persediaan bahan baku terbilang mencukupi dari sekitar Desa Mendis. Bila kekurangan, kelompok masyarakat mendatangkan bahan baku langsung dari Jambi yang berjarak sekitar 2 jam dari Desa Mendis.

Pada tingkat petani, pelepah dibeli seharga Rp300-400 per lembar berukuran lebar minimal 25 cm. Setiap lembar bahan bisa dijadikan maksimal dua produk.

Jika sudah jadi, produk berupa piring bisa dipasarkan dengan harga Rp1.500-1.800 per buah.

"Bila cuaca bagus kami bisa produksi hingga 50 ribu produk dalam satu bulan," ujarnya.

Sementara itu, Community Bussines Development Specialist Kelola Sendang ZSL Indonesia, Wijaya Asmara, memberikan pendampingan dari hulu hingga hilir agar masyarakat tidak lagi memandang pelepah pinang sebagai sampah. Pendampingan berupa pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan untuk mengurangi ketergantungan warga dari pemanfaatan hasil hutan secara ilegal seperti perambahan dan membuka dengan cara membakar.

"Karya warga Mendis sudah kami daftarkan pada kantor Kementerian Hukum dan HAM. Kami akan meningkatkan kemampuan pengrajin dalam hal pengembangan produk dan usaha," kata Wijaya.

"Bila hari ini baru mampu memproduksi piring dan kotak nasi, tidak lama lagi warga bisa membuat sendok, gelas, dan mangkok. Sedangkan sisa potongan pelepah dipastikan bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi dan kambing," imbuhnya.

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin bangga dengan hasil produk ramah lingkungan yang diproduksi warga Desa Mendis.

"Ini program pemberdayaan masyarakat Muba yang hidup dan bermukim di kawasan hidrologis gambut sungai Merang Musi Banyuasin dan sangat terbantu sekali, tentunya program yang baik ini menambah penghasilan warga sebagai bagian pengentasan kemiskinan serta produk yang dihasilkan pun ramah lingkungan," ujar Dodi.

Ia berharap program pemberdayaan masyarakat seperti ini harus terus digenjot sesuai dengan potensi yang ada di daerah Musi Banyuasin. OPD terkait pun dapat bersinergi bersama-sama dengan stakeholder terkait guna meningkatkan pendapatan warga Muba.

"Melalui program pemberdayaan masyarakat kita bersahabat dengan alam, menjaga lingkungan kita dan terus berusaha bersama menjadikan program pemberdayan masyarakat seperti ini sebagai bagian program penurunan angka kemiskinan dan menambah pendapatan warga kita yang hidup di Muba," tukasnya.

Produk pelepah pinang ini pun akan segera disosialisasikan kepada masyarakat Muba bahkan mancanegara. Ketua TP PKK Thia Yufada akan terlibat langsung dalam pemasaran produk inovasi pelepah pinang. Ia yakin produk ini akan menjadi sorotan dunia dan menjadi produk unggulan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat kabupaten Muba.

"Saya tentunya merasa sangat senang dan bersyukur sekali, karena ini sesuai dengan visi kabupaten Muba. Karena kita merupakan satu dari sekian banyak kabupaten yang tergabung dari lingkar temu kabupaten lestari. Artinya, segala sesuatu yang bergerak baik peraturan maupun keseharian dari kabupaten Muba ini adalah menuju kelestarian. Ini, salah satu contoh kita peduli terhadap kesehatan masyarakat," ungkap Thia.

Tim PKK Kabupaten Muba akan melakukan terobosan guna mengenalkan produk ramah lingkungan ini. Salah satu sasaran kampanye adalah kaum ibu dan remaja. Dalam waktu dekat, pihaknya pun berencana mengadakan lomba kreasi produk pelepah pinang menjadi wadah makanan beku.

"Saya yakin produk ini akan lebih berkembang lagi keunikannya karena ide-idenya kaum remaja atau kaum muda di Muba ini sangat luar biasa," paparnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More