Rabu 08 Januari 2020, 13:00 WIB

Pembunuhan Hakim Medan Diduga Berlatar Masalah Rumah Tangga

Yoseph Pencawan | Nusantara
Pembunuhan Hakim Medan Diduga Berlatar Masalah Rumah Tangga

MI/Yoseph Pencawan
Zuraidah Hanum (tengah berbaju orange), tersangka pelaku pembunuhan suaminya, Hakim Pengadilan Negeri Medan Jamaluddin.

 

POLDA Sumatra bersama dengan Polrestabes Medan mulai berhasil mengungkap kasus pembunuhan Hakim Pengadilan Negeri Medan, Jamaluddin, yang terjadi pada 28 November 2019. Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin mengatakan pihaknya meyakini Jamaluddin yang ditemukan tewas di kebun sawit di Desa Kutalimbaru, Deliserdang, pada 29 November 2019 adalah korban pembunuhan berencana.

"Dengan kemajuan teknologi dan diback-up Laboratorium Kriminal Forensik Mabes Polri serta Direktorat Cybe. Dari bukti-bukti forensik dan bukti-bukti IT, kami memiliki titik terang mengungkap kasus ini," ujarnya kepada wartawan, Rabu (8/1/2020).

Untuk sementara, jelas Kapolda, motif yang dituduhkan penyidik adalah masalah rumah tangga, antara korban dengan istrinya. Masalah itu menimbulkan percekcokan yang tidak bisa didamaikan sehingga sang istri berinisiatif membunuh suaminya.

Saat ini polisi telah melakukan penahanan terhadap tiga orang yang juga sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Zuraida Hanum (ZH), 41, M Jepri Pratama (JP), 42, dan M Reza Fahlevi (RF), 29. Selain itu, penyidik juga telah meminta keterangan dari 50 orang saksi. Ketiga pelaku dituduhkan pasal 340 mengenai pembunuhan berencana dan di-junctokan dengan pasal 338 KUHP.

Dengan alat-alat bukti digital dan forensik yang dimiliki, penyidik yakin ketiga orang di atas adalah para pelakunya dengan pelaku utama adalah istri korban, yakni ZH. ZH lah yang merekrut kedua eksekutor pembunuhan suaminya. Adapun JP dan RF tidak memiliki hubungan keluarga dan tidak mengenal korban. Keduanya melakukan pembunuhan itu karena permintaan ZH.

baca juga: Total Kekayaan Bupati Sidoarjo Rp60 Miliar

Dalam minggu ini pihak kepolisian akan merekonstruksi kasus ini dan Kapolda berjanji proses itu akan dilakukan secara transparan. Kapolda juga memastikan tidak ada yang bisa merusak alat-alat bukti karena bukti-bukti digital dan forensik yang dimiliki penyidik tidak bisa dihapus. Dia juga memastikan publikasi hasil pengusutan oleh penyidik atas kasus ini dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.(OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More