Rabu 08 Januari 2020, 11:42 WIB

Menyambut 2020: Babak Baru Implementasi AI Pertanian

Kuntoro Boga Andri, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian | Opini
Menyambut 2020: Babak Baru Implementasi AI Pertanian

Dok.Kementan

PEMANFAATAN teknologi merupakan keniscayaan bagi upaya peningkatan produksi pertanian di Indonesia, terutama dalam konteks mutu dan daya saing. Ketersediaan inovasi teknologi juga merupakan salah satu kunci peningkatan kesejahteraan petani dan menarik minat generasi muda dalam menciptakan aneka peluang bisnis turunan.

Karena itu, pemerintah pun memandang penggunaan teknologi modern di sektor pertanian menjadi pilihan mutlak. Sejumlah lembaga riset pemerintah,seperti LIPI, BPPT, dan Balitbangtan Kementan beserta sejumlah perguruan tinggi terus menggiatkan penciptaan inovasi berorientasi pada kebutuhan pengguna. Dalam konteks pemanfaatan teknologi ini, Kementerian Pertanian (Kementan) berinisiatif menggenjot produktivitas pertanian dengan mengimplementasikan teknologi 4.0 di sektor pertanian.

Terdapat lima teknologi utama yang menopang implementasi Industri 4.0, yaitu: Internet of Things (IoT), Computer Vision, Artificial Intelligence (AI), Human-Machine Interface (HMI), teknologi robotic, dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Kesemuanya itu mentransformasi cara manusia berinteraksi hingga pada level yang paling mendasar. Implementasi Industri 4.0 juga diarahkan untuk efisiensi dan daya saing.

Artificial Intelligence (AI) sebagai salah satu teknologi utama yang mendukung implementasi Industri 4.0 sangat potensial dan prospektif. Sektor pertanian juga ikut berubah seiring dengan tren ini. Karena itu tidak bisa dihindari kemudian muncul terminologi smart farming (pertanian cerdas), precission farming (pertanian presisi) dan istilah-istilah yang merujuk pada industri 4.0 dan pengaplikasian teknologi AI.

Pemanfaatan AI dapat dilihat implementasinya dalam pertanian global. Sebuah perusahaan dari Illinois, AS telah memanfaatkan AI yang mampu mengenali hama atau penyakit tanaman seperti tumbuhnya jamur dan juga kekurangan air pada tanaman jagung dan kedelai, beberapa minggu sebelum mata manusia dapat melihat apa yang terjadi. Startup tersebut  menawarkan para petani analisis kecerdasan buatan dari foto yang diambil dari drone.

Dengan kemampuan deteksi tersebut manajemen perkebunan tidak terlambat melakukan perawatan terhadap tanaman yang menghadapi masalah penyakit. Jikalau kita dapat mengetahuinya lebih dini, seperti adanya hama misalnya, para petani dapat bertindak lebih cepat guna mencegah agar tidak mengganggu produktivitas.

Para petani tomat dan strowberi di Jepang telah menggunakan sebuah jaringan kamera yang dipasang pada atap rumah kaca untuk memantau dan mengenali apabila ada masalah. Juga banyak petani di Jepang saat ini telah menggunakan drone untuk membantu memantau areal persawahan mereka.

Menyambut Implementasi AI

Sejauh mana implementasi teknologi AI dalam sektor pertanian Indonesia? Kementerian pertanian di tahun 2020 akan memberikan perhatian khusus pada implementasi AI. Apalagi teknologi AI menjadi bagian penting dari model pertanian presisi yang maju dan modern. Filosofi dasar pertanian presisi yang dimanfaatkan adalah mengukur dan mengelola variabilitas seperti hasil, tanah, hama, dan gulma di seluruh lahan yang ada untuk meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan praktik pertanian dalam sistem usahatani. Dengan cara ini, produktivitas, kualitas produk dan keuntungan ekonomi diharapkan lebih optimal.

Sejumlah inovasi telah dihasilkan dan dikembangkan oleh Kementerian Pertanian. Di antaranya smart Green House dengan memanfaatkan teknologi IoT (Internet of Things). Pada inovasi ini semua aktivitas yang memengaruhi petumbuhan tanaman diatur melalui internet dengan menggunakan sistem AI. Misalnya dengan melakukan pengaturan terhadap cahaya, air dan hal yang memengaruhi pertumbuhan tanaman agar dapat tumbuh dengan kualitas yang terbaik.

Inovasi berikutnya adalah Smart Irrigation System yang juga memanfaatkan teknologi IoT berbasis AI.  Inovasi  tersebut diterapkan melalui irigasi bawah tanah yang dimanfaatkan untuk tanah kering. Sistem kerjanya adalah dengan mengatur kelembaban tanah dengan sistem AI, sehingga tanah tidak gersang lagi dan dapat menjadi lembab sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Inovasi lainnya adalah pemanfaatan autonomous technology pada Automatic Tractor. Melalui penerapan AI, petani  dapat mengendalikan pola pekerjaan traktor secara cerdas. Dengan cara ini maka petani tersebut dapat mengendalikan mesin tanpa harus turun ke sawah.

Penerapan AI pertanian memiliki dampak positif langsung bagi petani produsen, maupun konsumen hasil pertanian. Meskipun terdapat sejumlah tantangan dalam penerapannya. Salah satu tantangannya adalah biaya dan infrastruktur. Piranti teknologi yang canggih tentu tidak murah harganya, apalagi besarnya kawasan pertanian Indonesia. Selain masih membutuhkan tambahan piranti pendukung  yang masif, di sejumlah wilayah,  infrastruktur internet dan aksesbilitasnya juga perlu terus ditingkatkan.

Tantangan lainnya adalah kemampuan petani dalam mengadopsi teknologi. Walaupun teknologi ini  difokuskan terhadap petani milenial yang digital native, namun sebagian besar sektor ini masih dihuni generasi tua.  Selain banyak petani muda yang masih belum melek teknologi, karena pendidikannya yang relatif rendah. Disinilah perlunya pendampingan secara intensif melalui sebuah pusat pelatihan, pusat informasi dan komando program yang terpadu.

Pada tahun 2020, penerapan implementasi teknologi AI dalam pembangunan pertanian akan memasuki babak baru dengan dibangunya Agriculture War Room (AWR) di Kementerian Pertanian sebagai pusat pengendalian Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani).  Kostratani sendiri adalah pusat kegiatan pembangunan pertanian tingkat kecamatan yang merupakan optimalisasi tugas, fungsi, dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dengan memanfaatkan teknologi 4.0 dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa teknologi AI wajib menjadi basis utama dalam AWR menggerakkan pertanian dikawasan binaan Kostratani.  Kostratani ini akan memiliki banyak peran, baik sebagai pusat pergerakan sektor pertanian, pusat pelatihan dan penyuluhan, pusat konsultasi agribisnis, pengembangan jejaring kemitraan, serta pusat data dan Informasi pertanian daerah.

Kostratani yang dibangun akan menjalankan sistem manajemen data dan informasi sehingga Kementerian (pemerintah pusat) bisa mengetahui kondisi lapangan secara cepat dan akurat. Teknologi AI akan didukung aplikasikan dalam pengumpulan informasi pertanian dan mengolah data luas lahan, luas tanam, luas panen, serta produktivitas setiap komoditas, sebagai sebuah informasi. Data iklim (automatic weather station/ AWS) dan monitoring standing crop juga menjadi bagian penting dari informasi yang dikumpulkan. Teknologi AI akan berperan dalam mengolah semua data dan informasi sehingga kebijakan yang diambil akan tajam dan sahih.  Akurasi data dan aksesbilitasnya memang menjadi salah satu fokus utama Menteri Syahrul. Disadari data dan informasi yang tepat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan pertanian.

Kostratani  dan AWR berbasis AI yang dibangun, diharapkan akan mengilangkan rentang jarak dan waktu dalam proses adopsi  teknologi pertanian modern. Sebagai pusat pembelajaran inovasi, Kostratani akan menjadi wahana  pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi digital dalam pendampingan pembangunan pertanian di daerah.  (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More