Selasa 07 Januari 2020, 11:10 WIB

Gugah Kesadaran Antisampah Plastik

Yakub P Wijayaatmaja | Politik dan Hukum
Gugah Kesadaran Antisampah Plastik

MI/Susanto
Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK, Rosa Vivien.

 

SAMPAH plastik menjadi isu global yang tak pernah berakhir. Pasalnya, sampah plastik butuh ribuan tahun untuk bisa terurai. Apalagi, jika dibuang ke laut, sangat berbahaya. Jika dimakan ikan yang kemudian dikonsumsi manusia, bisa menjadi racun dan penyakit.

Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) gencar mengampanyekan pengelolaan sampah. Apalagi, sampah asal Indonesia kini berada di urutan kedua dunia.

Menurut Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK, Rosa Vivien, sampah plastik merupakan masalah utama yang harus segera diatasi.

Rosa pun memiliki tiga pendekatan besar soal sampah. Pertama, pemerintah harus mulai mengajak masyarakat untuk membawa sesuatu tanpa plastik. Contohnya, membawa botol minuman tumbler. Kedua, circular eco-nomy. Sampah bisa dikelola menjadi sumber uang bagi masyarakat. Ketiga, membakar plastik.

Rosa menilai Indonesia tak bisa menggantungkan semuanya kepada pengelolaan plastik. Cara ampuh memberantas sampah ialah membakar.

"Saya minta untuk segera mengampanyekan tentang pengurangan sampah di tempat pembuangan sampah (TPS)," ujar Rosa dalam program gelar wicara Hot Room di Metro TV yang dipandu pengacara kondang Hotman Paris Hutapea.

Anggota Komisi IV DPR, Yessy Melania, mengaku sulit untuk membiasakan masyarakat yang telah terbiasa membungkus barang apa pun dengan plastik.

Ia bersama anggota Komisi IV lainnya berencana menggandeng kementerian terkait membuat gerakan memilah sampah yang bisa didaur ulang.

"Iya, pasti berjalan dan kita mendukung adanya bank sampah karena bagus sekali. Kita juga harus memikirkan orientasi nilai ekonomis bagi masyarakat, agar sampah bisa jadi berkah," ujarnya.

Sementara itu, pendiri Bye Bye Plastic Bag, Melati Wijsen, percaya bahwa masyarakat Indonesia bisa mengubah pola pikir untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai. "Sebelum adanya tas plastik di Bali kita pakai apa? Daun pisang. Jadi hal-hal seperti itu harus sudah mulai ditekan-kan," ucapnya.

Sebagai pendiri gerakan antiplastik sekali pakai, Melati telah mengampanyekan antiplastik melalui pendidikan kepada 60 ribu pelajar.

Ahli hukum lingkungan, I Made Arya Utama, mengakui bahwa menghilangkan semua produk tanpa plastik memang tidak mungkin. Karena itu, dia menyarankan untuk mengurangi secara pelan-pelan penggunaan plastik sekali pakai.

"Masalah plastik adalah tanggung jawab bersama. Individu dan masyarakat harus menjadi pengelola sampah yang benar. Intinya harus dari diri sendiri." (Ykb/P-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More