Selasa 07 Januari 2020, 08:26 WIB

Ini Profil WNI Pemerkosa Terganas Sepanjang Sejarah Inggris

Fajar Nugraha | Internasional
Ini Profil WNI Pemerkosa Terganas Sepanjang Sejarah Inggris

BBC/Facebook
Reynhard Sinaga

 

SEKILAS tidak ada yang spesial dari sosok Reynhard Sinaga. Tetapi siapa menyangka jika dirinya gemar memangsa pria di tengah malam.

Sebagai mahasiswa jurusan geografi Universitas Leeds, Reynhard Sinaga biasa-biasa saja. Berusia 36 tahun, dia jelas lebih tua dari sebagian teman kuliah. Dengan fitur kekanak-kanakan, tubuh kurus dan rambut terbelah rapi, ia tidak terlalu menonjol.

Renyhard memang memiliki beberapa teman dekat tetapi mereka yang mengenalnya sadar bahwa dia adalah sosok yang religius. Sudah 12 tahun dia berdomisili di Inggris dan tinggal di Manchester.

Namun, yang tidak mereka ketahui adalah bahwa mahasiswa yang tampaknya reilgius dan sopan itu menyembunyikan kehidupan ganda yang mengerikan.

Pada malam hari, Reynhard adalah seorang pemerkosa berantai dan penyerang seks yang membuntuti jalanan Manchester.

Baca juga: Aksi Biadab Reynhard Diakhiri Pemain Rugby

“Lebih dari 10 tahun, ia mungkin telah menggunakan obat bius, membuat korbannya tidak sadarkan diri, dan kemudian menganiaya lebih dari 190 pria yang berbeda - banyak di antara mereka siswa berusia 18 dan 19 tahun,” kata polisi, seperti dikutip The Independent, Selasa (7/1).

Kebobrokannya sedemikian rupa sehingga kini dianggap sebagai pemerkosa paling produktif yang pernah ditangkap di Inggris setelah dinyatakan bersalah atas pelanggaran terhadap 48 pria. Namun, diyakini dia telah memperkosa dan memburu hingga 190 pria.

Sekarang, kejahatan pria lulusan Universitas Indonesia itu dapat diungkapkan setelah hakim mencabut semua pembatasan pelaporan setelah empat persidangan yang membuatnya dihukum atas dakwaan 159 pelanggaran seksual terhadap 48 pria. Kejahatannya berlangsung antara Januari 2015 dan Juni 2017.

Di antara korbannya adalah laki-laki heteroseksual dan homoseksual, mahasiswa, profesional, hingga satu anggota militer Inggris (RAF). Usia mereka berkisar antara 18 hingga 35 tahun.

“Satu orang diperkosa delapan kali dalam delapan jam saat kondisinya tidak sadar. Satu korban lainnya masih di perguruan tinggi ketika dia diserang,” jelas pihak kepolisian.

Semua korban Reynhard ditargetkan ketika mereka sendirian, mabuk, dan rentan selama malam di pusat kota Manchester.

Dia bersikap manis dengan korban, memikat mereka kembali ke apartemen pusat kota dengan janji minuman keras gratis, pesta setelah atau, dalam banyak kasus, menawarkan untuk pengisi daya telepon.

Lalu, polisi yakin, Reynhard memasukan minuman korban dengan obat GHB yang dikenal sebagai obat digunakan oleh para pemerkosa.

Berdasarkan keterangan tertulis Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha yang diterima, Senin (6/1), proses persidangan Reynhard telah berlangsung dalam empat tahap.

Dalam persidangan terakhir, hakim memutuskan hukuman masa tahanan selama 30 tahun. Dalam sidang tahap 1-4, Reynhard telah dinyatakan terbukti bersalah atas 159 dakwaan.

Hakim merinci dakwaan Reynhard, yakni tindakan pemerkosaan sebanyak 136 kali, usaha pemerkosaan 8 kali, kekerasan seksual 13 kali dan kekerasan seksual dengan penetrasi 2 kali.

"Perlindungan hukum yang dilakukan KBRI London dalam bentuk memastikan RS mendapat pengacara, dan juga mendampingi selama rangkaian persidangan. Pelindungan non-litigasi dilakukan dalam bentuk kunjungan kekonsuleran selama RS di penjara, dan memfasilitasi pertemuan serta komunikasi keluarga dengan RS dan pengacara," ujar Dir PWNI Kemenlu RI.

"Semua perlindungan diberikan untuk memastikan RS mendapatkan hak-haknya secara adil dalam sistem peradilan setempat," sambungnya.

Reynhard tiba di Inggris pada 2007 untuk mengambil studi master (S2) di Universitas Manchester. Ia kemudian mengambil studi doktoral dalam bidang geografi manusia di Universitas Leeds. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More