Selasa 07 Januari 2020, 08:00 WIB

Belajar Melawan Hoaks dari Negeri Paman Sam (2)

Zilvia Iskandar dari Amerika Serikat | Humaniora
Belajar Melawan Hoaks dari Negeri Paman Sam (2)

Zilvia Iskandar/Metro TV
Peserta IVLP bersama Andy Carvin, Senior Fellow di Digital Forensic Research Lab (DFRLab).

 

Jangan Ragu Minta Warganet Mengecek 

ELEMEN kedua dalam memahami ekosistem misinformasi dan disinformasi, menurut Shaydanay, adalah motivasi pembuat konten.

"Motivasi dalam membuat hoaks bisa bermacam-macam, ada yang tidak disengaja karena kesalahan jurnalistik dan ada yang disengaja karena berbagai maksud tertentu," ujarnya seperti dilaporkan jurnalis Metro TV, Zilvia Iskandar, dari Amerika Serikat.

Selain itu, elemen ketiga, cara konten disebarluaskan.

"Hoaks disebarkan melalui berbagai mekanisme penyebaran dari yang sederhana sampai rumit," ungkapnya.

Cara penyebarluasan konten, kata Shaydanay, yaitu pertama, hoaks disebarkan secara tidak sadar oleh pengguna media sosial karena asal dan tidak mengecek isi konten terlebih dahulu.

Kedua, lanjutnya, hoaks disebarkan oleh jurnalis yang berada di bawah tekanan tinggi untuk bisa dengan cepat membuat banyak konten di media sosial. Ketiga, hoaks disebarkan oleh kelompok-kelompok yang terkoneksi untuk memengaruhi pendapat publik. Keempat, hoaks disebarkan oleh akun bot dan pabrik hoaks (troll factory) sebagai bagian dari strategi kampanye.

Poin kedua bisa jadi akan menjebak jurnalis ke dalam hoaks. Nah, untuk membantu kerja jurnalis di era digital dan post-truth ini, peserta IVLP bertemu dengan Andy Carvin, jurnalis yang juga Senior Fellow di Digital Forensic Research Lab (DFRLab), Washington DC.


Baca juga: Awas, Ada Tujuh Jenis Hoaks


Andy menjelaskan bahwa di era digital ini, banyak informasi yang bisa dicek kebenarannya dengan menggunakan sumber terbuka (open source) yang tersedia untuk publik. Andy mencontohkan penggunaan reverse image search untuk menemukan sumber sebuah foto.

Melalui https://images.google.com/ misalnya, kita bisa mencari foto-foto pembanding dengan cara mengunggah foto yang kita miliki. Biasanya cara ini dilakukan untuk mengetahui benarkah foto tersebut diambil di lokasi A, benarkah foto tersebut diambil pada tanggal sekian, benarkah foto tersebut adalah foto si B, dan benarkah foto tersebut menggambarkan peristiwa C.

Meski bisa memanfaatkan berbagai fitur teknologi, adakalanya partisipasi publik menjadi kunci. Dalam beberapa kasus, Andy melibatkan partisipasi publik untuk mengecek fakta. Pernah suatu kali DFRLab tempat Andy bekerja, menerima foto yang diklaim berasal dari lokasi perang.

Namun karena kebenaran foto itu sulit dikonfirmasi, Andy mengunggah foto itu di media sosial dan meminta bantuan warganet untuk memberikan informasi apapun yang mereka ketahui tentang foto itu.

"Anda akan terkejut mengetahui begitu banyak informasi yang bisa didapatkan dari publik. Bahkan seorang anak berumur 11 tahun yang hobi mempelajari seluk-beluk militer pun bisa menjadi informan berharga," ungkap Andy. (Bersambung....) (Ade Alawi/OL-1)

 

Baca Juga

Ilustrasi

Tiga Gempa Guncang Pulau Jawa Hari ini, Warganet Panik

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 07 Juli 2020, 19:38 WIB
Gempa pertama terjadi pada pukul 05.54 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan 6,1 skala...
MI/Apul Iskandar

Gugus Tugas Covid-19 Pematangsiantar Tinjau Persiapan Ibadah

👤Apul Iskandar 🕔Selasa 07 Juli 2020, 19:29 WIB
Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pematangsiantar, Daniel Siregar mengatakan, peninjauan dilakukan sesuai dengan...
INSTAGRAM/podluckpodcast

Cerpen Audio Podcast Main Mata, Menikmati Buku Tanpa Membaca

👤Fathurrozak 🕔Selasa 07 Juli 2020, 19:09 WIB
Podcast Main Mata merupakan salah satu kanal siniar (podcast) yang turut mengembangkan format ini sebagai konten...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya