Senin 06 Januari 2020, 18:50 WIB

Jangan Sampai Ada Penyebaran

Siswantini Suryandari | Humaniora
Jangan Sampai Ada Penyebaran

ANTARA FOTO/Julius Wiyanto/mel/
RIA IRAWAN JALANI KEMOTERAPI:

 

SENIN (6/1) pagi, di grup percakapan WhatsApp para survivor lovepink banjir ucapan bela sungkawa atas meninggalnya artis Ria Irawan. Meski tidak mengenal secara langsung sosok Ria, sebagai sesama penyintas, saling memberikan simpati dan rasa duka cita kepada almarhumah.

Sebagai pribadi pernah wawancara almarhum sebelum mengidap kanker, Ria dikenal sebagai perempuan yang enerjik, lucu, dan selalu bicara ceplas ceplos.

Dan sifat positifnya itu terbawa saat Ria divonis kanker. Tercatat Ria menjalani operasi pengangkatan rahim pada 2014 dan hasil biopsi sudah menjalar ke kelenjar getah bening pada panggul dengan stadium 3C.

Ia pun sudah menjalani kemoterapi dan penyinaran (radioterapi) hingga kemudian dinyatakan bersih. Namun kemudian kabar terbaru pada 2019, sel-sel kanker sudah menjalar ke otak dan paru-paru. Ria kembali menjalani terapi di RSCM. Ia mulai menjalani penyinaran (radioterapi) di RSCM. Terlihat dari akun Instagramnya terlihat Ria masih semangat menjalani penyinaran untuk menghentikan penyebaran sel kanker di otaknya.

Namun seperti dikutip pernyataan dari suami Ria Irawan, Mayky Wongkar, yang menceritakan obrolan terakhirnya dengan sang istri. Ria yang selama ini selalu semangat menjalani terapi pun menyebut dirinya sudah merasa capek atas penyakitnya itu.

Alasannya dia harus menjalani dua terapi, otak dan paru-paru. Seperti dikatakan Mayky bahwa fisik Ria sudah tidak kuat lagi dalam menjalani kemoterapi. Capek...


Baca juga: Dikaruniai Bayi Laki-laki, Ahok-Puput Dibanjiri Selamat

 

Saya sebagai penyintas kanker payudara stadium 3B bisa merasakan bagaimana capek baik secara fisik maupun psikologis dalam berobat kanker. Pengobatan kanker membutuhkan jangka panjang. Dokter setiap tiga bulan, enam bulan atau setahun sekali meminta pasien menjalani evaluasi. Hal itu juga membuat pasien seperti senam jantung apabila melihat hasil evaluasi ternyata ada penyebaran.

Pada prinsipnya para survivor sangat cemas bila terjadi metastase (penyebaran). Tidak sedikit teman-teman survivor yang awal mula bisa melampaui masa kritisnya, namun setelah mengetahui adanya penyebaran sel kanker di organ lain, itu sangat memukul secara psikologis. Bahkan tidak sedikit para survivor justru drop, tidak mau makan dan berat badan merosot drastis. Sebab, para penyintas harus menjalani lagi kemoterapi dan radioterapi.

Sebuah fase pengobatan dengan efek luar biasa. Saya pun masih trauma kalau merasakan rasa panas di tubuh menggelayar saat obat kemo masuk lewat infus. Efeknya muntah, rambut rontok, tubuh menghitam, sariawan, mual, hingga badan seperti remuk rasanya. Kelelahan...

Apalagi, pemberian kemoterapi per tiga minggu dengan rata-rata pemberian kemoterapi satu siklus atau 6 kali. Enam kali saja sudah berat bagaimana dengan 12 kali atau dua siklus. Malah ada yang 3 siklus atau 18 kali.

Kalau melihat Ria pada awal-awal dia menjalani kemoterapi dan penyinaran, semangatnya luar biasa. Dalam tayangan di televisi dia semangat dan bisa bercanda saat menjalani terapi-terapi tersebut. Yang penting jangan ada penyebaran, itu kata Ria pada 2015. Dan setelah ada penyebaran telah memengaruhi psikologis karena lelah menjalani terapi dan efek samping yang menyertainya.

Namun yang telah dilakukan Ria Irawan dengan tetap gembira, tetap bisa bercanda saat menjalani pengobatan, amat menginspirasi bagi para penderita kanker yang saat ini sedang menjalani pengobatan. Semangat dan perjuangan Ria untuk sembuh akan terus menjadi penyemangat para penyintas. Dan para penyintas adalah para pejuang. Selamat jalan Ria Irawan... (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More