Sabtu 04 Januari 2020, 13:15 WIB

Beng Rahadian : Goresan Lini Ilustrasi

Fathurrozak | Weekend
Beng Rahadian : Goresan Lini Ilustrasi

MI/Adam Dwi
Beng Rahardian

BERLOKASI sekitar 1,5 kilometer dari Stasiun Pasar Minggu, di rumah dua lantai seorang pria dengan rambut yang dihiasi cukup banyak uban itu duduk di teras menyambut kedatangan saya. Tidak lama, kami pun berjalan ke ruang kerja Beng Rahadian di lantai dua bersama istrinya.

Di ruangan itu penuh dengan rak buku dan beberapa pajangan gambar Beng, termasuk ilustrasi makanan yang sempat dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat, akhir  2018. Sambil menyeduh  kopi, Beng memulai percakapannya memproduksi karya ilustrasi ketimbang komik.

“Aku lagi pengin ngebranding sebagai ilustrator saja karena ilustrasi  itu mewadahi semuanya. Kalau dulu orang kenalnya sebagai komikus karena sebagian besar profesi yang aku kerjakan ya dari komik,” jawab Beng Rahadian saat Media Indonesia melontarkan tanya ingin disebut siapa ia saat ini, antara komikus, ilustrator, atau sketcher, Kamis (2/1).

Pada 2016 menjadi titik balik Beng. Kala itu penerbitan mulai surut dan ia sempat frustrasi karena merasa hasratnya menggambar komik tidak ada kanalnya lagi. Setelah itu, ia mulai mempelajari menggambar sketsa, ilustrasi. Hingga kini, ia konsisten menghasilkan ilustrasi.

“Ilustrasi lebih banyak celahnya dan lebih mudah untuk monetisasi. Tidak seperti dulu, sekarang dapatnya dari jualan karya di pameran.”

Satu karya ilustrasi, misalnya, berdimensi 29,5x42 sentimeter dibanderol seharga Rp3 juta-Rp7 juta, masih dipotong komisi galeri. Ia mengaku tidak semua karya yang ia pajang di pameran akan diborong ludes. Justru, celah komersial datang setelah pameran, yang mana orang datang minta dibuatkan karya. Tentu, karya ilustrasinya juga tidak hanya berakhir di atas kertas. Penulis buku komik Mencari Kopi Aceh (2016) ini menggiatkan produksi dagangan pendukung (merchandise) melalui lini Jakartoon, seperti produk tote bag.

“Dua hal yang mau aku capai bersama Jakartoon tahun ini. Pertama, bisnis jalan. Kedua, pendidikan daring. Semacam tutorial menggambar daring. Akan main ke situ dan belum terpikir untuk berbayar, monetisasinya ya dari jualan produk. Pertengahan tahun harusnya sudah  bisa jalan. Saat ini cuma butuh dua orang lagi, satu jadi admin dan satunya lagi teman untuk membantu mengemas kontennya.”

Lini bisnis

Dari pembicaraannya, Beng bagian dari generasi yang nyaman dengan Facebook. Berbeda dengan penyaji konten visual saat ini yang akrab dengan Instagram. Bahkan, Beng baru menggunakan Instagram pada 2014, saat ia mulai mengajar dan bertemu siswa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

“Berpengaruh sekali, apalagi zaman sekarang. Dulu waktu Instagram sudah ada mungkin tahun 2013 atau 2012-an sudah mulai naik, saya masih di Facebook. Seolah saat itu Facebook ialah final. Setelah menggunakan Instagram muncul kesadaran ada dua. Pertama, platform itu bisa mendekati anak muda. Kedua, ini sebagai sarana yang baik orang yang bermain visual seperti ilustrasi. Sangat enak untuk promosi atau aktualisasi.”

Beng pun menjadikan platform itu sebagai saluran barunya menyampaikan komunikasi. Dari beberapa kesempatan, kesepakatan bisnis yang berdampak pada nilai komersialisasi ia dapat melalui Instagram.

“Ternyata bukan cuma ruang untuk berinteraksi, jadi ruang bisnis. Hanya saya belum benar-benar optimal menggunakan platform ini sebagai  murni komersial. Tentunya banyak orang yang ingin berinteraksi dengan saya bukan sebagai  penjual. Ya makanya ada akun lain, Jakartoon.”

Tahun ini, misalnya, dari hasil interaksi di Instagram, Beng berencana merilis buku panduan kuliner bersama akun @dari-halte_kehalte, yang belakangan ramai sebagai rujukan tujuan kuliner para warga urban.

Kekayaan intelektual

Meski ingin dikenal sebagai  ilustrator, nyatanya produksi komik tetap jalan. Ia mengaku komik tidak ditujukan untuk komersialisasi utama. Tahun ini, selain akan merilis buku panduan kuliner, Beng akan mengeluarkan buku komik Mencari Kopi Flores, hasil risetnya selama tiga minggu pada Oktober-November silam. Seri ini meneruskan seri komik bertema komik yang diterbitkan pada 2016.

“Dulu karena masih kerja di penerbitan, ya mencari konten untuk penerbitan komik, selain dijadikan dari bagian tesis S-2 saya. Setelah penerbit tutup, hasrat bikin komik kopi memanggil lagi. Aceh hanya sebagian kecil dari Indonesia. Setelah Aceh, saat itu nyari mana lagi  kopi yang sering aku minum, ya Flores Bajawa. Setelah ini bisa Sulawesi, Bali, atau bahkan Jawa Timur.”

Keberangkatannya ke Flores berkat program residensi penulis dari komite buku nasional di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan  (Depdikbud), yang tiap tahunnya membiayai penulis untuk melakukan riset karyanya.  

“Aku mengajukan proyeknya Mencari Kopi Flores. Lalu dapat pendanaan riset sekitar Rp20-an juta.”

Beng pun berangkat ke Desa Colol, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, atas rekomendasi juri kopi internasional Mira Yudha dan menjumpai pohon kopi tertua di sana yang  masih berbuah hingga kini.  

Tahun lalu, ia juga merilis novel grafis bersama Mansyur Daman berjudul Sokrasana Syndrome, yang ia rilis lewat jalur independen Beng Rahadian Studio. Selain itu, ia berencana menerbitkan ulang komik  Enjah (2013) dan mengaku ada rumah produksi yang tertarik membuatnya menjadi film.

“Dari semua yang kukerjakan, tidak ada yang boleh sia-sia. Selalu dimunculkan, jadi tetap dipelihara. Aku urus  Hakinya juga. Semua  kekayaan intelektual yang sudah aku buat itu kan investasi. Suatu hari tidak kepikiran, Enjah dulu ya bikin-bikin saja, sekarang akan jadi karya yang lain lagi. Optimismeku begitu, mungkin ada waktunya orang  melihat, baru akan dikembangkan ke yang lain.” (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More