Minggu 05 Januari 2020, 20:15 WIB

AS Bunuh Jenderal Top Iran, Ini Reaksi Pemerintah Indonesia

Faustinus Nua | Ekonomi
AS Bunuh Jenderal Top Iran, Ini Reaksi Pemerintah Indonesia

AFP
Seorang perempuan Irak memegang plakat selama pemakaman komandan militer Iran Qassem Soleimani.

 

HUBUNGAN antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas setelah tewasnya Jenderal Top Iran Qassem Soleimani di Irak, Sabtu (4/1) dini hari. Sebelumnya, kedua negara pernah terlibat konflik yang cukup panjang terkait penggunaan senjata nuklir.

Menghadapi situasi global tersebut, Pemerintah Indonesia mulai mewaspadai dampak meluasnya konflik ke beberapa negara Timur Tengah lain yang bisa berpengaruh pada perekonomian Tanah Air. Apalagi negara-negara Arab tersebut merupakan penghasil minyak bumi yang mempengaruhi naik turunnya harga minyak dunia.

Baca juga: Trump Tidak Takut Ancaman Iran dan Siap Gempur Iran Lagi

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengakui bahwa situasi ekonomi dunia memang penuh ketidakpastian. "Yang namanya ekonomi dunia ini adalah sesuatu yang fluktuatif dan tidak bisa diprediksi. Apa yang terjadi sekarang tentu, mengenai Amerika, Iran dan Timur Tengah pasti akan juga berdampak kepada Indonesia terutama di harga minyak," kata Erick ketika mengunjungi korban banjir di posko Teluk Naga, Tangerang (5/1).

Untuk menghadapi situasi tersebut, lanjutnya, pemerintah sudah mengantisipasi sejak beberapa bulan yang lalu. Salah satunya adalah penerapan B30 yang bisa mengurangi ketergantungan impor minyak dari luar negeri. Selain itu, juga bisa meminimalisasi kemungkinan naiknya harga minyak dunia.

Lebih lanjut, Erick mengatakan pemerintah juga sudah menggunakan skema tender terkait impor minyak. Menurutnya, beberapa waktu lalu Pertamina diminta untuk membeli minyak dari AS melalui perusahaan yang memenangkan tender.

"Kita sudah mulai tender bukan melalui trader. Langsung kepada perusahaan yang menghasilkan minyak supaya kita bisa cut atau memangkas dari pada margin yang tidak perlu. Salah satunya kemarin kita juga tender dengan AS," ungkapnya.

Melalui tender, lanjutnya Indonesia bisa mendapatkan minyak dengan harga yang lebih murah sekitat USD5 - USD6 per barel. Selain itu juga bisa menghentikan para mafia minyak yang sering mencari keuntungan dari adanya impor minyak.

Hal tersebut merupakan upaya jangka pendek untuk memasok minyak dari luar negeri. Untuk jangka panjangnya, Pemerintah dan Pertamina sedang membangun dan memperbaiki kilang minyak dalam negeri agar bisa meningkatkan produksinya di masa datang.

"Impor migas hanya jangka pendek tapi menengah dan panjang harus dilakukan bertahap dengan revinery dan bagaimana lifting, dan sumur minyak yang ada. Pertamina harus bekerja sama dengan berbagai pihak. Enggak bisa dikontrol sendiri dengan Pertamina agar ada sumber baru untuk minyak," pungkasnya.

Soleimani yang telah memimpin cabang operasi luar negeri Korps Pengawal Revolusi Iran dan merupakan pemimpin Iran di Irak. Ia ialah sosok yang kuat di dalam negeri dan mengawasi keterlibatan Iran dalam perjuangan kekuasaan regional dan pasukan anti-AS.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji operasi itu. AS memutuskan untuk menghentikan Soleimani setelah mengetahuinya sedang mempersiapkan serangan segera terhadap diplomat dan pasukan AS.

Dia berkeras, Washington tidak mencari konflik yang lebih luas, dengan mengatakan, "Kami mengambil tindakan semalam untuk menghentikan perang. Kami tidak mengambil tindakan untuk memulai perang." (Van/A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More