Minggu 05 Januari 2020, 06:40 WIB

Serangan Udara Baru Hantam Konvoi Pro-Iran

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Serangan Udara Baru Hantam Konvoi Pro-Iran

AFP/Sgt. Kyle Tabot/DoD
Tentara AS Sedang berjaga di Kedutaan AS di Baghdad setelah di serang Para pemprotes serangan AS terhadap Pro-Iran

 

SERANGAN udara menghantam para pejuang pro-Iran di Irak, Sabtu (4/1/2020) dini hari. Timbul kekhawatir­an perang proksi meletus antara Washington dan Teheran sehari setelah serangan pesawat nirawak Amerika Serikat (AS) yang menewaskan seorang jenderal top Iran.

Dari Daily Mirror, serangan udara itu terjadi di Jalan Taji. Enam orang tewas dan tiga lainnya terluka parah. Dalam keterangan sumber, serangan itu menghantam dua dari tiga kendaraan yang melintas. Itu terjadi pukul 01.12 waktu setempat.

Serangan baru terjadi beberapa jam sebelum pawai duka yang direncanakan untuk komandan Pasukan Quds Iran, Qasem Soleimani, dan petinggi paramiliter Irak Abu Mahdi al-Muhandis. Keduanya terbunuh dalam serangan pesawat nirawak oleh AS di Baghdad, Jumat (3/1).

Pembunuhan itu merupakan eskalasi paling dramatis dalam ketegangan yang meningkat antara Iran dan AS, yang berjanji untuk mengirim lebih banyak pasukan ke kawasan itu, bahkan ketika Presiden Donald Trump berkeras dia tidak menginginkan perang.

Hampir tepat 24 jam kemudian, sebuah serangan baru menargetkan konvoi Hashed al-Shaabi, sebuah jaringan paramiliter Syiah Irak yang memiliki hubungan dekat dengan Iran. Televisi pemerintah Irak melaporkan bahwa itu ialah serangan udara AS.

Pembunuhan Soleimani, yang telah memimpin cabang operasi luar negeri Korps Pengawal Revolusi Iran dan merupakan pemimpin Iran di Irak, mengguncang kawasan itu. Ia ialah sosok yang kuat di dalam negeri dan mengawasi keterlibatan Iran dalam perjuangan kekuasaan regional dan pasuk­an anti-AS.

 

Mempersiapkan serangan

Trump memuji operasi itu. AS memutuskan untuk menghentikan Soleimani setelah mengetahuinya sedang mempersiapkan serangan segera terhadap diplomat dan pasuk­an AS.

Dia berkeras, Washington tidak mencari konflik yang lebih luas, dengan mengatakan, “Kami mengambil tindakan semalam untuk menghentikan perang. Kami tidak mengambil tindakan untuk memulai perang.”

Namun, beberapa jam kemudian Pentagon mengatakan 3.500 tentara akan dikirim ke Kuwait, tetangga Irak selatan.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo memuji mitra Washing­ton di kawasan itu, tetapi mengatakan sekutu mereka di Eropa tidak membantu seperti yang saya harapkan. “Orang Inggris, Prancis, Jerman semua perlu memahami bahwa apa yang kami lakukan, apa yang orang Amerika lakukan, menyelamatkan nyawa di Eropa juga,” katanya.

Serangan udara AS telah mengirim sinyal negatif pada harga minyak dunia. Harga minyak langsung melonjak pada Jumat setelah militer AS membunuh seorang komandan senior Iran, yang memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu produksi energi di wilayah tersebut.

Dikutip dari Antara, harga patokan minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari melonjak 1,87 dolar AS menjadi menetap pada 63,05 dolar AS per barel di New York Mercantile ­Exchange setelah diperdagangkan setinggi 64,09 dolar.

Sementara itu, patokan harga minyak lainnya, minyak mentah brent, untuk pengirim­an Maret melonjak 2,35 dolar menjadi ditutup pada 68,60 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

“Jelas ada tingkat baru risiko geopolitik di pasar, tecermin oleh reaksi langsung pasar yang mendorong brent naik beberapa dolar,” kata Richard Nephew dan Jason Bordoff, cendekiawan dari Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia, dalam sebuah catatan. (AFP/BBC/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More