Sabtu 04 Januari 2020, 23:30 WIB

Pelibatan Asing jangan Abaikan Anak Bangsa

Galih Agus Saputra | Humaniora
Pelibatan Asing jangan Abaikan Anak Bangsa

MI/ M Irfan
Pemenang Maket Ibu Kota Baru, di Gedung Auditorium PUPR, Jakarta, Senin (23/12).

 

PAKAR arsitektur perkotaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar memberikan tanggapannya terkait rencana pemerintah melibatkan konsultan Tiongkok dan Jepang dalam pembangunnan ibu kota negara baru, di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Menurutnya pelibatan konsultan asing itu sah-sah saja, tetapi harus dilihat posisinya dalam menentukan keputusan rencana atau perancangan ibu kota tersebut.

“Jangan diberikan posisi sebagai yang paling menentukan, karena konsultan kita sudah banyak juga yang ‘go international’. Konsultan kita juga konsultan untuk asing yang pada dasarnya kualifikasinya adalah kualifikasi internasional, jadi bisa ditelusuri mereka yang sering diminta konsultasi desain untuk asing,” tuturnya, saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (4/1).

Jehan mengatakan bahwa Sofian Sibarani yang menjadi pemenang sayembara desain Ibu Kota beberapa waktu lalu, reputasinya juga berkelas internasional. Selain itu, yang tidak kalah penting menurutnya adalah, pemerintah turut melibatkan arsitektur yang meski tidak memiliki kualifikasi internasional, tetapi memahami kondisi di dalam negeri.

“Karena pada dasarnya, nanti konsultan asing juga akan meminta pertimbangan konsultan dalam negeri terkait kondisi lokal seperti apa. Dia akan meminta survei atau studi geologi di Kalimantan, meminta survei studi arsitektur Nusantara itu seperti apa, karena arsitektur Nusantara itu juga yang paling sesuai untuk arsitektur tropis di Indonesia,” imbuhnya.

Untuk memberikan contoh yang lebih konkret, Jehan menjelaskan bagaimana proses pembangunan Gedung Sate yang dewasa ini menjadi landmark Kota Bandung, Jawa Barat. Menurutnya, gedung yang hampir berusia 100 tahun itu dulunya juga berhasil dibangun arsitek dari Belanda dengan melakukan survei bangunan tradisional di Indonesia. Muatan lokal sangat penting bagi sebuah desain arsitektur karena, menurut Jehan, ia menggambarkan kondisi alam setempat, dan tak terkecuali Kalimantan yang akan menjadi ibu kota negara.

Satu contoh lain, lanjutnya, jika lokasi pembangunan ibu kota baru topografinya tidak memungkinkan terbentuknya aliran angin, maka haruslah dibuat berbagai survei atau kemungkinan yang akan menghasilkan desain iklim mikro (micro climate design). Berbeda dengan Pulau Jawa yang terdiri dari pegunungan sampai dataran rendah, Kalimantan menurut Jehan, topografinya memang terdiri dari dataran rendah dan bukit-bukit sehingga tidak banyak menghasilkan pergerakan udara.

“Nah, cara-cara seperti itu tidak bisa mengandalkan konsultan asing karena ini tidak terlalu internasional. Lain halnya kalau kita mau bikin mobil nasional, ini bisa pakai industri otomotif luar negeri yang sudah teruji. Kalau ini kan sangat lokal dan khas Indonesia atau Nusantara,” tandasnya. (OL-8)

Baca Juga

Antara/Ari Bowo

Dibandingkan Mei, Positivity Rate Periode Juni Lebih Rendah

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 02 Juli 2020, 18:44 WIB
Secara nasional, positivity rate Indonesia berkisar 12%, atau di atas standar WHO sebesar 5%. Namun, angka positivity rate periode...
Dok: UI

Ini Usulan UI Soal Upaya Mitigasi Saat Sekolah Kembali Dibuka

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Juli 2020, 18:00 WIB
Salah satu upaya mitigasinya dengan menerapkan metode menggilir siswa yang masuk (rotasi antarkelas/tingkatan atau setengah kelas atau...
Antara/Hafidz Mubarak

Update Covid-19, Pasien Sembuh Capai 26.667 Orang

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 02 Juli 2020, 17:18 WIB
Kasus terkonfirmasi positif bertambah 1.624 orang, sehingga total kasus covid-19 di Indonesia mencapai 59.394 orang. Adapun kasus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya