Minggu 05 Januari 2020, 05:00 WIB

Lelaki yang Menjadi Api

Hendy Pratama | Weekend
Lelaki yang Menjadi Api

MI/Caksono
Ilustrasi

SIAPA yang tidak mengenal lelaki itu? Hampir semua penghuni terminal pasti tahu, siapa lelaki yang memakai topi bucket dengan kaus lusuh dan kantong plastik di tangannya itu. Ialah Kasmadi, seorang gelandangan merangkap pengemis.

Saban pagi, Kasmadi rajin mengunjungi terminal hanya untuk sesuap nasi. Tangannya lihai betul menengadah. Hafal benar tekstur uang logam. Tahu mana orang baik dan siapa yang pelit. Akan tetapi, akhir-akhir ini ia menghilang. Apakah Kasmadi sudah mati?

Aku salah seorang yang mengenalnya. Sebelum Kasmadi menghilang, aku terbilang akrab dengannya. Perjumpaanku dengan lelaki itu terjadi tidak sengaja, yaitu kala aku menjemput kawanku di Terminal Purbaya. Suntuk menunggu, aku membaca koran di halaman terminal.

Kasmadi mendatangiku dengan wajah iba. Tangannya menengadah dan sedikit gemetar. Otot-ototnya kasatmata. Kelaparan bagai anai-anai yang gemar mengerip tubuh bayanya. Dengan mata sayu, ia meminta sedikit uang padaku.

“Berilah kesempatan hidup untukku,” pintanya dengan kantong plastik yang diangkat dan kulihat isinya hanya serakan uang logam yang tak berarti banyak. “Aku belum sarapan, perutku sakit, dan mungkin malam ini aku akan mati.”

Kata-katanya membuatku iba. Kupikir, ia lebih cocok jadi penyair, bukan pengemis. Dari apa yang barusan dikatakan, ia tampak berpengalaman menjadi pengemis. Barangkali, sudah puluhan tahun ia menggantungkan hidup melalui belas kasih orang lain. Karena itu, apa yang diucapkan benar-benar berdasarkan keadaan yang telah lama dirasakannya. Hal yang sejatinya dapat membuat orang lain menangis. Maka, seandainya pindah profesi jadi pencipta syair, kuduga ia bakal berhasil. Namun, aku juga menduga bahwa lelaki itu tidak mengenal puisi hingga memutuskan menjalani pekerjaannya seperti sekarang ini.

“Terima kasih. Sungguh, aku tak pernah mendapat uang sebegini banyaknya. Tuhan telah menyiapkan surga untukmu. Dan aku rela jadi saksi atas kebaikanmu,” ucap Kasmadi, menyambut uluranku. Ia mencium tanganku berkali-kali.

Sejak saat itulah, aku sering mendatangi terminal hanya untuk melihatnya tetap hidup. Sayangnya, kurasa tiada orang yang sedermawan diriku. Aku tidak sombong. Begitulah kenyataannya. Kerap kali kulihat, beberapa orang justru berlaku kasar padanya.

Kasmadi pernah ditendang preman, pernah pula dipukul karena masalah sepele. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Asep, preman terminal itu, menganiaya Kasmadi belasan kali. Seberapa sering pengemis itu memohon ampun, sesering pula Asep melukai tubuh dan hatinya. Wajah iba Kasmadi terasa jadi lebih iba. Memar dan lebam jadi riasan yang membuat hatiku sedih.

“Kata Asep, aku mengambil jatahnya,” ungkap Kasmadi ketika bertemu denganku di sebuah bangunan terbengkalai dekat terminal.

“Bukannya Asep sudah punya jatah iuran keamanan?”

“Mungkin ia iri padaku. Kalau dibandingkan, penghasilanku jauh lebih besar dari pendapatannya. Atas dasar itulah, Asep bermaksud mengusirku dari terminal ini. Padahal, aku ada di terminal ini jauh lebih dulu daripadanya.”

“Mengapa tidak melawan?”

“Tentu saja karena aku tidak kuasa bertarung dengannya.”

Siang itu, aku lalu mengantar Kasmadi ke lepau Bu Darsi buat mengusir lapar. Kukatakan padanya bahwa tidak perlu memikirkan dengan apa ia harus membayarnya. Aku punya cukup uang untuk membeli dua piring nasi kucing. Ia mengangguk dan ucapan terima kasih bertubi-tubi masuk ke lorong telingaku. “Kamu seperti malaikat!”

Di lepau Bu Darsi, Kasmadi mengaku punya bakat aneh.

“Sudah 20 tahun lebih aku menjadi pengemis. Dan selama itu pula aku kerap mendapat perlakuan kasar dari orang-orang. Si Asep tentu bukanlah yang pertama kali. Aku pernah digelandang Satpol PP dan mereka menyeretku menuju kantor. Aku diinterogasi sembari dipukul dengan pentungan berkali-kali. Kepalaku seperti semangka yang jatuh dari atas. Ketika aku tidak menjelaskan dengan benar, mereka memukul kepalaku.”

Aku menyimak cerita Kasmadi. Aku yakin bahwa ia butuh didengarkan. Sulit mencari seseorang yang memperhatikan kehidupan masyarakat kecil seperti Kasmadi di terminal ini. Untuk itu, aku tertarik mendengarkan kisahnya. Siapa tahu aku bisa bantu.

“Andai kamu tahu, Nak... aku dapat menyimpan api dalam dada,” lanjut Kasmadi.

“Maksud bapak dengan api?”

“Tuhan telah memberiku bakat aneh itu. Orang mengira aku pengemis biasa. Hidup hanya bergantung belas kasih orang lain. Tapi, aku merasakan hal yang berbeda. Tiap kali aku diperlakukan kasar, aku merasakan percik api di dalam dada. Dan anehnya, aku dapat menyimpan api-api itu. Suatu saat, api dalam dadaku akan terkumpul dan membesar. Itulah bakat aneh yang kumiliki. Dan belum pernah kuberitahukan pada siapa pun selain padamu, Nak. Kupikir, kamu perlu mengetahui bakat anehku itu.”

“Itulah kekuatan terbesar yang kumiliki,” imbuh Kasmadi dan seketika aku jadi bingung bukan main. Mulanya, kukira Kasmadi membual. Kerusakan terjadi di kepalanya dan karena itu ia mulai melantur. Namun, aku juga tidak tahu bila perkataannya memanglah suatu kebenaran. Aku hanya mengangguk sembari mengamini pengakuannya itu.

***

Hampir setahun lamanya, tak kutemui Kasmadi melewar di terminal Purbaya. Separuh orang memercayai bahwa ia telah mati. Pengemis itu terbilang keras kepala. Seandainya gerombolan Satpol PP menyeretnya, mengusirnya dari muka terminal, pastilah ia bakal datang lagi esok hari. Bahkan, preman sekelas Asep pun tak mampu membuatnya hengkang. Maka, ketika kudengar kabar bahwa Kasmadi tidak lagi mengunjungi terminal, dugaanku tidak lain ialah pengemis itu sudah mati.

“Bisa jadi ia bunuh diri. Kejemuannya terhadap kemiskinan yang tak kunjung sudah, pastilah membuatnya mengakhiri hidup,” duga salah seorang ojek terminal.
“Atau, Kasmadi mati ketabrak truk.”

“Barangkali, pengemis itu mati karena kelaparan.”

Aku belum tahu, apakah Kasmadi benar-benar telah mati atau belum. Mulanya, aku memang menduga ia mati. Namun, sesekali, aku pernah melihat seseorang yang mirip dengan Kasmadi di terminal. Ia berjalan begitu cepat dan kadang kala menengok ke arahku. Raut wajahnya sama persis dengan Kasmadi. Begitu banyak kerutan dan bermata sipit. Wajah iba. Ciri khas dari pengemis yang kukenal itu. Ia juga memakai topi bucket dan kaus lusuh. Pula, kantong plastik di tangannya. Mungkinkah Kasmadi bereinkarnasi?

Sepeninggalan pengemis itu, Terminal Purbaya jadi kacau. Asep berulah, orang-orang menjadi korban kekerasannya. Sebagian pedagang menolak memberi uang keamanan dan ketika Asep mendapati hal itu, tanpa pikir panjang, ia porak-porandakan dagangan orang itu. Gerombolan Satpol PP datang untuk menyeret Asep. Namun, preman itu tidak terima dan melakukan perlawanan. Baku hantam tidak dapat dielakkan.

Perkelahian yang terjadi di terminal itu mengingatkanku pada sosok Kasmadi. Setelah ia pergi, aku jadi mengerti, mengapa ia tidak melawan Asep dan orang-orang yang dengan semena-mena memperlakukannya dengan kasar.

“Aku sengaja mengalah. Tidak semua yang keras mesti dibalas dengan batu. Bila itu terjadi, kehancuran bakal datang lebih awal. Makanya, ketika seseorang menyakitiku, aku sengaja diam. Menjadikan amarah dalam dada jelma percik api. Namun, aku juga sadar bahwa api yang kusimpan dalam dada bakal terkumpul dan membesar. Ada masanya, dada ini akan meledak dan meluluhlantakkan segala hal.” Begitu kata-katanya yang kuingat.

Di kala keributan mencapai puncaknya, kujumpai api menjalar dari lepau Bu Darsi. Lambat laun, api itu kian besar dan besar. Hingga, kebakaran melanda terminal. Orang-orang kalang kabut berlarian tak keruan juntrungan. Sebagian mengambil motor dan berlari menyelamatkan diri. Sebagian lain masih terkurung dalam kerumunan di perut terminal. Si Asep kutemui hangus terpanggang bersama tiga orang Satpol PP di dalam terminal.

“Api mulai membakar dadaku,” seru salah seorang yang tak kukenal.

“Kobarnya mengenai ulu hatiku dan sebagian menghanguskan perasaanku!”

“Kakiku terpanggang!”

“Sebentar lagi, aku bakal menjadi jelaga.”

Orang-orang berusaha kabur dari bencana, sementara aku berhasil menyelinap keluar dari kerumunan. Kaki-kakiku kepayahan dan seluruh tubuhku terasa panas. Untung saja aku berhasil menghindar dari reruntuhan bagunan yang fondasinya dimakan api. Kini, aku terkapar di seberang jalan. Mataku menatap api raksasa yang beringas. “Mungkinkah itu Kasmadi yang menjadi api?” (M-2)

Madiun, September—2019

Hendy Pratama, pegiat di komunitas sastra Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo. Heliofilia ialah buku kumpulan cerpennya yang akan terbit.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More