Minggu 05 Januari 2020, 03:00 WIB

Pesona Seorang Ibu

Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia | Weekend
Pesona Seorang Ibu

MI/Seno
Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia

PEPATAH menyebutkan, di balik suami yang sukses terdapat istri yang hebat. Baik-buruknya keluarga juga sangat tergantung kepada ibu rumah tangganya. Jadi, betapa menentukannya posisi istri atau ibu. Dalam bahasa lain, begitu mulianya peran istri sekaligus ibu rumah tangga.

Kiranya, pepatah itu masih dan akan tetap konteks dalam kehidupan masyarakat sampai kapan pun. Pesan pokoknya bahwa sepak terjang istri sangat berpengaruh terhadap karier suami dan biduk rumah tangganya.

Dalam kisah wayang, ada kisah sosok istri yang gemilang mendampingi sang suami meraih kesuksesan serta mampu memayu hayuning (menjaga nama baik dan keharmonisan) keluarga. Dialah Drupadi, perempuan lembut nan ayu berhati kemala.  

Hidup prihatin

Fakta lahiriah, hidup Drupadi selama menjadi istri Puntadewa (sulung Pandawa) tidaklah mulus dan enak. Sejak menikah hingga akhir hayat, Drupadi akrab dirundung penderitaan. Namun, justru di situlah ia menggambarkan pesonanya sebagai perempuan sekaligus istri sejati.

Ketika usianya menginjak dewasa, Drupadi bak kembang indah yang sedang mekar semerbak mewangi. Harumnya menyebar melewati batas negara. Tidak terbilang kesatria negara lain yang kepincut dan ingin meminangnya.

Maka itu, ketika ayahnya, Raja Pancala Prabu Drupada, menggelar sayembara, berjejal yang ikut mempertaruhkan jiwa raga untuk mendapatkannya. Siapa yang menang dalam perlombaan adu memanah serta unggul kesaktian melawan Gandamana, dialah yang berhak memboyong Drupadi.

Drupadi ialah putri sulung pasangan Drupada dengan Dewi Gandawati. Drupadi memiliki dua adik, yakni Srikandi dan Drestadyumna. Sementara itu, Gandamana, yang pernah menjadi Patih Negara Astina pada rezim Prabu Pandudewanata, ialah pamannya dari pihak ibu.

Akibat saking banyaknya peminat, sayembara berlangsung sampai berhari-hari. Di antara lelaki muda yang berebut Drupadi ialah Kurupati (sulung Kurawa) dan adik-adiknya. Namun, pada akhirnya yang menang ialah Pandawa. Singkat cerita, Drupadi menjadi istri Puntadewa.

Betapa gembiranya Drupada ketika yang berhasil mempersunting putrinya ialah Puntadewa, kesatria yang memang ia gadang-gadang. Bukan saja akan menjamin Drupadi menjadi permaisuri raja yang menjanjikan kehormatan dan ketenteraman, melainkan juga karena Puntadewa ialah putra mendiang Pandu Dewanata, raja dan gurunya yang sangat ia hormati.

Namun, semua yang diharapkan Drupada itu seperti tidak pernah tersua. Drupadi yang semula hidup di istana yang serbaada dan selalu diladeni, kemudian harus mengurus diri sendiri serta mendampingi suami bersama adik-adiknya menjalani laku prihatin tiada jeda.

Namun, Drupadi tidak menyesali. Ia menjalaninya dengan tabah, tulus, ikhlas, dan sepenuh hati. Tak sekalipun ia mengeluh, apalagi meratap. Dia memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri. Dari sinilah titik awal atau api pengabdiannya kepada sang suami selama hayatnya.

Ketika itu, Pandawa baru saja lolos dari maut. Kurawa yang merupakan keluarga kakak sepupunya, membakarnya hidup-hidup. Aksi keji Kurawa pada pagi buta itu sebagai upaya menguasai takhta Astina yang seharusnya milik Pandawa sebagai ahli waris ayahnya, Pandu Dewanata.

Pandawa kemudian terpaksa hidup ngulandara dari hutan ke hutan lainnya. Setelah diberi lahan berupa Hutan Wanamarta oleh uaknya, Drestarastra (ayah Kurawa), Pandawa berhasil membangun negara dengan kekuatan sendiri yang diberi nama Negara Amarta alias Indraprastha.

Menjadi taruhan

Rampungkah kepahitan hidup Drupadi setelah sang suami menjadi raja di Amarta bergelar Prabu Yudhistira?

Tidak pernah terbayangkan siapa pun, Drupadi malah mengalami derita amat pedih. Ia tergadaikan di meja judi dadu. Puntadewa menyodorkan Drupadi sebagai taruhan pada babak akhir permainan dadu melawan Kurawa yang dimentori Sengkuni.

Sebelumnya, Puntadewa sudah ludes, tidak ada lagi harta yang bisa dipertaruhkan lagi. Istana Amarta pun telah pindah tangan ke Kurawa yang selalu memenangi permainan dadu yang penuh tipu muslihat.

Pandawa kembali kalah, maka Drupadi menjadi ‘hak’ Kurawa. Ia kemudian menjadi objek pelecehan seksual gila-gilaan Kurawa. Dursasana yang paling bernafsu. Ia terus-menerus menjamah dan memelorotkan kain Drupadi. Berkat pertolongan dewa, upaya bejat itu tidak berhasil.

Bagaimana reaksi Puntadewa melihat istrinya menjadi bulan-bulanan itu? Tidak ada upaya apa pun yang ia lakukan. Bahkan, ketika adiknya, Bratasena, bergerak menggasak Kurawa, malah dicegahnya. Puntadewa  menyerahkan lelakon yang dihadapi kepada keadilan penguasa jagat.

Pada saat itu, Drupadi bersumpah. Dirinya tidak akan menggelung rambutnya sebelum keramas darahnya Dursasana. Sejatinya, sumpah Drupadi itu mengandung pesan gaib bahwa bakal terjadi perang besar antara Pandawa dan Kurawa yang disebut Bharatayuda.

Pengalaman kelam yang menimpanya serta tidak ada reaksi pembelaan dari Puntadewa tak membuat Drupadi berpaling dari sang suami. Tak sekalipun terucap kata yang menyalahkan suami atau menuduhnya tidak bertanggung jawab. Tidak ada pula protes kepada sang suami yang tega membiarkan istrinya dilecehkan beramai-ramai di depan matanya.

Pascapermainan dadu, Drupadi tetap tawajuh mendampingi Puntadewa mengarungi lautan keprihatinan periode berikutnya. Kali ini mereka hidup di Hutan Kamyaka selama 12 tahun. Itu hukuman buangan akibat kekalahan bermain dadu. Apabila Pandawa selamat, mereka masih harus menjalani hidup menyamar satu tahun.

Tuntas hidup penuh penderitaan di Kamyaka, Drupadi kemudian mengikuti Puntadewa menyamar di Negara Wiratha. Di negara itu, ia menjadi penata rias istana bernama Salindri, sedangkan Puntadewa menyamar sebagai lurah pasar bernama Dwijakanka.

Paras Salindri yang cantik membuat senapati Wiratha, Kencakarupa, jatuh cinta kepadanya. Di sinilah Drupadi kembali mengalami pelecehan seksual sebelum akhirnya Kencakarupa tewas di tangan Bratasena, yang ketika itu menyamar sebagai tukang jagal bernama Jagal Abilawa.

Cantik lahir-batin

Peran lain Drupadi yang menggegerkan jagat terceritakan ketika sang suami dipersalahkan dewa karena menggunakan kancing gelung milik Dewa Darma. Puntadewa dijatuhi hukuman dicemplungkan ke candradimuka.

Drupadi bisa membuka mata hati Puntadewa bahwa dewa telah berbuat sewenang-wenang kepada dirinya. Puntadewa tersengat dengan tutur istrinya dan menyadari bahwa diperlakukan tidak adil. Tubuhnya bergetar dan memuai hingga menjadi raksasa berkulit putih bernama Dewa Amral. Makhluk itu lalu menjelajahi kahyangan dengan membawa misi meluruskan kekeliruan para dewa.

Itulah sepenggal ‘lika-liku’ laku Drupadi sebagai seorang istri. Dalam kondisi apa pun, ia tetap setia dan mampu menjaga harga diri serta harkat-martabat suami dan keluarga. Drupadi telah memancarkan pesonanya sebagai istri sekaligus seorang ibu, bukan hanya cantik lahir, melainkan juga jiwanya. Selamat Hari Ibu. (M-2)

Baca Juga

 RIJASOLO / AFP

Ganja Diujicoba untuk Pengobatan pada Bayi di Inggris

👤Fathurrozak 🕔Rabu 27 Mei 2020, 16:53 WIB
Pengobatan ini dapat digunakan untuk mencegah kejang dan cedera otak pada bayi yang baru...
sciencemag

Terungkap, Misteri Batu Kuno Berseni Tinggi Milik Suku Aborigin

👤Abdillah Marzuqi 🕔Rabu 27 Mei 2020, 16:36 WIB
Batu itu menampilkan figur mini berupa 17 manusia, boomerang, disertai pola geometris. Semua itu terlalu kecil untuk dimodelkan dengan...
123RF

Ancaman Suhu Panas di Laut Dalam

👤Fathurrozak 🕔Rabu 27 Mei 2020, 11:34 WIB
Suhu di laut dalam terancam meningkat dengan cepat pada...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya