Minggu 05 Januari 2020, 03:20 WIB

Keluarga, Belenggu, dan Pembebasan

Fathurrozak | Weekend
Keluarga, Belenggu, dan Pembebasan

DOK. VISINEMA PICTURES
Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI).

BILA karakter dalam film Postcards from the Zoo, Lana (Ladya Cheryl), ditaruh sebagai individu yang terbebas dari pengaruh nilai keluarga, sosok Awan (Rachel Amanda) dalam Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI) ialah kebalikannya. Ia dijamin dengan privilese yang melekat dari keluarganya.

Awan anak bontot, dengan dua kakak, Angkasa (Rio Dewanto) dan Aurora (Sheila Dara). Sosok Awan ditaruh sebagai proyeksi deskriptif sebagaimana stereotip anak bontot. Harus dilindungi, dijamin, dan mendapat keistimewaan lainnya. Tentu, dalam kacamata yang lebih mikro, keluarga urban kelas menengah.

Pengistimewaan yang berlebih ini sudah mulai disorot sejak kecil, ketika Awan dianggap ringkih dan perlu mendapat bimbingan serta perlin­dungan dari dua kakaknya. Apalagi semasa kecil ia pernah kecelakaan, yang membuat si bapak merasa Awan harus terus dijaga, bahkan sampai ia mendapat pekerjaan pertamanya.

Awan dan Lana ialah individu dalam entitas keluarga yang berbeda. Awan tumbuh dalam keluarga inti yang menjamin tumbuh kembangnya. Mengenalkan ia pada dunia sekeliling. Sementara itu, Lana dalam Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) besutan Edwin ialah individu yang tumbuh tanpa keluarga ‘asli’-nya. Tanpa bapak, ibu, atau rumah. Kebun Binatang Ragunan ialah rumahnya, juga dunianya. Om Dave, Pak Maman, para pekerja di kebun binatanglah entitas yang menggantikan kehadiran keluarga inti.

Meski dalam bingkai berbeda, Awan dan Lana bisa jadi memiliki irisan kemiripan yang menentukan perjalanan hidup keduanya. Selama Awan hidup, setidaknya sampai ia punya pekerjaan pertama setelah kuliah, ia tidak punya kebebasan untuk memilih dan menentukan. Yang Awan tahu, apa kata bapak. Sampai datang sosok Kale (Ardhito Pramono), yang memengaruhi cara pandang Awan dan berperan penting atas momentum karakter Awan. Sementara itu, perubahan Lana ialah ketika datangnya sosok pesulap berkostum koboi (Nicholas Saputra).

Setidaknya, menyimak kedua film ini membuat kita mempertanyakan pada posisi seperti apa individu yang terbentuk dengan pengaruh keluarga dan ia yang terbebas dari keluarga biologis?

Di film ini, karakter Bapak Narendra (Donny Damara) ialah proyeksi sebagaimana kepala keluarga dalam sistem patriarkat. Ia dihormati, juga campur tangan segala urusan para anggota keluarganya. Keluarga menjadi titik keberangkatan karakter-karakter dalam film memiliki corak identitas. Awan yang hampir tidak pernah bisa menentukan pilihan di hidupnya; si sulung Angkasa yang dibebani tanggung jawab menjaga adik-adiknya; dan Aurora yang dikarakterkan sebagai subjek yang nyaris niskala.

Bagi sebagian penonton, latar belakang cerita keluarga urban menengah atas yang diadaptasi dari buku laris Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini karya Marchela FP tersebut mungkin kurang familier. Namun, dinamika karakter dan identitas yang melekat pada setiap individu keluarga Narendra cukup universal untuk memberi ‘kedekatan’. Berangkat dari pemosisian anak sulung, tengah, dan bungsu, karakter digali dengan intrik yang mereka hadapi dalam posisinya di keluarga inti.

Keistimewaan yang diterima Awan, ialah menaruh ia sebagai karakter yang difokuskan sekaligus pusat intrik yang memicu letupan plot. Bagaimanapun situasinya, Awan ialah sosok yang diutamakan bapak sedari kecil.

Umpama saat Aurora cilik menceritakan catatan waktunya yang tercepat di kelas berenang. Alih-alih memuji, bapak justru meminta Aurora untuk melatih Awan agar lebih baik dalam berenang dan bisa berlaga bersama dalam perlombaan. Juga, saat semua anggota keluarga, kecuali Awan, pergi makan malam perayaan ulang tahun pernikahan Narendra dan Ajeng (Susan Bachtiar), mereka akhirnya kembali ke rumah untuk membantu Awan membuat maket.

Sebagai pemicu dinamika plot, saat Awan mengubah beberapa kebiasaannya, semua karakter pun terimbas. Misalnya saja, saat Awan mulai dekat dengan Kale, Angkasa dianggap sebagai penyebab oleh si bapak atau saat malam pembukaan pameran Aurora, bapak dan Awan justru adu mulut.

Utopis

Meski panggung tampak berpusat kepada Awan, Angga Sasongko sebagai sutradara NKCTHI tidak lupa mengeksplorasi karakter-karakter lain, terutama Angkasa dan Aurora, sehingga memberi pengayaan cerita yang believable. Porsi mereka pun bukan sekadar pelengkap.

Misalnya, Aurora yang berprofesi sebagai seniman. Dengan meminjam karya-karya instalasi kontemporer milik seniman Monica Hapsari, menjadi medium kita untuk menerjemahkan kompleksitas Aurora. Karya-karya khas instalasi benangnya yang membahas tema personalitas dan spiritualisme.

Atau, Kale. Ia muncul sebagai karakter yang memantik perubahan pada karakter Awan. Bahkan, saya melihat Kale ini juga turut memiliki kausalitasnya pada karakter Awan dalam versi serial yang dirilis terlebih dulu di Youtube.

Daripada versi serialnya, dialog-dialog dalam film lebih bertutur kendati masih ada dialog bak bahasa tulisan yang dibacakan. Setidaknya ada upaya lain dalam menyelipkan kutipan dari buku NKCTHI dengan cara lebih organik, seperti saat Kale menuliskan kalimat di gips Awan.

Musik yang dibubuhkan juga mampu menambah nuansa aural film ini. Secukupnya dari Hindia, meningkatkan tensi emosi pada saat scene Awan-Kale muncul rasa sekaligus menyiratkan kehadiran Kale pada kehidupan Awan. Juga, Sisir Tanah melalui lagu Pejalan-nya, yang ditujukan sebagai soundtrack kehidupan Angkasa yang memang tampaknya sedikit dieksplorasi pada tahap dewasa.

Penggunaan lini masa nonlinear dalam film cukup berperan efektif untuk mengungkapkan plot.
Dengan pendekatan ini, kisah menjadi lebih menarik sebab kausalitas antaradegan tersampaikan lebih jelas. Meskipun pendekatan itu juga dimaksudkan untuk menaruh plot twist yang tersirat dalam tagline film, ‘setiap keluarga punya rahasia’.

NKCTHI menjadi film yang menghangatkan. Dibuat dengan craftmanship olid, film ini punya narasi yang efektif tentang fungsi keluarga yang memengaruhi setiap individu di dalamnya. Kendati begitu, kebahagiaan utopis tetap digunakan untuk penutup sebagai jawaban khas film komersial. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More