Sabtu 04 Januari 2020, 16:00 WIB

Napak Tilas, Perahu Padewakang Tiba di Pulau Pantar

Palce Amalo | Nusantara
Napak Tilas, Perahu Padewakang Tiba di Pulau Pantar

Dok. Metro TV
Perahu Padewakang

 

PERAHU tradisional Suku Makassar, Padewakang yang melakukan pelayaran napak tilas Makassar, Sulawesi Selatan-Australia, tiba di Pulau Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (4/1).

Perahu Padewakang bertolak dari Dermaga Poepsa, Makassar sejak 8 Desember 2019 untuk memulai pelayaran bersejarah, mengenang hubungan harmonis antara orang-orang Sulawesi bersama suku Aborigin di Australia.

"Sekarang kami berlabuh di salah satu teluk di Pulau Pantar, sedang mengganti salah satu kemudi yang semalam patah," kata Peneliti Maritim Ridwan Alaimuddin yang ikut berlayar bersama perahu tersebut saat dihubungi Media Indonesia.

Baca juga: Sidak Proyek, Bupati Sikka Ragukan Bangunan Puskesmas Waigete

Perahu berukuran 14,5 x 4,5 meter itu dibantu dua layar, baru akan bertolak ke Pulau Alor pada Minggu (4/1). Dari sana, pelayaran akan dilanjutkan ke Pulau Tanimbar di Maluku Tenggara Barat yang merupakan titik terakhir sebelum berlayar ke Australia melalui laut lepas.

"Kalau angin bagus, kami butuh 3-4 hari berlayar bisa tiba di Darwin," ujarnya.

Menurutnya, laju perahu bergantung dari kecepatan angin, dan angin barat yang melanda wilayah Indonesia saat ini sangat bagus untuk mendorong perahu terus melaju ke timur.

Menengok sejarah, hubungan antara orang-orang Sulawesi dengan Suku Aborigin sudah berlangsung 70 tahun sebelum James Cook datang ke Australia pada 1770, dan hubungan itu berlangsung sampai 1907.

Ketika itu, orang-orang Sulawesi pergi ke Darwin untuk mencari teripang yang kemudian diolah bersama masyarakat Aborigin sebelum kembali ke Sulawesi.

Menurut Ridwan, perahu Padewakang dijadwalkan tiba di Darwin pada pekan ketiga Januari 2020. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More