Sabtu 04 Januari 2020, 09:30 WIB

Keanekaragaman Budaya Warnai Peringatan Hari Amal Bhakti

Apul Iskandar | Nusantara
Keanekaragaman Budaya Warnai Peringatan Hari Amal Bhakti

MI/Apul Iskandar
Upacara peringatan Hari Amal Bhakti ke-74

 

KEANEKARAGAMAN budaya di Indonesia mewarnai upacara peringatan Hari Amal Bhakti ke-74 yang diselenggarakan Kementerian Agama di Lapangan H Adam Malik Pematangsiantar, Jumat (3/1). Selain para peserta upacara banyak yang mengenakan pakaian adat, ditampilkan beberapa tarian tradisional, seperti Tortor Sombah, Saman, dan lainnya.

Acara itu turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), pejabat di lingkungan kantor Kementerian Agama (Kemenag) beserta staf, para pimpinan Kantor Urusan Agama (KUA), guru, siswa-siswi MAN, MTsN, dan MIN. Mereka banyak yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah/suku.

Wali Kota Pematangsiantar Hefriansyah, selaku pemimpin upacara, membacakan amanat Menteri Agama Fachrul Razi. Disebutkan, Kemenag dibentuk 3 Januari 1946 dengan Menteri Agama pertama H Mohammad Rasjidi.

Baca juga: Ekonomi Baru dan Peningkatan Kualitas Warga Batam jadi Unggulan

Kemenag, katanya, lahir di tengah kancah revolusi fisik bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari penjajah. Sebagai bagian dari perangkat bernegara dan berpemerintahan, Kemenag hadir dalam rangka pelaksanaan Pasal 29 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Sejalan dengan tema Hari Amal Bhakti Kemenag 2020, yaitu "Umat Rukun, Indonesia Maju", seluruh jajaran Kemenag di pusat dan daerah, diajak menjadi agen perubahan. Hal tersebut dalam rangka memperkuat kerukunan antarumat beragama di tanah air. Kerukunan antarumat beragama, lanjutnya, merupakan modal kita bersama untuk membangun negara dan menjaga integrasi nasional.

"Kementerian Agama hadir untuk melindungi kepentingan agama dan semua pemeluk agama. Untuk itu, seluruh jajaran Kementerian Agama harus bisa mengawal dan mengembangkan peran strategis Kementerian Agama secara kontekstual di tengah masyarakat," terangnya.

Dilanjutkannya, selama tujuh dekade perjalanan sejarah Kemenag, banyak perubahan dan kemajuan yang dicapai dalam spektrum tugas yang begitu luas. Misalnya, dalam fungsi bimbingan masyarakat beragama, pelayanan nikah, pembinaan pengelolaan zakat dan wakaf serta dana sosial keagamaan lainnya, penyelenggaraan ibadah haji, pendidikan agama dan keagamaan di semua jenjang, penelitian dan pengembangan serta kediklatan, pembinaan kerukunan antar umat beragama, penyelenggaraan jaminan produk halal, serta penguatan tata kelola manajemen dan organisasi sesuai agenda reformasi birokrasi.

Jajaran Kemenag pun diajak memerhatikan enam hal. Keenam hal itu yakni, memahami sejarah Kemenag serta regulasi, tugas, dan fungsi kementerian ini dalam konteks relasi agama dan negara; menjaga idealisme, kejujuran, integritas, dan budaya kerja Kemenag di tengah arus kehidupan yang serba materialistis, selaraskan antara kata dengan perbuatan, sesuaikan tindakan dengan sumpah jabatan; dan tanamkan selalu bahwa bekerja adalah ibadah dan melayani masyarakat adalah sebuah kemuliaan.

Kemudian, memperkuat ekosistem pembangunan bidang agama antar sektor dan antarpemangku kepentingan, baik sesama institusi pemerintah, tokoh agama, organisasi keagamaan dan segenap elemen masyarakat; merangkul semua golongan dan potensi umat dalam semangat kebersamaan, kerukunan, persatuan dan moderasi beragama sejalan dengan falsafah Pancasila yang memersatukan anak bangsa walau berbeda ras, etnik, keyakinan agama, dan golongan; serta . mengimplementasikan visi dan misi pemerintah ke dalam program kerja Kemenag di semua unit kerja pusat, daerah, dan Perguruan Tinggi Keagamaan.

"Utamanya, tentu tidak lupa saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada seluruh aparatur Kementerian Agama, baik yang masih aktif maupun yang telah purna bakti atas segala dedikasi dan pengabdiannya," katanya.

Acara dirangkai penyerahan SK Pensiun Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kemenag Kota Pematangsiantar, penyerahan bingkisan pemenang lomba pakaian adat dan pertunjukan 500 siswa/i MAN yang menari Saman, Tortor Sombah, Melayu, dan Jawa. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More