Sabtu 04 Januari 2020, 07:10 WIB

Membumi dengan Sokola

Bagus Pradana | Weekend
Membumi dengan Sokola

Dok. MI
Cover Buku Melawan Stean Bermata Runcing

PENDIDIKAN yang baik, sejatinya aplikatif untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh seorang siswa sehari-hari, mengakomodir nilai-nilai lokal, dan membumi dengan konteks sosial. Demikian Mansour Fakih (2001) mendefinisikan pendidikan sebagai sebuah proses untuk membebaskan seorang manusia dari belenggu-belenggu keterasingan ilmu pengetahuan.

Prinsip akomodasi ini seharusnya menjadi roh dasar dari proses pembebasan manusia yang diberi nama pendidikan, seperti halnya Ki Hadjar Dewantara (1977) yang menggunakan prinsip 'Tri N' (Niteni, Niroke, Nambahi) ala Jawa ketika memberikan pengajaran di Taman Siswa.

Perspektif akomodatif inilah yang ditawarkan oleh lima orang pegiat Sokola Institute yang menulis buku yang berjudul Melawan Setan Bermata Runcing: Refleksi Gerakan Pendidikan Sokola terbitan Sokola Institute, 2019 ini, mereka ialah Butet Manurung, Aditya Dipta Anindita, Dodi Rokhdian, Fadilla M Apristawijaya, dan Fawaz.

Buku setebal 266 halaman ini berisi tentang refleksi pengalaman dari gerakan pendidikan yang digawangi oleh Butet di beberapa komunitas adat di Indonesia sejak 2003. Saat itu Butet dan beberapa relawan eks pendamping dari kelompok masyarakat adat Orang Rimba di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) bersepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang berfokus menyelenggarakan pendidikan alternatif bagi komunitas masyarakat adat di Indonesia yang bernama Sokola Institute.

Berbekal pengalaman mendampingi komunitas adat Orang Rimba di hutan Bukit Duabelas, Butet ingin mengembangkan gerakan pendidikan alternatif yang telah ia mulai bersama rekan-rekannya ke komunitas masyarakat lain yang tidak dapat mengakses sekolah formal karena faktor geografis dan kultural. Dalam penyampaiannya, buku ini merekam pengalaman dari para pegiat Sokola Institute melayani 'to serve' komunitas-komunitas adat di Indonesia, yang hingga hari ini mereka telah mendampingi kurang lebih sekitar 15 komunitas, baik yang masih rutin mereka advokasi maupun yang telah selesai, diantaranya ada Sokola Kajang (2007-2014); Sokola Wailago (2006-2016); Sokola Halmahera (2007-2009); Sokola Asmat (2013-2016); Sokola Rimba (2003-Sekarang); Sokola Pesisir (2005-Sekarang); dan Sokola Kaki Gunung (2015-Sekarang).

 

Reflektif

Sebagai sebuah buku yang ditulis dalam format reflektif, buku bersampul putih ini memiliki aspek isi yang khas dalam penulisannya. Buku ini hadir dengan konteks kasuistik yang mampu memberikan gambaran kepada pembaca tentang apa yang dialami oleh para relawan yang menuliskan pengalaman-pengalamannya hidup bersama komunitas adat.

Dalam purwaka, Butet rutin menggunakan kata 'live in' untuk menjelaskan kegiatan 'menetap' yang dilaluinya di beberapa daerah. Baginya dan para relawan (guru) di Sokola, “Live in di lapangan ialah sekolah bagi kami. Setiap tantangan di lapangan yang datang bertubi-tubi harus dihadapi oleh setiap guru sendirian tanpa bisa bertanya kepada siapa pun (karena tidak ada sinyal) ialah 'mata pelajaran yang terbaik'.”

Namun, dalam format reflektif ini pembaca justru akan diajak masuk ke sisi teknis mengenai kerja-kerja eksperimental dari para penulis buku guna menyampaikan apa yang mereka maksud sebagai 'pendidikan' kepada anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang masih awam dengan 'kata' itu (pendidikan).

Buku ini memiliki tujuh bab yang saling berkelindan satu dengan lainnya, menjelaskan maksud dari tajuk 'Setan Bermata Runcing'. Ada beberapa bagian dalam buku ini yang menurut kami menarik untuk diulas.

Yang pertama ialah membawa metode ke luar rimba. Bab Pertama ialah bab yang mampu memberikan prediksi mengenai keseluruhan isi buku, bab ini ditulis oleh Dodi Rokhdian, seorang relawan senior di Sokola berdarah Sunda. Cukup detail ia menceritakan mengenai masalah penguasaan literasi dasar (calistung) yang masih rendah dari anak-anak di banyak daerah 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan) di Indonesia. Sokola, menurut penuturannya, mencoba membawa metode pengajaran yang lebih adaptif dengan konteks pengetahuan dan budaya lokal yang ada. Menurutnya, "Kontekstualisasi pendidikan Sokola berangkat dari pemahaman praktis bahwa apa yang diajarkan (pengetahuan) harus berguna bagi penyelesaian persoalan kehidupan."

Berangkat dari metode yang diracik secara kontekstual, Sokola kemudian mengembangkan metode tersebut ke berbagai komunitas masyarakat yang belum mendapatkan (atau mengalami kesulitan) akses ke pendidikan formal akibat faktor geografis dan kultural, terkhusus untuk komunitas adat.

Kedua, komunitas sebagai subjek. Pada bab kedua, elaborasi berlanjut ke arah yang lebih reflektif mengenai pengalaman dari Fadilla M Apristawijaya saat 'live in' di daerah Kajang, Sulawesi Selatan. Ia memotret kebijakan pembangunan infrastruktur bidang pendidikan yang diimplementasikan pemerintah di kawasan Kajang, yang ternyata banyak yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kultural yang dipahami masyarakatnya. Hal tersebut bertentangan dengan apa yang Fadilla pahami mengenai pendidikan. Baginya, "Pendidikan harus bermanfaat bagi komunitas dan mau berhadapan langsung dengan permasalahan yang sedang dan akan dihadapi oleh komunitas. Kami menyebutnya school for life--sekolah untuk kehiupan."

Menurut Fadilla, seharusnya program pendidikan wajib melibatkan komunitas dan diterapkan dalam koridor dialog yang berimbang karena pendidikan ialah upaya untuk memberdayakan manusia, bukan semata tatap muka formal yang terkungkung di dalam ruangan. 

Yang ketiga ialah penghargaan atas kerelawanan. "Apa yang salah dengan menjadi volunter?," pertanyaan itu pernah hinggap di benak Butet Manurung sebelum mendirikan Sokola Institute. "Kamu perempuan, lahir besar di Jakarta, sekolah tinggi, kenapa mau bekerja keluar-masuk hutan hanya untuk orang-orang seperti mereka?," pengakuan Butet yang terbubuh di sepenggal kisah dalam buku ini menjadi sebuah pegangan historis bagi seorang Aditya Dipta Anindita mendiskripsikan tentang apa itu arti kerelawanan yang menjadi acuan dari para pegiat di Sokola.

Refleksi mengenai definisi kerelawanan ini banyak diambil oleh Indit, demikian namanya kerap disapa dari penggambaran pengalaman personal rekan-rekan sejawatnya, terutama mengenai alasan yang menjadi pemicu utama kesediaan mereka ditempatkan di daerah-daerah pelosok di Indonesia. Indit melihat ada kesamaan alasan yang dimiliki rekan-rekannya yang memutuskan untuk bergabung dengan Sokola, alasan itu menyublim menjadi sebuah tujuan yang teraplikasi dalam misi pembebasan yang membumi.

"Menjadi volunter haruslah membumi agar kita dapat melihat dari dekat dan mendengar langsung hal-hal yang tengah berlangsung di komunitas. Perubahan hanya dapat dilakukan dengan menempatkan komunitas sebagai subjek. Di Sokola, kami menyebutnya ‘keberpihakan’," pungkas Anindita dalam diskripsinya tentang voluntarisme (kerelawanan).

Mungkin bab ini merupakan bab yang paling menonjolkan sisi personal di buku ini karena sentuhan-sentuhan emosional sangat terasa, terutama jika para pembaca mengenal sosok penulis atau sosok-sosok yang dituliskannya. Namun, bagi yang tidak mengenal, narasi cerita di bab ini juga lumayan untuk dinikmati sebagai sebuah catatan antropologi.

Yang keempat, yang tidak kalah penting ialah literasi dasar. Butet percaya bahwa baca-tulis dapat membantu komunitas-komunitas adat menghadapi tantangan yang lebih besar yang datang dari luar, kesan ini sangat tersirat dalam bab lima buku ini yang ditulis oleh Butet Manurung. Ia mengawali kisahnya dengan cerita tentang 'kesaktian' dari baca-tulis yang ia tunjukkan kepada anak-anak dari komunitas Orang Rimba. Mereka kesusahan menghafal huruf dan mengawinkannya, buta huruf mungkin ialah term yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang mereka alami. Ia jelaskan satu per satu kendala teknis apa yang dialami oleh anak-anak ini dan bagaimana cara mengatasi persoalan tersebut melalui pendekatan yang lebih kontekstual dalam catatan sepanjang 58 halaman.

Ini ialah usahanya untuk menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan oleh anak-anak kepadanya, pertanyaan itu ialah 'setelah bisa baca-tulis, lalu untuk apa?'. Sebuah pertanyaan yang jawabannya ia sadari waktu sebuah pohon tumbang setelah digergaji oleh 'chainsaw' di tengah ia memberikan pelajaran kepada anak-anak di basecamp-nya.

"Untuk apa bisa baca-tulis jika tak bisa menyelamatkan hutan? Itu artinya, pelajaran perlu dikembangkan ke arah literasi terapan yang lebih advokatif, yang mampu melindungi hak-hak mereka," pungkas Butet mengakhiri refleksi di Bab Lima.

 

Persoalan bersama

Berkaitan dengan literasi terapan, secara terperinci dikisahkan oleh Fawaz dalam narasi antropologi yang mengusung kisah perjalanan para pegiat Sokola yang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua. Perihal mengenai literasi terapan ia jelaskan dari sebuah kisah pilu yang sempat ia temui di Asmat, tentang seorang Ibu yang baru kehilangan anaknya di Puskesmas karena salah memahami instruksi pemberian obat.

Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi salah satu alasan mengapa intervensi pendidikan, terutama melalui pemberian materi literasi terapan, sangat diperlukan untuk masyarakat (atau komunitas adat) yang berada di kawasan 3T tadi. Bagaimana masyarakat yang telah mampu memahami literasi dasar (calistung) dapat menggunakan kemampuannya untuk mengatasi masalah kehidupan sehari-hari dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dimiliki komunitas.

Menurut Fawaz, inti dari pendidikan kontekstual justru ada pada upaya pendampingan terhadap pendayagunaan literasi terapan di komunitas-komunitas adat, jangan berhenti hanya pada penguasaan literasi dasar (calistung) saja.

"Pendidikan kontekstual harus disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari dan kondisi lingkunga sekitar. Lebih dari itu, manfaat pendidikan harus bisa dirasakan langsung oleh peserta didik, khususnya komunitas tempat peserta didik berasal. Porgram literasi terapan inilah yang menjadi sarana untuk memenuhi tujuan pendidikan kontekstual yang bermanfaat bagi peserta dan komunitas mereka," pungkas Fawaz dalam tulisannya tentang literatur terapan.

Secara keseluruhan, buku Melawan Setan Bermata Runcing ini memiliki dua fungsi utama. Pertama, sebagai laporan penelitian yang ditulis dalam bentuk narasi antropologi sehingga dapat menjangkau sasaran zonasi pembaca yang luas. Kemudian, kedua sebagai sebuah buku teoretis atau pedoman pendidikan yang berisi tentang penerapan teori-teori pendidikan 'kritis' (atau kata lainnya, yaitu 'kontekstual') yang telah dipraktikkan dalam kurun dua dasawarsa oleh Butet dan kawan-kawan di Sokola institute. (M-4)

__________________________________________________

 

Judul buku: Setan Bermata Runcing: Pengalaman Gerakan Pendidikan Sokola

Penulis: Butet Manurung, Aditya Dipta Anindita, Dodi Rokhdian, Fadilla M Apristawijaya, dan Fawaz.

Jumlah halaman: 266 halaman

Penerbit: Sokola Institute

Terbit: November 2019

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More