Jumat 03 Januari 2020, 19:01 WIB

Kongres AS Terbelah Menyikapi Serangan Menewaskan Komandan Iran

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Kongres AS Terbelah Menyikapi Serangan Menewaskan Komandan Iran

ATTA KENARE /AFP
Masyarakat Iran membakar bendera AS saat berunjuk rasa mengencam AS atas kematian Mayjen Qasem Soleimani di Tehran, Iran, Jumat (3/1)

 

PEMBUNUHAN komandan kuat Korps Pengawal Revolusi Iran, Jenderal Qassim Suleimani, dalam serangan udara Amerika Serikat (AS), Jumat (3/1), secara tajam membelah para pemimpin kongres di sepanjang garis partai.

Perkembangan terbaru yang membuat kawasan bergolak menyalakan kembali perdebatan tentang apakah Kongres harus mengurangi kekuatan perang dari presiden.

Serangan, yang menurut Pentagon diperintahkan Presiden Donald Trump dan ditujukan untuk menghalangi rencana serangan Iran di masa depan, adalah peningkatan yang signifikan dalam kampanye tekanan pemerintah AS terhadap Teheran.

"Skenario khusus ini adalah salah satu yang telah saya pikirkan selama bertahun-tahun dan itu adalah skenario yang bisa mengarah pada jenis kekerasan dan kekacauan yang kita sedang berusaha mati-matian untuk keluar darinya," kata Andy Kim, politikus Demokrat dari daerah pemilihan New Jersey dan mantan direktur untuk Irak di Dewan Keamanan Nasional Presiden Barack Obama.

Menurut Ketua DPR AS Nancy Pelosi, serangan tersebut dilakukan ‘tanpa konsultasi' dari Kongres.

"Prioritas tertinggi para pemimpin Amerika Serikat adalah melindungi kehidupan dan kepentingan AS," kata Pelosi dalam sebuah pernyataan.

“Tetapi kita tidak bisa membahayakan nyawa anggota layanan Amerika, diplomat, dan lainnya dengan terlibat dalam tindakan provokatif dan tidak proporsional. Serangan udara malam ini berisiko memicu meningkatnya kekerasan yang berbahaya," ujarnya.

Sementara anggota parlemen Republik memuji presiden atas serangan itu, mengatakan Trump telah membawa keadilan kepada sejumlah keluarga militer AS.

Para pejabat Amerika Serikat mempertimbangkan Jenderal Suleimani bertanggung jawab atas kematian ratusan tentara AS selama perang Irak dan juga untuk kegiatan-kegiatan Iran yang bermusuhan di seluruh Timur Tengah.

"Kematiannya memberikan peluang bagi Irak untuk menentukan masa depannya sendiri yang bebas dari kendali Iran," kata Senator Jim Risch dari Idaho, ketua Komite Hubungan Luar Negeri.

Tetapi Demokrat khawatir tentang konsekuensi dari serangan itu. Senator Seth Moulton, Demokrat dari Massachusetts, menyebut Jenderal Suleimani sebagai musuh AS dengan darah orang Amerika di tangannya.

"Tapi pertanyaan yang kami perjuangkan selama bertahun-tahun di Irak adalah bagaimana membunuh lebih banyak teroris daripada yang kami ciptakan," kata Moulton dalam sebuah pernyataan.

"Itu pertanyaan terbuka malam ini ketika kita menunggu reaksi Iran terhadap eskalasi Donald Trump, yang dapat memicu perang regional, dengan masih tidak ada strategi dari pemerintah," tambah Moulton.

Anggota parlemen lainnya, seperti Senator Tom Udall dari New Mexico, menuduh Trump membawa negara itu ke tepi perang ilegal dengan Iran. (AFP/New York Times/Hym/OL-09)

Baca Juga

AFP

Biden Menang, Hubungan Indonesia-AS Lebih Clear

👤Nur Aivanni 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 02:15 WIB
Jika Trump yang keluar sebagai pemenang, akan ada stagnansi ketidakpastian dalam hubungan AS-Indonesia meski tidak ada yang secara akurat...
Antara

Serangan Rudal Armenia, 21 Orang di Azerbaijan Tewas

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 21:00 WIB
Militer Azerbaijan mengatakan serangan rudal di dekat Nagorno-Karabakh pada Rabu (28/10) telah menewaskan 21 orang dan puluhan lainnya...
AFP/Ahmad Gharabli

Indonesia Panggil Dubes Prancis dan Kecam Pernyataan Macron

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 20:51 WIB
Pemerintah Indonesia keberatan terhadap pernyataan Presiden Macron yang mengindikasikan ada kaitan antara agama dan tindakan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya