Jumat 03 Januari 2020, 16:54 WIB

Modifikasi Cuaca Mampu Turunkan Intensitas Hujan Hingga 40%

Atalya Puspa | Humaniora
Modifikasi Cuaca Mampu Turunkan Intensitas Hujan Hingga 40%

MI/Pius Erlangga
BANJIR AWAL TAHUN 2020: Anak-anak bermain air banjir yang menggenangi kawasan Kwitang, Jakarta, Kamis (2/1).

 

UNTUK mengantisipasi banjir yang sebabkan oleh curah hujan ekstrem, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mulai melakukan reduksi curah hujan yang tinggi di wilayah Jabodetabek melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada hari ini, Jumat (3/1). Hal itu bertujuan agar banjir yang kini merendam sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya bisa segera teratasi.

Pakar Meteorologi Tropis BPPT Tri Handoko Seto mengungkapkan, diharapkan operasi TMC dapat menurunkan intensitas hujan hingga 40% di wilayah Jabodetabek.

"Pengalaman kita 2013 TMC mampu mengurangi curah hujan 30% sampai 40% per hari. Kalau sekarang curah hujan 377 milimeter perhari, berarti menjadi 250 milimeter perhari," kata Seto di Gedung BPPT, Jakarta Pusat, Jumat (3/1).

Adapun, BPPT mengerahkan 2 jenis unit pesawat dari TNI AU, yakni CN295 dan Casa untuk menyemai awan hujan yang mengarah ke daerah padat penduduk. Diharapkan, proses penyemaian tersebut dapat menurunkan hujan lebih cepat sebelum awan hujan masuk ke Jabodetabek.

"Kedatangan awan kan dari Sumatera Barat, nah kita mencegah awan itu masuk ke Jabodetabek dengan mempercepat turun hujan di Selat Sunda, atau Lampung. Jadi airnya turun ke laut dan tidak ke permukiman," tambah Kepala BPPT Hamam Riza.

Operasi TMC akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Diprakirakan setiap harinya dua pesawat tersebut akan membawa total 6 hingga 8 ton garam untuk menyemai awan yang hendak masuk ke Jabodetabek.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, curah hujan yang tinggi disebabkan oleh siklus cuaca ekstrem yang sedang terjadi saat ini.

Pihaknya memprakirakan, pada tanggal 5 - 10 Januari mendatang awan hujan akan berarak dari Samudera Hindia menuju Samudera Pasifik. Awan tersebut akan berarak sepanjang ekuator dan memasuki Indonesia lewat Sumatera Barat pada 5 Januari mendatang.

"Masuk ke Kalimantan, menyenggol pulau Jawa, Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung. Pada tanggal itu, curah hujan intensitasnya diprakirakan meningkat lagi. Biasanya menjelang malam hingga dini hari," jelasnya.

Setelahnya, pada tanggal 11 hingga 15 Januari, awan tersebut akan bergerak ke Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Mereka berjalan terus. Dan pada curah hujan akan tinggi di wilayah tersebut," ucapnya.

"Tapi semoga kalau operasi TMC berhasil, prakiraan kami salah," tandasnya. (Ata/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More