Jumat 03 Januari 2020, 13:56 WIB

Waspada Jamur Bertamu Usai Banjir

Galih Agus Saputra | Weekend
Waspada Jamur Bertamu Usai Banjir

Unsplash/JE Shoots
Jamur bukan hanya mengganggu kesehatan, tapi juga struktur bangunan.

USAI banjir melanda, orang-orang biasanya akan segera melakukan perbaikan dan pembersihan. Banyak juga pihak yang mulai menghitung kerugian, mulai dari sisi finansial hingga kesehatan.

Berbicara soal kesehatan, Pakar Alergi dan Imunologi dari Fakultas Kedokteran, Universitas Washington, St. Louis, Amerika Serikat (AS), H. James Wedner, M.D menyarankan agar warga terdampak banjir harus memperhatikan kondisi ruang di dalam rumah maupun di kantornya masing-masing. Sebab, ruangan yang lembap dapat membawa penyakit atau menjadi lahan subur bagi pertumbuhan jamur yang terbawa dan kemudian mengendap di berbagai sudut ruangan karena genangan air.

Lebih dari itu, menurut Wedner, jamur yang tumbuh subur di ruangan lembap dapat memicu reaksi berbagai macam alergi, termasuk gejala asma pada orang yang sensitif. "Jamur suka air. Ketika bangunan Anda kebanjiran, sangat sulit untuk mengeringkannya dengan cepat dan sepenuhnya dan itu memungkinkan jamur tumbuh. Tembok yang terbuat dari drywall (gypsum) bahkan menyerap air jauh lebih banyak, dimana cetakannya biasa digunakan untuk dinding, lantai, dan langit-langit maupun furnitur,” katanya, seperti dilansir Sciencedaily.

Wedner sendiri adalah spesialis di bidangnya dan telah melakukan penelitian terkait jamur dan alergen lain di rumah-rumah, khususnya sejak banjir melanda Midwestern, AS, pada 1993. Menurutnya, jamur bereproduksi dengan melepaskan spora. Menghirup spora dapat menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang, yang mana gejalanya dapat dimulai dengan gatal-gatal, mata atau hidung berair, sakit kepala di atas dan di bawah mata, perubahan pendengaran, tenggorokan dan langit-langit mulut yang gatal, batuk, hingga sesak nafas.

Maka dari itu, Wedner lantas menekankan bahwa sumber reaksi jamur itu sendiri harus dihilangkan dengan cara, menghindari kondisi lembab atau membuang barang-barang yang sulit dikeringkan. Wedner juga merekomendasikan agar orang terdampak banjir segera mengganti pakaian yang basah, termasuk membersihkan area bangunan yang terdampak dengan bahan-bahan yang tepat, misalnya, larutan pemutih untuk membunuh jamur.

Selain reaksinya menyebabkan alergi, menurut Wedner jamur juga memiliki efek negatif terhadap kondisi emosional seseorang. Organisme yang melepaskan zat atau senyawa organik pada dasarnya mudah menguap. Orang yang menghirup uap tersebut, yang biasanya diasosiasikan pada rasa tidak suka pada bau apak, sebenarnya tengah bereaksi dengan jamur dalam tataran emosional.

"Jika Anda merasa sesuatu ketika mencium bau, dipastikan yang membuat Anda terganggu adalah jamur itu," kata Wedner.

Jamur pada dasarnya juga dapat merusak bangunan secara struktural. Menurut Wedner, hal itu disebabkan oleh fenomena lepasnya suatu enzim untuk memecah selulosa, atau elemen yang umumnya terdapat pada komponen rumah dengan material kayu. Jamur jenis ini melepaskan racun secara alami yang disebut mikotoksin, namun tidak menimbulkan masalah bagi orang di sekitarnya karena tidak berdifusi melalui udara. Namun demikian, racun itu tetap berhaya jika terpapar secara langsung, atau tertelan oleh anak-anak hingga orang dewasa. Oleh karena itu, tegas Wedner, orang yang terdampak banjir harus benar-benar segera memperhatikan kelembapan maupun kebersihan ruangannya. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More