Jumat 03 Januari 2020, 13:09 WIB

Warisan Herman van Breen Kendalikan Banjir Jakarta

Siswantini Suryandari | Humaniora
Warisan Herman van Breen Kendalikan Banjir Jakarta

Istimewa
Dharwis Yacob, Arsiparis Madya di Arsip Nasional RI

 

SETIAP musim hujan, banjir selalu memghantui Kota Jakarta. Sebetulnya masalah banjir di Jakarta ini sudah berlangsung sejak zaman kolonial. Arsiparis Madya di Arsip Nasional RI, Dharwis Yacob kepada Media Indonesia, Jumat (3/1/2020) mengatakan bahwa berdasarkan penelitian arsip-arsip yang ada di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), bahwa Batavia pernah dilanda banjir pada 19 Februari 1918.

"Salah satu daerah bagian dari Hindia Belanda yaitu Batavia mengalami bencana banjir. Hampir seluruh Batavia terkena  banjir di antaranya di daerah Pinangsia, Tanah Tinggi, Pejambon, Grogol, Kebon Jeruk, Kampung Tambora, dan Glodok.  Melihat kondisi seperti itu gemeenteraad Batavia (sekarang mirip dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) langsung mengadakan sidang paripurna pada tanggal 19 Februari 1918, jam 19.15. Dalam rapat tersebut hadir walikota dan 14 anggota gementeraad. Selain itu hadir pula Herman Van Breen, ahli tata air Batavia. Dalam rapat tersebut,  anggota  gementeraad mengutus Herman van Breen untuk mengatasi banjir di Batavia," kata Dharwis saat membacakan arsip bencana banjir di Batavia.

Dharwis menceritakan sosok Herman van Breen yang merupakan insinyur hidrologi dan bekerja pada Burgelijke Openbare Werken/BOW (sekarang mirip seperti Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia). Herman van Breen memiliki rencana untuk mengatasi banjir Batavia antara lain dengan  memecah aliran sungai yang masuk Batavia melalui sebelah kiri dan kanan Batavia. Sehingga aliran air tidak ada yang masuk tengah kota. Atas dasar rencana itulah pada tahun 1922 dimulai pembangunan Banjir Kanal Barat setelah sebelumnya membangun pintu air Manggarai dengan membentuk Tim Penyusun Rencana Pencegahan Banjir.

Banjir Kanal Barat atau disebut juga Banjir Kanal Manggarai-Karet dibangun dalam dua tahap. Tahap pembangunan pertama dimulai dari Pintu Air Manggarai menuju arah barat melewati Pasar Rumput, Dukuh Atas, lalu membelok ke arah barat laut di daerah Karet. Tahap kedua dibangun setelah BOW mendapat bantuan dana dari Pemerintah. Tahap kedua ini dibangun dari Karet menuju ke arah Tanah Abang, Tomang, Grogol, Pademangan, dan berakhir di sebuah penampungan air di muara, di daerah Pluit. Konsep Banjir Kanal Barat adalah dengan membatasi volume air yang masuk ke Batavia melalui 13 sungai. Di antaranya Sungai Cakung, Jati Kramat, Buaran, Sunter, Cipinang, Ciliwung, Cideng, Krukut, Grogol, Sekretaris, Pesanggrahan, Mookervart, dan Angke. Kemudian limpahan debit air yang melalui 13 sungai tersebut akan dibuang melalui sisi kiri dan kanan kota ke laut.

"Konsep van Breen memerrlukan perhitungan cermat dan pelaksanaannya butuh biaya tinggi. Pada intinya konsep van Breen adalah mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air masuk Batavia. Karena itu, perlu dibangun saluran-saluran pengumpul air di pinggir selatan Batavia untuk menampung limpahan air, dan selanjutnya dialirkan ke laut melalui tepian barat kota" tambahnya.

Alumni Sejarah UGM yang belajar kearsipan sampai ke Belanda menerangkan bahwa saluran pengumpul air yang dibangun itu kini dikenal sebagai Banjir Kanal Barat yang memotong Batavia dari Pintu Air Manggarai bermuara di kawasan Muara Angke. Manggarai dijadikan titik awal karena daerah itu merupakan batas selatan kota yang masih cukup aman dari gangguan banjir sehingga memudahkan pengendalian air di musim hujan. Banjir Kanal Barat mulai dibangun pada 1922 dan dikerjakan secara bertahap, mulai dari Pintu Air Manggarai ke arah barat, memotong Sungai Cideng, Krukut, Grogol, sampai ke Muara Angke. Untuk mengatur debit aliran air ke dalam Batavia, Banjir Kanal Barat dilengkapi beberapa pintu air, termasuk Pintu Air Manggarai untuk mengatur debit air Kali Ciliwung Lama, dan Pintu Air Karet, untuk membersihkan Kali Krukut Lama dan Kali Cideng Bawah.

Dengan adanya Banjir Kanal Barat, beban sungai di utara saluran pengumpul air jadi relatif terkendali.Penetapan Manggarai sebagai titik awal karena saat itu, wilayah ini merupakan batas selatan kota yang relatif aman dari gangguan banjir sehingga memudahkan sistem pengendalian aliran air di saat musim hujan.  

Dalam menyusun konsep Herman van Breen, tampak sadar bahwa banjir yang selalu mengancam Batavia tak akan teratasi jika hanya memperbaiki sistem tata air di dalam kota. Karena itu pencegahan di daerah hulu pun harus dikelola terpadu. Oleh karena itu, untuk mengendalikan aliran di daerah hulu perlu dibangun beberapa bendungan untuk penampungan sementara, sebelum air dialirkan ke hilir.

"Sebagai implementasi dari rencana pencegahan di daerah hulu, dibangun dua bendungan yakni: Bendungan Katulampa di Ciawi, dan Bendungan Empang di hulu Sungai Cisadane. Bendungan Katulampa atau Katoelampa-dam adalah bagian dari sistem tata kelola perairan pemerintah Belanda untuk pengendalian banjir agar Batavia sebagai ibukota negara terbebas dari kemungkinan banjir," tambahnya.

Bendungan Katulampa mulai dioperasikan pada tahun 1911. Dari Katulampa, sebagian air Ciliwung dialirkan lewat pintu air ke Kali Baru Timur, saluran irigasi yang dibangun pada waktu yang sama. Dari Bogor bagian timur, sungai buatan itu mengalir ke Batavia, melalui Cimanggis, Depok, Cilangkap, sebelum bermuara di daerah Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

baca juga: Kemenkes Waspadai Potensi Ancaman Penyakit Akibat Cuaca Ekstrem

"Kontribusi Herman van Breen dalam mengatasi banjir di Batavia begitu besar yang membuat Batavia terhindar dari banjir. Memang jika dibandingkan Batavia, Jakarta memang sudah jauh berbeda. Penduduk semakin bertambah beberapa kali lipat. Pesatnya pembangunan di Jakarta sehingga mempersempit tanah-tanah resapan.

"Tapi kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan. Sebab Herman van Breen sendiri telah berpesan konsep-konsep pengendalian banjir di Batavia harus terus diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan zaman," pungkas Dharwis. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More