Kamis 02 Januari 2020, 19:35 WIB

Demonstran Pro-Iran Tinggalkan Kedutaan Besar AS di Baghdad

Melalusa Susthira K | Internasional
Demonstran Pro-Iran Tinggalkan Kedutaan Besar AS di Baghdad

AFP
Ratusan demonstran mengepung Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak, Selasa (30/12)

 

PARA demonstran telah meninggalkan parimeter Kedutaan Amerika Serikat (AS) di ibukota Irak, Baghdad, yang sebelumnya dikepung pada Rabu (1/1). Hal tersebut terjadi setelah Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) paramiliter yang didukung Iran atau yang dikenal dengan Hashd Al-Shaabi, memerintahkan mereka untuk mundur.

Pasukan Irak telah menerapkan kembali langkah-langkah keamanan normal di Zona Hijau, yang menjadi kawasan gedung-gedung pemerintah Irak dan kedutaan besar berada. Militer Irak pun mengonfirmasi bahwa para demonstran telah meninggalkan Kedutaan AS di Baghdad pada Rabu (1/1) sore.

Baca juga: Trump: AS dan Tiongkok Segera Mulai Perundingan Dagang II

"Kami mencetak kemenangan besar. Kami tiba di kedutaan AS, yang belum pernah dilakukan sebelumnya," ungkap Juru Bicara Kataeb Hezbollah Mohammad Mohyeddin kepada AFP.

Sebelum memutuskan untuk mematuhi perintah Hashd Al-Shaabi untuk mundur dari wilayah kedutaan AS dan berkumpul di luar Zona Hijau, massa membakar bendera AS dan melemparkan batu ke arah kompleks kedutaan AS pada Rabu (1/1) pagi. Personel keamanan kemudian membalasnya dengan gas air mata dan melukai sedikitnya 20 orang.

Sebelumnya pada Selasa (31/12) lalu, ribuan demonstran yang sebagian besar merupakan para pendukung dan simpatisan Hashd Al-Shaabi telah mengepung dan merusak kompleks kedutaan AS. Mereka sebelumnya berkumpul dan menerobos pos pemeriksaan Zona Hijau yang dijaga super ketat sebagai gerbang masuk ke komplek Kedutaan AS.

Perdana Menteri sementara Irak Adel Abdel Mahdi meminta massa yang marah untuk meninggalkan Kedutaan AS. Namun, sebagian besar massa memilih bermalam dengan mendirikan puluhan tenda di luar tembok pembatas kedutaan AS.

Serangan demonstran pro-Iran di kedutaan AS tersebut dilancarkan sebagai protes atas serangan udara AS di wilayah Irak yang mengakibatkan 25 anggota pasukan milisi pro-Iran Kataib Hezbollah tewas dan sedikitnya 55 orang terluka pada Minggu (29/12).

Baca juga: Indonesia Kembali Peringatkan Tiongkok atas Klaim ZEEI

Adapun, AS menyebut serangan defensif di wilayah Irak dan Suriah yang menargetkan Kataib Hezbollah tersebut sebagai serangan balasan, atas tewasnya pegawai kontrak sipil AS dalam serangan roket di basis militer Irak pada Jumat (24/12). AS mengatakan kesalahan pada Kataib Hezbollah.

Presiden Donald Trump dan pejabat AS lainnya menyalahkan Iran atas serangan terhadap pasukan dan kedutaan AS. Trump pun mengancam Iran akan membayar harga tinggi atas serangan yang dilakukannya terhadap AS. Sementara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengutuk serangan AS di Irak dan memperingatkan negaranya siap untuk membalasnya. (AFP/OL-6)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More