Kamis 02 Januari 2020, 08:31 WIB

Waspadai Penyakit Pascabanjir, dari Diare hingga Leptospirosis

Indriyani Astuti | Humaniora
Waspadai Penyakit Pascabanjir, dari Diare hingga Leptospirosis

Antara
Warga bertahan di rumah meski terserang banjir

 

ADA sejumlah penyakit yang harus diantisipasi pascabanjir. Penyakit tersebut adalah berbagai penyakit yang jumlah kasusnya meningkat setelah banjir dan musim penghujan antara lain leptospirosis, diare, dan demam berdarah dengue.

Akademisi dan Praktisi Klinis sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Ari Fahrial Syam menjelaskan
secara umum peningkatan kasus penyakit pascabanjir didasarkan pada penyebaran tiga kelompok panyakit yaitu penyebaran melalui makanan dan minuman, penyebaran melalui nyamuk, dan penyebaran melalui tikus.

Saat banjir, ada potensi penyakit yang bisa ditularkan dari makanan dan minuman. Penyebarannya secara fecal oral atau penyakit yang masuk ke dalam saluran pencernaan melalui makanan dan minuman yang tercemar tinja penderita. Penyakit itu antara lain infeksi kolera atau usus, disentri, rotavirus, serta demam typhus.

Baca juga: Kemenkes Ingatkan Waspada Wabah Penyakit Akibat Banjir

Gejalanya, kata Prof. Ari yakni pasien dengan infeksi usus mengalami diare, muntah berak, mulas saat buang air besar (BAB) dan terkadang disertai darah.

"Diare juga menjadi kejadian luar biasa pada banjir Jakarta, beberapa tahun yang lalu," terangnya di Jakarta, Kamis, (2/1).

Kedua, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Nyamuk, sebagai vektor atau pembawa penyakit, misalnya Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue yang dibawa melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Terakhir ialah, penyakit yang ditularkan melalui tikus.

Penyakit yang ditularkan melalui hewan tikus, kata Prof Ari, merupakan penyakit yang juga sering didapat saat pascabanjir. Salah satu jenis penyakit ini yang paling sering dapat timbul pada bencana banjir ialah leptospirosis yang dibawa melalui kencing dan kotoran tikus dalam genangan banjir.

"Apabila kita mengalami luka terbuka pada tangan atau kaki atau mukosa mulut, air yang sudah tercemar dengan kotoran tikus yang sudah mengandung leptospirosis akan menularkan kita," ujarnya.

Gejala pada pasien dengan leptospirosis antara lain keluhan demam tinggi mendadak, sakit kepala, mual, muntah, lemas, nyeri otot terutama otot betis, mata merah, dan timbul kuning pada mata dan kulit. Air buang air kecil berubah seperti air teh.

"Sekilas pasien ini seperti pasien dengan infeksi hepatitis virus," ucapnya.

Ia menekankan penyakit leptospirosis sangat berbahaya jika berlanjut. Penyakit ini bisa menyebabkan berbagai komplikasi antara lain terjadi kerusakan ginjal, peradangan pankreas, liver, paru dan otak.

Menurut Prof Ari, anak-anak merupakan kelompok rentan yang mudah terkena penyakit pascabanjir tersebut. Terganggunya kesehatan akibat banjir, terangnya, dapat terjadi karena adanya gangguan pada tiga faktor penting penyakit, yaitu faktor daya tahan tubuh, lingkungan, dan agen.

Ketika terjadi pengungsian akibat banjir, ucapnya, kondisi kebersihan lingkungan, makanan dan minuman yang dikonsumsi pengungsi harus diperhatikan. Apabila tidak higienis akan berpengaruh pada daya tahan tubuh para pengungsi. Selain itu, para pengungsi tidur dengan alas yang tidak memadai. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan para pengungsi terhadap penyakit-penyakit pascabanjir.

Di samping itu, cuaca yang tidak mendukung juga dapat menurunkan daya tahan tubuh seseorang walaupun tidak terkena langsung dampak banjir. Faktor lain ialah faktor lingkungan yakni cuaca seperti hujan dan angin kencang.

"Dampak buruk ini terutama dialami oleh bayi, anak-anak, dan orang tua," tuturnya.

Lingkungan,kata Prof Ari, juga berkontribusi menyebabkan penyakit saat banjir seperti sampah bertebaran serta genangan air akan mengundang lalat dan kecoa. Hal ini berpotensi mencemari makanan dan minuman kita.

Terakhir Faktor agen pembawa penyakit yang banyak dijumpai akibat bencana banjir yakni lalat, tikus, bakteri, dan kotoran yang menyebabkan tercemarnya air bersih.

Ia menyarankan beberapa hal yang harus diantisipasi untuk mengatasi penyakit pascabanjir. Pertama,
pastikan mengonsumsi makanan dan minuman yang higienis.

"Perhatikan kedaluwarsa dari makanan yang dikonsumsi baik makanan jadi maupun makanan yang dibuat sendiri," tegasnya.

Kedua, usahakan makanan yang dikonsumsi dalam keadaan segar dan mencuci tangan menggunakan sabun atau cairan antiseptik untuk menghindari membunuh kuman yang berpotensi menyebabkan infeksi usus.

"Anak-anak harus diajari untuk selalu cuci tangan pakai sabun, orang dewasa harus memberi contoh mencuci tangan dengan baik," tegasnya.

Ketiga, kebersihan lingkungan harus selalu terjaga dan segera bersihkan lokasi pasca banjir dengan menggunakan antiseptik.

Ketika membersihkan lingkungan, ia menyarankan memakai pelindung diri bagi orang yang bertugas membersihkan kotoran khususnya lumpur pascabanjir tersebut. Pelindung diri meliputi masker, sarung tangan, dan memakai sepatu boot.

"Hindari luka yang dapat berpotensi masuknya kuman," imbaunya.

Keempat, bagi anak-anak dan orang tua, ia menyarankan untuk diberikan suplemen yang berisi multivitamin dan mineral apabila terjadi keterbatasan makanan dan minuman dengan zat gizi yang lengkap yang bisa dikonsumsi sehari-hari akibat rumah dan lingkungan terkena banjir,

Kelima, adanya stok obat-obat sederhana, obat penurun panas, obat antidiare, obat sakit kepala dan oralit.

Terakhir anak-anak harus dicegah untuk tidak bermain-main di air banjir baik karena potensi gangguan kesehatan maupun risiko terbawa arus atau tenggelam pada air banjir. (OL-2)

Baca Juga

ANTARA/ A Jarot Nugroho

Bangkitkan Semangat, Wujudkan Merdeka Belajar

👤Syarief Oebaidillah 🕔Rabu 25 November 2020, 09:40 WIB
Perjuangan para guru dalam menyampaikan pembelajaran kepada siswanya sebagai bukti bahwa Indonesia memiliki guru-guru yang tangguh meski...
ANTARA/MOCH ASIM

ASEAN Workshop Mengenai Artificial Intelligence Digelar

👤Suryani Wandari 🕔Rabu 25 November 2020, 09:20 WIB
Indoenesia telah ditunjuk oleh Asean Committee on Science, Technology and Innovation (COSTI) dalam empat bidang Lokakarya...
ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Jumlah Testing Pekan Ketiga November Dekati Standar WHO

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 25 November 2020, 09:05 WIB
Pada minggu ketiga November 2020, testing yang dilakukan sudah mencapai sekitar 239 ribu atau...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya