Kamis 02 Januari 2020, 00:16 WIB

Kok Malas ya Bongkar Koper Usai Liburan?

Fetry Wuryasti | Weekend
Kok Malas ya Bongkar Koper Usai Liburan?

Unsplash/Emanuela Picone
Banyak orang membiarkan kopernya tak terbongkar dalam waktu lama usai berlibur.

Merasa malas membongkar koper setelah pergi liburan Natal dan Tahun Baru? Anda tak sendirian. Banyak orang meraaakan hal serupa, membiarkan koper dan isinya teronggok hingga tiba saat mengosongkannya untuk perjalanan berikut.

Beberapa orang perlu waktu lama untuk membongkar koper mereka, akibat alasan tertentu, menurut para pakar, dikutip dari Huffpost.com.

Mengepak pakaian liburan membuat orang lebih bersemangat. Daftar barang  memandu mereka untuk mengetahui apa yang harus dikemas. Tetapi ketika kembali dari liburan, kegembiraan akan hilang dan tidak ada batas waktu untuk membongkar.

"Membongkar menjadi tugas biasa. Beberapa orang mungkin tidak ingin kembali ke tugas-tugas biasa merapikan dan mencuci pakaian," kata Jessica Norah, seorang blogger perjalanan dengan gelar Ph.D dalam psikologi klinis.

Jean Kim, asisten profesor klinis psikiatri di Universitas George Washington, mengatakan bahwa menunda pembongkaran cenderung sebagai upaya orang untuk mempertahankan rasa bahagia saat bepergian.

"Ini mungkin cara untuk mempertahankan rasa kebebasan yang mereka miliki saat bepergian, pada dasarnya berpura-pura mereka masih di jalan, alih-alih kembali ke kesibukan kehidupan biasa mereka," katanya.

Senada, tidak membongkar bisa menjadi bentuk penundaan yang dicampur dengan penolakan, menurut psikolog klinis Tamara McClintock Greenberg. Tidak membongkar koper sebagai cara seseorang untuk menghindari semacam duka karena kesenangan telah berakhir.

Jadi, dalam hal itu, mungkin membongkar adalah cara untuk mempertahankan perjalanan atau semacam penyangkalan bahwa liburan telah berakhir, meskipun dengan cara yang tidak membantu.

“Penundaan sering terjadi ketika kita gugup tentang sesuatu atau memiliki perasaan tidak menyenangkan tentang hal yang kita hindari. Membongkar merupakan akhir dari sesuatu yang baik yaitu liburan dan perjalanan,” kata McClintock Greenberg.

Menunda-nunda tidak selalu menandakan lelah, sibuk atau angan-angan bahwa liburan Anda berlangsung seminggu lagi. Mungkin ada beberapa kecemasan nyata di baliknya.

Norah mengutarakan gagasan bahwa ada aspek kesehatan mental untuk membongkar --atau memilih untuk tidak membongkar. Penundaan dapat menutupi masalah pribadi yang lebih dalam.

“Memang normal untuk sedikit sedih dan kecewa saat kembali dari liburan ya. Tapi, bagi sebagian orang, ini juga bisa mewakili sesuatu yang lebih besar seperti ketidakbahagiaan dengan pekerjaan, hubungan, situasi rumah, dan lainnya," pungkas Norah. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More