Rabu 01 Januari 2020, 12:48 WIB

Anak Gajah di Riau Terperangkap Jerat di Konsesi Perusahaan

Rudi Kurniawasyah | Nusantara
Anak Gajah di Riau Terperangkap Jerat di Konsesi Perusahaan

MI/Rudi K
Anak gajah yang terjerat

 

BALAI  Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, menerima laporan dari tim lapangan Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dan pihak perusahaan PT Rimba Peranap Indah (RPI) bahwa telah dijumpai anak Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang terkena jerat, kemarin.

Anak gajah tersebut masih bersama dengan rombongan induknya. Adapun lokasi dijumpai anak gajah terjerat di areal konsesi PT RPI Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono mengatakan, pihaknya langsung memerintahkan segera dilakukan tindakan medis untuk menyelamatkan anak gajah tersebut.

"Tim BBKSDA Riau yang terdiri dari Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1, dua Dokter Hewan, paramedis, Polhut, beberapa Mahout bersama personel dari Balai Taman Nasional Tesso Nilo,   Drh. Anhar Lubis dari Forum Konservasi Leuser, Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo, dan pihak perusahaan baik dari PT RPI dan PT RAPP segera turun ke lokasi," jelas Suharyono.

Dia mengungkapkan, tim gabungan kemudian melakukan monitoring terhadap rombongan gajah liar. Dipastikan salah satu anaknya berumur sekitar 2,5 tahun dijumpai sakit akibat terkena jerat kaki sebelah kiri depan. 

Sembari menunggu tim gajah jinak dari Pusat Latihan Gajah Minas (PLG) Minas menuju ke lokasi PT RPI, Tim terus memantau keberadaan rombongan satwa tambun itu dari suaranya. Selama dua hari, tim terus menyusuri rombongan gajah yang diperkirakan berjumlah 15-17 hingga ke wilayah II TNTN di Basrah.

"Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, akhirnya dengan menggunakan dua gajah jinak, Bankin dan Indah, anak gajah liar yang sakit berhasil di tembak bius di areal konsesi PT Rimba Lazuardi. Anak Gajah Liar tersebut tertidur akibat pengaruh obat bius," jelas Suharyono.

Setelah berhasil dibius, lanjutnya, tim medis segera turun dan melakukan pengobatan. Pengobatan berlangsung selama 2 jam dan pada pukul 13.55 WIB, kemarin, pengobatan telah selesai dilakukan. 

Dalam pengobatan itu, jelas Suharyono, tim medis melakukan tindakan pelepasan tali jerat pada kaki yang dilanjutkan dengan pembersihan luka, pemberian povidone iodine serta gusanex untuk mengobati myasis. Pengobatan dilakukan untuk memperbaiki kondisi tubuh anak gajah melalui pemberian cairan infus NaCl (Natrium Clorida), RL (Ringer laktat), Glukosa 5%, Aminofluid, vitamin berupa Catosal, Biodin, Vitol serta pemberian antibiotic (ceftriaxon dan  Oxytetracyclin LA), pemberian flunixin (analgesic, antiinflamasi).

Selain itu dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan terhadap kondisi satwa. Setelah selesai pengobatan anak gajah kembali disadarkan untuk dikembalikan dengan kelompoknya dengan harapan supaya anak gajah lebih nyaman dan mendapatkan antibody yang lebih bersama induknya. Saat anak gajah liar itu sadar, segera bergerak sambil bersuara memanggil induk dan rombongannya. 

"Kondisi anak gajah saat pengobatan mengalami malnutrisi, kurus, dehidrasi, luka jerat kaki kiri bagian depan dengan membawa tali jerat melingkar pada pergelangan kaki depan bagian kiri dengan kondisi kaki bengkak. Anak gajah juga mengalami nekrosa, infeksi dan myasisi. Gajah kecil itu juga mengalami anemia berat dengan kondisi mukosa yang sangat pucat," terang Suharyono.

Suharyono mengatakan, selanjutnya akan dilakukan pemantauan bersama  terhadap anak gajah pasca pengobatan. BBKSDA Riau akan memperbanyak pemasangan papan himbauan larangan pemasangan jerat dan berburu, disamping melakukan patroli bersama sapu jerat dan mitigasi konflik satwa liar.

"Mari kita serukan untuk tidak melakukan pemasangan jerat dengan alasan apapun. Kalau bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi?" Tukas Suharyono.(OL-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More