Selasa 31 Desember 2019, 17:15 WIB

Polisi Tangkap Lima Pengikut Baru MIT di Palu

M Taufan SP Bustan | Politik dan Hukum
Polisi Tangkap Lima Pengikut Baru MIT di Palu

MI/M Taufan SP Bustan
10 DPO Mujahidin Indonesia Timur POSO.

 

KEPOLISIAN Daerah (Polda) Sulawesi Tengah, menangkap lima jaringan kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang hendak bergabung bersama Ali Kalora cs di Poso. Penangkapan ini berlangsung mulai dari 26 Desember.  

Kapolda Sulteng Irjen Pol Syafril Nursal mengatakan, ke lima pengikut baru yang ditangkap itu berasal dari Poso dengan inisial FF, RS, AB,
RWD, dan GD.  

"Mereka semua ditangkap di Palu. Di mana penangkapan pertama pada 26 Desember hingga 29 Desember," terangnya kepada sejumlah jurnalis saat jumpa pers di Palu, Selasa (31/12).

Menurut Syafril, dari hasil pemeriksaan sementara diketahui kalau ke lima orang tersebut hendak bergabung bersama Ali Kalora cs di Poso.  

Selain itu mereka juga diketahui hendak melancarkan serangan pada perayaan Natal dan perayaan tahun baru di Palu.  

"Berdasarkan hasil laporan intelejen kemudian tim di lapangan kembangkan. Nah hasilnya lima orang itu ditangkap. Untuk motifnya masih
kami kembangkan," ujarnya.  

Saat ditangkap, lanjut Syafril, ke lima orang itu tidak melakukan perlawanan sehingga mempermudah petugas di lapangan.  

"Pokoknya yang ditangkap itu sudah lengkap dengan seluruh perlengkapannya. Saya tidak sebutkan ada bom rakitan atau senjata,
pokoknya mereka itu sudah lengkap," ungkapnya.  

Hingga saat ini, tambah Syafril, ke lima anggota MIT tersebut masih diperiksa oleh tim Densus 88 Antiteror demi pengembangan lebih lanjut. 

"Kami tidak berhenti disini saja, kasus ini kami terus kembangkan, karena tidak menuntut kemungkinan ada jaringan lain lagi," tegasnya.  

Sebagai kapolda baru di Sulteng, Syafril mengatakan, penyelesaian kasus terorisme di Poso akan menjadi perhatian serius.  

Menurutnya, Operasi Tinombala IV yang telah berakhir hari ini kembali diperpanjang.  

"Hari ini kami mulai perpanjangan dan tidak ada batasan sebelum semua anggota MIT itu tertangkap," sebutnya.  

Syafril mengaku, masih eksisnya kelompok MIT di Poso tentu menganggu kenyaman wilayah Poso dan Sulteng secara umum.  

Oleh karena itu, ia sudah menginstruksikan kepada seluruh jajajaran khususnya kepada Satgas Ops Tinombala untuk bertindak tegas dalam
penanganannya.  

"Kita berdoa itu bisa segera kita selesaikan, sehingga bisa memberikan rasa aman kepada masyarakat di daerah yang kita cintai ini," imbuhnya.  

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto menambahkan, jumlah personel yang diturunkan dalam perpanjangan operasi itu sekitar 600 orang yang terdiri dari 400 Polri dan 200 TNI.  

"Pasukan masih gabungan," terangnya.  

Didik menjelaskan, bahwa perpanjangan kembali Operasi Tinombala sudah sesuai instruksi Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz.  

"Jadi kapolda yang minta langsung sama kapolri, kemudian kapolri menyetujui," ujarnya.  

Dalam perpanjangan operasi itu, satgas tidak hanya fokus untuk mengejar kolompok MIT. Melainkan juga menjalankan program deradikalisasi.  

"Tetap ada program lain. Yah, salah satiny deradikalisasi untuk mereka yang sempat terpapar paham radikal di Poso," pungkasnya.  

Diketahui bahwa hingga saat ini masih ada 10 DPO MIT yang masih diburu di Poso.  

Mereka adalah Qatar alias Farel alias Anas, Askar alias Jaid alias Pak Guru, Galu alias Nae alias Mukhlas, dan Abu Alim alias Ambo.  

Selain itu, Moh Faisal alias Namnung, Rajif Gandi Sabban alias Rajes, Alvin alias Adam alias Mus'Ab, Jaka Ramadhan alias Ikrima alias Rama, Hairul alias Irul, serta Ali Kalora alias Ahmad Ali.

Qatar, Askar, Galu, dan Abu Alim diketahui berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka adalah mantan Mujahidin Indonesia Barat (MIB).  Mereka bergabung bersama MIT yang saat itu masih dipimpin Santoso alias Abu Wardah saat MIT belum lama mendeklarasikan diri pada 2012 silam.

Sedangkan Rajif merupakan pengikut MIT yang berasal dari Ambon. Rajif sendiri bergabung bersama MIT pada 2014 silam. Ia diketahui bergabung setelah mendapat ajakan MIT melalui video yang pernah diupload di YouTube 2015 silam.

Sama seperti Rajif, Alvin dan Jaka Ramadhan yang diketahui berasal dari Banten juga bergabung bersama MIT setelah menonton video ajakan MIT di YouTube.

Sementara Ali Kalora dan Hairul berasal dari Poso. Ali sendiri merupakan salah satu deklarator saat pembentukan MIT di awal bersama Santoso dan Basri alias Bagong pada 2012 silam. (OL-11)

 

Baca Juga

MI/MOHAMAD IRFAN

DPR Diminta Tak Paksakan Buka Masa Sidang

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 16:45 WIB
Trubus mengatakan tindakan itu akan mengecewakan masyarakat yang saat ini tengah bahu-membahu menyuarakan menjaga jarak...
Antara

Pemerintah Didorong Terbitkan Larangan Mudik

👤Ant 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 16:00 WIB
Jika kebijakan-kebijakan pemerintah dipatuhi dengan langkah tegas dan konkret, pandemi korona bisa diatasi dengan...
MI/MOHAMAD IRFAN

Pembukaan Masa Sidang Agar DPR Bisa Ikut Bekerja Awasi Covid-19

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 14:05 WIB
Dari sisi legislasi, DPR juga tentu perlu mengantisipasi adanya perubahan yang sangat mendesak atas undang-undang. Kalaupun ada Perppu,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya