Selasa 31 Desember 2019, 10:04 WIB

Industri Tekstil masih Prospektif

Agus Utantoro | Ekonomi
Industri Tekstil masih Prospektif

MI/Agus Utantoro
Ketua Umum Ikatsi, Suharno Rusdi

 

IKATAN Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (Ikatsi) mendesak pemerintah untuk membantu penyelamatan dan revitalisasi industri tekstil dalam negeri.

"Industri tekstik Indonesia saat ini sangat mendesak karena mengalami kemunduran yang disebabkan oleh banyak hal. Antara lain mesin-mesin yang  sudah tua, konsumsi listrik yang lebih banyak, kecepatan produksi yang lamban dan memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak," kata Ketua Umum Ikatsi, Suharno Rusdi di Yogyakarta, Senin (31/12/2019).

Menurut dia, keterpurukan industri tekstil ini diperparah lagi dengan impor tekstil yang terus membesar.

"Memang benar, tidak hanya di sektor migas saja, di tekstil juga ada pihak-pihak yang menikmati impor mengabaikan industri," lanjutnya.

Bahkan ada pejabat yang kemudian menyebut industri tekstil adalah industri yang menjelang mati atau sunset industry. Suharno membantah jika saat ini termasuk sunset industry.

"Vietnam dan Bangladesh menunjukkan bahwa industri tekstil masih sangat prospektif," terang Suharno Rusdi.
 
Ia mengemukakan, Indonesia memiliki peluang yang besar untuk berkembang baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.

"Restrukturisasi industri karena kita melihat kapasitas industri nasional sebesar 3,1 juta ton. Namun yang jalan cuma sekitar satu juta ton," katanya.

Mesin-mesin yang ada saat ini memiliki cost per unit yang tinggi. Karena itu, lanjutnya, jika kemudian memanfaatkan mesin-mesin yang berteknologi tinggi cost per unit akan  menurun dan produksi ditingkatkan.

Mesin-mesin industri tekstil nasional harus dibuat lebih efisien, ramah lingkungan dan menurunkan konsumsi listrik.

"Sudah ada teknologi pewarnaan yang ramah lingkungan," terangnya.

Ia menambahkan saat ini rata-rata pertumbuhan kinerja industri tekstil dan produk tekstil  nasional selama 10 tahun terakhir tercatat kenaikan ekspor tiga persen. Namun dari segi impor juga mengalami kenaikan 10,4 persen. Sedangkan neraca perdagangan terus tergerus dari USD6,08 miliar menjadi USD3,2 miliar.

Lebih lanjut, Suharno Rusdi mengatakan, selain revitalisasi, industri tekstil juga memerlukan proteksi di antaranya adalah penghentian impor tekstil. Menurut dia, dampak perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat menyebabkan Indonesia kebanjiran tekstil asal Tiongkok.

baca juga: Kinerja Polres Malang Semakin Membaik

"Jika impor tekstil bisa diatasi dan industri tekstil direvitalisasi maka industri tekstil dalam negeri akan maju dan bisa bersaing dengan negara-negara lain," sarannya.

Kebijakan revitalisasi industri tekstil dan produk tekstil nasional jelasnya, akan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 1 juta orang dan meningkatkan nilai ekspor, yang pada akhirnya akan membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More