Selasa 31 Desember 2019, 06:40 WIB

Ricklefs dan Pengakuan Perjuangan Ratu Kalinyamat

Lestari Moerdijat Anggota DPR RI (Dapil II Jateng: Demak, Kudus, dan Jepara); Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL) | Humaniora
Ricklefs dan Pengakuan Perjuangan Ratu Kalinyamat

MI/ROMMY PUJIANTO
Prof MC Ricklefs 1943-2019

 

BERITA duka kita dengar bersama, telah berpulang Prof MC Ricklefs pada Minggu (29/12) pukul 10.30 waktu Melbourne, Australia, di usia 76 tahun (1943-2019).

Sejarawan Indonesia ­pasti mengenal Prof MC Ricklefs (ahli sejarah Indonesia) berkewarganegaraan Australia yang terlahir di Amerika. Kajian dan objek utama penelitiannya mengenai sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan pengaruhnya pada kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Ricklefs banyak ­mengungkap aspek pergulatan masyarakat Jawa dalam menghadapi perubahan budaya pada masa 1600 hingga kini akibat masuknya pengaruh kebudayaan Islam dan Barat. Karya besarnya menjadi sumbangsih luar biasa bagi dunia sejarah Indonesia. Bahkan, buku tulisannya menjadi rujukan utama berbagai penelitian soal perkembangan Islam di Jawa dan Indonesia.

Almarhum ialah sejarawan kontemporer Australia yang memiliki otoritas dalam sejarah Jawa (dan Indonesia), terutama pada periode 1600-1900-an. Pada 2003 pemerintah Australia memberikan ­Centenary Medal kepadanya atas pelayanan kepada masyarakat Australia dan ­humaniora dalam studi Indonesia. ­Merle Ricklefs juga mendapat Anugerah Kebudayaan ­2016 kategori perorangan asing dari pemerintah RI.

Dalam kurun waktu setahun terakhir, kami, Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL) yang berkedudukan di Jepara, tengah menginisiasi kembali usaha agar Ratu Kalinyamat, tokoh perempuan pemimpin dari Jepara, mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah Indonesia. Minimnya data primer yang menjadi rujukan serta kajian akademis yang terbatas menyebabkan beberapa usaha pengajuan oleh beberapa pihak terdahulu belum berhasil.

Oleh sebab itu, sebagai inisiator yang ingin kembali mengajukan permohonan tersebut, tim ahli YDBL melakukan telaah dan kajian akademis dengan sangat cermat, penuh kehati-hatian, agar dokumen pendukung yang disusun dapat memenuhi persyaratan. Dalam konteks inilah nama MC Ricklefs terdengar berulang kali dalam diskusi-diskusi yang dilakukan tim ahli YDBL.

Salah satu buku pentingnya, The History of Modern Indonesia since 1200, memuat dan mempertegas tentang keberadaan Ratu Kalinyamat di Jepara. MC Ricklefs dalam bukunya menyebutkan keberadaan kota makmur Jepara dengan Ratu Kalinyamat sebagai penguasanya waktu itu. Pada halaman 44-45 dengan jelas tertulis ‘...Jepara merupakan kota pelabuhan penting lainnya saat itu. Pada awal 1513 penguasanya, yaitu Yunus, memimpin pasukan perang yang kabarnya terdiri dari 100 kapal dan 5.000 pasukan dari Jepara dan Palembang untuk menyerang Portugis di Malaka, meskipun dia akhirnya dikalahkan. Sekitar 1518 atau 1512, dia juga menjadi penguasa terhadap Demak. Namun, pengaruh Jepara menjadi sangat besar pada tahun-tahun berikutnya pada abad ke-16 ketika Jepara berada di bawah kekuasaan dari seorang Ratu yang bernama Ratu Kalinyamat. Pada tahun 1551 Jepara membantu Johor dalam misi penyerangannya yang tidak begitu sukses terhadap Malaka, dan kemudian pada 1574 Jepara kembali mengepung Malaka selama tiga bulan’ (terjemahan dari penulis).

Salah satu alasan penolakan terhadap ­pengajuan gelar pahlawan nasional bagi Ratu Kalinyamat pada waktu lalu (2008) ialah keberadaannya yang masih dipertanyakan. Karena itu, pernyataaan Prof Ricklefs di atas sungguh sebuah kunci penting yang jadi rujukan bagi tim ahli, dan dapat diajukan sebagai argumen kuat bahwa pengaruh Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara pada pertengahan abad ke-16 ialah nyata.

Sebagai kota pelabuhan terpenting sejak awal abad itu, pengaruh Jepara menjadi makin besar pada saat dipimpin Ratu Kali­nyamat, yang karenanya Ratu mampu membantu Johor melawan Portugis di Malaka.

Tim ahli YDBL, yang terdiri atas Prof Dr Ratno Lukito (guru besar UIN Sunan Kalijaga), Dr Irwansyah (dosen ilmu komunikasi UI), Dr Alamsyah dan Dr Chusnul Hayati (sejarawan Undip), Dr Widya Nayati (arkeolog UGM), Dr Connie Rahakundini Bakrie (pakar maritim Universitas Pertahanan Nasional), dan Bambang Sulistyanto (arkeolog/Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kemendikbud), secara khusus menjadikan tulisan MC Ricklefs sebagai sumber untuk memperkuat kajian akademis yang tengah dilakukan dan menegaskan kembali pentingnya menjadikan Ratu Kalinyamat pahlawan nasional.

Bahkan, dalam beberapa diskusi tim ahli bersepakat berencana secara khusus pada waktunya nanti mengundang dan ­menghadirkan Prof MC Ricklefs dalam seminar nasional Ratu Kalinyamat yang rencana­nya diadakan tahun depan. Tim berpandangan Prof MC Ricklefs ialah narasumber penting yang dapat memperkuat dan menunjukkan pengakuan keberadaan Ratu Kalinyamat dalam eksistensi sejarah perempuan Jawa di Indonesia. Kini, gagasan itu pupus. Seminar yang direncanakan dengan angan-angan menghadirkannya sebagai pembicara utama tidak akan mungkin dilakukan.

Selamat jalan, Prof MC Ricklefs, doa kami menyertaimu. Karya-karyamu tak akan hilang dan terus jadi rujukan inspirasi tentang pentingnya sejarah dalam mengambil hikmah kehidupan masa lalu demi membangun kehidupan masa kini dan akan datang (Al-Muhafadzah ‘ala qadimissolih wal-ahdlu bil-jadidil aslah).

Dengan mengutip bukumu, izinkan kami (Yayasan Dharma Bakti Lestari dan saya--Lestari Moerdijat, anggota DPR RI dari Dapil Jepara, Kudus, dan Demak)--bersama segenap komponen masyarakat Jepara akan terus berjuang, mengabarkan kebesaran dan kepemimpinan Ratu ­Kalinyamat, perempuan dengan pemikiran melampaui zamannya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More