Senin 30 Desember 2019, 23:20 WIB

Unjuk Rasa Warnai Malam Tahun Baru

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Unjuk Rasa Warnai Malam Tahun Baru

ISAAC LAWRENCE / AFP
Para pengunjuk rasa pro-demokrasi berkumpul di Edinburgh Place di distrik Central Hong Kong, kemarin.

 

PESTA perayaan Tahun Baru di Hong Kong bakal kembali diwarnai unjuk rasa. Aksi protes tersebut direncanakan digelar pada malam Tahun Baru (31 Desember) dan keesokan harinya.

Dalam tujuh bulan terakhir, bekas koloni Inggris yang diserahterimakan kepada Tiongkok pada 1997 itu telah digoyang demonstrasi yang diwarnai bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa. Tujuan demonstrasi  kali ini untuk mengganggu perayaan dan musim berbelanja di pusat keuangan Asia tersebut.

Menurut pemberitahuan yang beredar di media sosial, kegiatan yang disebut Suck the Eve dan Shop with you dijadwalkan dilangsungkan pada malam Tahun Baru hingga awal tahun di berbagai penjuru kota, termasuk di Distrik Lan Kwai Fong, Pelabuhan Victoria, dan pusat perbelanjaan ternama di kawasan tersebut.

Unjuk rasa pada 1 Januari itu telah mendpatkan izin dari pihak kepolisian. Domonstrasi akan dimulai dari taman besar di Teluk Causeway yang ramai dan berakhir di kawasan pusat bisnis. Demikian pemberitahuan dari organisasi penyelenggara unjuk rasa, Civil Human Rights Front.

Front ini sebelumnya mengorganisasikan pawai damai dengan jutaan lebih orang terlibat pada Juni dan mengadakan pawai massal terbaru di awal Desember 2019 yang diikuti sekitar 800.000 orang.

Protes terencana yang terbaru datang setelah terjadi bentrokan sejak malam Natal ketika polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata ke ribuan demonstran.

Meskipun jumlah peserta unjuk rasa dalam beberapa pekan terakhir terus berkurang, frekuensi demonstrasi justru meningkat. Pawai atau unjuk rasa terjadi hampir setiap hari di wilayah bekas jajahan ­Inggris tersebut.

Sebuah pawai direncanakan di distrik pusat bisnis pada Senin malam. Para pemrotes akan berkumpul untuk mengenang mereka yang telah meninggal atau terluka selama aksi protes mengepung kota.

Tangkap demonstran

Lebih dari 2.000 pengunjuk rasa terluka sejak Juni lalu menurut Otoritas rumah sakit. Meskipun demikian, tidak ada keterangan resmi berapa jumlah korban meninggal selama aksi protes berlangsung.

Seorang siswa, Chow Tsz-lok, meninggal setelah jatuh dari lantai tiga ke lantai dua sebuah bangunan saat aksi protes pada November. Ada juga beberapa kasus bunuh diri yang terkait dengan gerakan itu.

Selama akhir pekan polisi menangkap sekitar selusin demonstran dan menggunakan semprotan merica untuk membubarkan sebuah pertemuan yang bertujuan mengganggu bisnis ritel di dekat perbatasan dengan Tiongkok daratan. Lebih dari 6.000 pengunjuk rasa telah ditangkap secara total.

Pada Minggu (29/12), lebih dari 1.000 orang berkumpul di tengah ­hujan di distrik keuangan Hong Kong. Para pengunjuk rasa ­meneriakkan slogan-slogan untuk demokrasi saat berkerumun di bawah lautan payung.

Protes telah berkembang menjadi gerakan prodemokrasi yang lebih luas sejak meletus pada Juni sebagai tanggapan atas rancangan undang-undang ekstradisi yang telah ditarik. Rancangan undang-undang itu akan memungkinkan pelaku kriminal di Hong Kong diekstradisi ke daratan Tiongkok, tempat pengadilan dikendalikan oleh Partai Komunis.

Rencana aturan tersebut dilihat sebagai contoh terbaru campur ­tangan Beijing dalam kebebasan yang dijanjikan ke wilayah administrasi khusus ketika Inggris mengembalikannya ke Tiongkok pada 1997.

Tiongkok membantah klaim itu dan mengatakan mereka berkomitmen pada formula ‘satu negara, dua sistem’ yang diberlakukan pada saat Hong Kong diserahkan.

Sebaliknya pihak Beijing menuduh negara-negara asing, termasuk ­Inggris dan Amerika Serikat, sebagai pihak yang memicu kerusuhan. (Channel News Asia/AFP/A-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More