Senin 30 Desember 2019, 13:38 WIB

Ribuan Hektare Daratan di Pantura Jateng Hilang Akibat Abrasi

Akhmad Safuan | Nusantara
Ribuan Hektare Daratan di Pantura Jateng Hilang Akibat Abrasi

Antara
Abrasi di pesisir Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah kian parah. Untuk Kecamatan Sayung hingga kini sudah 420 hektare lahan tenggelam.

 

ABRASI terjadi di pantura semakin parah. Selain menggerus daratan dan merusak pantai rata-rata 100 hektare per tahun, juga merusak dan menenggelamkan perkampungan warga. Akibatnya banyak warga harus direlokasi ke wilayah lain. Abrasi menyebabkan dua desa di Kabupaten Demak, yaitu Senik dan Tambaksari hilang akibat tenggelam. Demikian juga dengan Desa Bulak, Kabupaten Jepara. Warganya harus direlokasi ke wilayah lain yang berjarak empat kilometer dari lokasi lama akibat abrasi yang menggerus permukiman mereka.

Rata-rata setiap tahun 100 hektare lahan pantai hilang akibat abrasi ini. Berbagai upaya dilakukan seperti penanaman mangrove hingga pembuatan tanggul penahan gelombang untuk menyelamatkan pantai dari gerusan gelombang air laut di sepanjang pantura Brebes-Rembang, Jawa Tengah.

"Dulu posisi pantai sekitar 100 meter dari sekarang ini. Warga terpaksa bergeser karena rumah semakin hilang," kata Alimin,57, warga Bedono,
Kecamatan Sayung, Demak.

Wakil Bupati Demak Joko Sutanto mengatakan abrasi terjadi di Kabupaten Demak cukup parah sehingga harus ada upaya penyelamatan. Hingga saat ini sudah 798 hektare lahan hilang akibat tergerus laut. Bahkan sebagian warga yang tinggal di pesisir memilih pindah ke daerah lain.

Menuruy Joko, berdasarkan data yang ada, abrasi di Demak telah menghilangkan ratusan hektare. Mulai dari Sayung hingga Wedung tercatat ratusan hektare daratan terkena abrasi. Untuk Kecamatan Sayung tercatat 420 hektare, Karangtengah 57 hektare, Bonang 48 hektare, dan Wedung seluas 250 hektare.

Kondisi serupa juga dirasakan warga di Jetuksari dan Pantaisari, Kota Pekalongan. Akibat abrasi yang terjadi, warga terpaksa pindah dan mengatasi kondisi ini pemerintah melakukan pembuatan tanggul raksasa sepanjang pantai untuk mengatasi abrasi dan rob.

"Semoga tidak lagi banjir rob. Pantai tetap terjaga dari abrasi di Pekalongan setelah selesai pembangunan tanggul ini," kata Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

baca juga: Sumut Berhasil Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara Farikha Elida secara terpisah mengatakan akibat abrasi setiap tahun rata-rata daratan hilang 100 meter. Sehingga garis pantai terus bergeser. Selain hilangnya darata juga telah merusak permukiman warga di sepanjang pantai Jepara. Berdasarkan data, ujar Farikha, pada 2017 posisi pantai sekitar 300 meter dari sekarang ini. Salah satu bukti Jalan Raya Semat-Kedung yang ketika dibangun jauh dari laut sekarang berada di pinggiran pantai.

"Warga Desa Bulak juga telah bedol desa dan kini pindah di lokasi baru berjarak empat kilometer dari sebelumnya menjadi Desa Bulak Baru," imbuhnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More