Senin 30 Desember 2019, 11:22 WIB

Gapai Asa dari Tetes Nira Kelapa

Lilik Darmawan | Nusantara
Gapai Asa dari Tetes Nira Kelapa

MI/Lilik Darmawan
Proses akhir pembuatan gula semut dengan nama merek Semedo Manise

 

SELAMA puluhan tahun sebagai petani penderes, pasangan Darto, 60, dan Karsini, 54, dari Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah, tidak pernah bermimpi menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi.

Bagaimana mungkin, pendapatan seorang penderes akan mampu membiayai kuliah. Namun, kedua pasangan itu menemukan jalan, ketika diajak oleh Akhmad Sobirin, pemuda asal desa setempat yang membangun Kelompok Tani Manggar Jaya pada 2012. Dia mengajak para petani penderes untuk berusaha mengubah nasib dengan memproduksi gula semut atau gula kristal berbahan baku nira kelapa.

Setelah bergabung dengan kelompok itu, Karsini sangat merasakan dampaknya. Sebab, harga gula meningkat hingga mencapai 50%.

''Sebelum bergabung, hasil saya adalah gula cetak dengan harga tahun 2012 mencapai Rp7 ribu. Tapi, setelah masuk kelompok, produk gula berubah dari cetak menjadi gula semut. Harganya juga menjadi Rp11 ribu per kg. Setiap harinya, saya bisa memproduksi 8 kg bahkan kalau bagus Rp10 kg setiap harinya,'' kata Karsini pada Sabtu (28/12).

Meningkatnya pendapatan itulah, yang membuat Karsini dapat menabung. Setelah berjalan dua tahun, anaknya, Lina Nursafangat, meminta restu agar diperbolehkan kuliah. Ia agak galau sebetulnya. Namun akhirnya pada 2014, Lina, diterima melalui Bidik Misi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Keguruan.

''Kalau saja belum ikut kelompok, mungkin saya tidak nekat membiayai anak untuk kuliah, apalagi harus kos di Yogyakarta. Saya memang tidak membayar biaya pendidikan, karena dia mendapat beasiswa. Namun, untuk keperluan lainnya, setiap bulan saya mengirimi uang Rp600 ribu. Kalau dihitung per hari hanya Rp20 ribu. Saya bisa menyisihkan uang dari penjualan gula semut setiap harinya. Alhamdulillah, pada Agustus 2018 lalu, Lina sudah lulus menjadi sarjana. Boleh saya katakan, ia sarjana dari nira,'' ujarnya.

Bagi Karsini, kalau tidak ada perubahan produk, maka mustahil juga dapat menguliahkan anaknya. Maka dari itu, sampai sekarang Karsini dan Darto masih tetap tekun untuk menderes. Tetes demi tetes nira pohon kelapa yang kemudian diproses menjadi gula semut itulah yang menjadi andalannya.

Ketua Kelompok Manggar Jaya Akhmad Sobirin mengatakan, setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, ia memang memilih sesuatu yang tidak populis, pulang ke desa dan membina petani.

''Saya mulai dari 2012 dengan mengumpulkan petani yang mau berjuang bersama untuk maju, salah satunya adalah Pak Darto yang kemudian dapat menguliahkan anaknya hingga menjadi sarjana. Jadi, pendampingan tidak hanya sebatas bagaimana meningkatkan pendapatan, tetapi lebih dari itu mengupayakan juga proses penyadaran, terutama dalam bidang pendidikan. Kami mendorong, anggota kelompok agar meminta anaknya untuk sekolah kalau bisa sampai kuliah,'' ungkap Sobirin yang kemudian mendapat penghargaan Satu Indonesia Awards pada 2016.

Kiprah yang dilakukan oleh Sobirin, mendapat tantangan Astra, agar menyiapkan program untuk Kampung Berseri Astra (KBA).

''Untuk menjadi KBA, maka ada empat pilar yang digarap yakni kewirausahaan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Keempatnya kini tengah kami garap. Sebagai pondasinya adalah kewirausahaan, sebagai Desa Sejahtera Astra, karena kami berangkat dari usaha kecil berbasis pertanian. Ada tiga desa yang kini masuk pendampingan yakni Desa Semedo, Petahunan dan Karangkemiri, ketiganya di Kecamatan Pekuncen,'' jelasnya.

Dimulai sejak 2018 lalu, kini sudah ada 400 petani penderes yang tergabung dalam tujuh kelompok tani dengan merek produk sama, Semedo
Manise. Jumlah anggota masing-masing kelompok antara 50-100 petani.

''Saat sekarang, produksi gula semut mencapai 20-24 ton setiap bulannya. Pemasaran dilaksanakan setiap empat hari sekali dengan berat 2,5 ton untuk diekspor ke sejumlah negara seperti Eropa dan AS. Kami bekerja sama dengan eskportir. Selain itu, pemasaran juga dilaksanakan secara daring melalui toko online seperti Sophie, Bukalapak, Tokopedia dan Lazada. Yang melalui toko daring belum banyak, tetapi sudah mulai rutin penjualannya. Tiap dua hari sekali, kami mengirim sekitar 5-10 kg ke konsumen. Memang, untuk toko daring belum optimal penggarapannya. Tapi ke depan, toko daring menjadi salah satu garapan kami,'' ujarnya.

Menurut Sobirin, Astra telah membantu sejak tahun 2018 terutama peralatan proses pembuatan gula semut untuk menjaga higienitas dan
kualitas produk.

''Paling utama adalah menjaga kulitas produk yang sehat karena semuanya berbahan baku organik dan melalui proses yang higienis.
Apalagi, produknya ekspor, sehingga mendapat kontrol yang ketat. Karena itulah, harga di tingkat petani cukup tinggi, mencapai Rp17 ribu per kg. Harga tersebut lebih tinggi sekitar Rp1.000 jika dibandingkan dengan harga di luar,'' ungkapnya.

Sobirin belum berhenti di situ, karena masih berusaha diversifikasi usaha di antaranya adalah budidaya kelinci.

''Ternak kelinci, sudah dikembangkan, tetapi baru di tingkat desa. Kami akan mempraktikkan budidaya tersebut ke kelompok sebagai bagian dari doversifikasi produk. Hal itu dilakukan, karena pada musim tertentu, produksi gula semut bisa turun. Contohnya pada musim kemarau lalu, produk merosot hingga 50%. Sehingga dibutuhkan diversifikasi produk, agar pendapatan petani tetap terjaga,'' urainya.

Upaya lain yang tengah dirintis adalah mengikutsertakan para petani penderes masuk dalam BPJS Ketenagakerjaan. Rintisan pernah dilaksanakan beberapa tahun lalu, kini akan kembali diikutsertakan pada tahun depan.

''Selama ini sebetulnya telah ada santunan, baik santunan pendidikan atau untuk yang sakit. Namun, jumlahnya terbatas. Tahun depan, kami akan mendaftarkan untuk ikut dalam BPJS Ketenagakerjaan. Apalagi, pekerjaan penderes berisiko tinggi,'' kata dia.

Sementara Kusmono, Ketua Kelompok Mugi Lestari, Semedo yang ikut serta dalam program KBA juga telah melakukan diversifikasi produk.

''Kami tidak hanya memproduksi gula semut, tetapi juga membiat pupuk organik. Saat sekarang sudah memproduksi dengan dua unit alat. Setiap 2-3 pekan, mampu memproduksi 1,5 ton pupuk organik. Untuk kelompok dijual Rp1.000 per kg, sedangkan orang luar Rp1.500 per kg. Dengan produk organik, kami ingin mendorong agar lingkungan lebih terjaga. Ada anggota kelompok yang telah mencobanya untuk memupuk sawahnya. Hasil padinya bagus, berasnya tidak cepat basi,'' kata Kusmono.

Dengan ikut serta program KBA, ada kepastian dalam harga gula kristal atau semut yang diproduksinya, yakni Rp17 ribu per kg.

''Dengan harga  yang tinggi, kelompok kami juga mampu menabung di unit simpan pinjam. Saat tabungan dibuka pada Lebaran lalu, ada tabungan Rp15 juta yang dibagikan. Bagi kami orang desa, jumlah tersebut cukup besar. Ada sekitar 30-an anggota mengambil tabungan,'' ujarnya.

Langkah Sobirin dalam mendorong petani penderes ternyata semakin dirasakan manfaatnya. Sebuah konsistensi kerja yang membawa warga
semakin mandiri. (OL-11)

 

Baca Juga

MI/Denny Susanto

Paslon Syafruddin-Alpiya Prioritaskan Petani dan Nelayan

👤Denny Susanto 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 06:36 WIB
Paslon no 1 Pilkada Tanah Bumbu, SHM-MAR akan membantu membangun innfrastruktur pertanian dan nelayan, agar kedua bidang itu lebih...
MI/Djoko Sardjono

Tiga Orang Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Klaten

👤Djoko Sardjono 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 06:26 WIB
Penambahan tiga kasus positif covid-19 itu berasal dari Kecamatan Juwiring, Polanharjo, dan Klaten...
MI/Arnoldus Dhae

Kini Giliran Massa Pendemo Sebar Video Aksi Provokasi AWK

👤Arnoldus Dhae 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 06:22 WIB
Demonstran yang bentrok di depan kantor DPD Bali kini menyebarkan video yang menunjukkan bahwa anggota DPD RI Dapil Bali Shri I Gusti...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya